Dokter Onkologi Ungkap Ketakutan yang Kerap Dirasakan Pasien Kanker

Berbagai ketakutan dirasakan pasien yang didiagnosis kanker. Namun, dokter ungkap bahwa ada harapan baru dengan perkembangan pengobatan yang makin presisi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 04 Juni 2026, 20:00 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik, Eka Widya Khorinal dari RS Kanker Dharmais Jakarta mengungkapkan rasa takut yang kerap dihadapi pasien kanker. Namun, kini harapan hidup meningkat seiring perkembangan pengobatan kanker.

Liputan6.com, Jakarta - Kanker masih menjadi momok bagi banyak orang. Rasa takut menjadi respons pertama ketika dokter memberitahu hasil pemeriksaan bahwa orang tersebut terkena kanker.

"Saya sebagai klinisi kerap berhadapan dengan pasien yang ketika mendengar kata kanker, respons pertamanya adalah takut atau fear. Takut akan banyak hal, mulai dari takut meninggal, takut umurnya pendek, takut pengobatan, hingga takut efek samping," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik, Eka Widya Khorinal yang praktik di RS Kanker Dharmais Jakarta.

Kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar. Namun, Eka mengungkapkan perkembangan teknologi medis telah membawa perubahan besar dalam penanganan kanker.

Diagnosis kini semakin akurat dan pilihan terapi semakin beragam sehingga pengobatan dapat dilakukan terhadap pasien kanker bisa lebih presisi.

Eka menjelaskan, pengobatan yang lebih presisi memungkinkan terapi lebih tepat sasaran pada sel-sel kanker. Dengan demikian, kerusakan pada sel-sel sehat yang tidak menjadi target pengobatan dapat diminimalkan.

"Pengobatan yang lebih presisi diharapkan dapat menurunkan efek samping sehingga pasien bisa lebih nyaman menjalani terapi," kata Eka saat konferensi pers kerja sama RS Kanker Dharmais dengan AstraZeneca dalam implementasi Next-Generation Sequencing (NGS) pada Kamis, 4 Juni 2026.

Pendekatan yang lebih tepat sasaran juga diharapkan dapat memberikan hasil terapi yang lebih baik. Harapan hidup pasien pun berpotensi menjadi lebih panjang dibandingkan sebelumnya.

Eka berharap perkembangan dalam diagnosis dan pengobatan kanker dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyakit ini.

Jika sebelumnya diagnosis kanker identik dengan ketakutan, kini pasien memiliki alasan untuk melihatnya dengan lebih optimistis.

"Harapannya, fear atau rasa takut yang selama ini dirasakan pasien bisa bergeser menjadi harapan," ujarnya.

Pemeriksaan Profil Molekuler NGS, Apa Itu?

Medical Director AstraZeneca Indonesia, dokter Feddy (tengah) bicara tentang NGS untuk mengetahui jenis kanker sehingga pengobatan pada pasien bisa spesifik.

Salah satu cara untuk mengetahui pengobatan yang spesifik dengan mengetahui jenis kanker. Sama-sama kanker payudara atau kanker paru tapi pengobatan antarindividu berbeda.

Untuk mengetahui pengobatan yang spesifik salah satunya lewat pemetaan biomarker genomik Next-Generation Sequencing (NGS). Pemeriksaan bisa dilakukan dengan mengambil sampel jaringan maupun darah pasien kanker.

Teknologi ini membantu menghubungkan profil molekuler kanker dengan opsi terapi yang paling relevan bagi pasien. Dengan kemampuan menganalisis berbagai gen secara simultan, NGS dapat mempercepat proses diagnosis dan menghasilkan informasi yang lebih komprehensif dibandingkan pendekatan biomarker tunggal.

“NGS sebagai alat diagnostik presisi memungkinkan pemeriksaan berbagai biomarker genomik secara komprehensif dalam satu kali pemeriksaan. Dengan informasi molekuler yang lebih lengkap, dokter dapat memahami karakteristik penyakit pasien secara lebih mendalam, mempercepat penentuan strategi pengobatan, serta mendukung keputusan terapi yang lebih personal, tepat sasaran, dan berbasis bukti bagi pasien,” kata Eka.

Implementasi NGS dalam kolaborasi ini mencakup pemeriksaan pada kanker payudara HR+/HER2-, kanker paru jenis Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) adenocarcinoma, serta Leukemia Limfositik Kronis atau Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL).

Pendekatan ini memungkinkan identifikasi hingga 45 jenis mutasi gen pada kanker payudara dan kanker paru, serta 23 jenis mutasi gen pada CLL.

“Dengan kemampuan untuk memetakan mutasi dan profil molekuler kanker secara lebih jelas, NGS membantu menerjemahkan kemajuan sains menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat, sehingga pasien dapat diarahkan pada pendekatan terapi inovatif yang sesuai dengan karakteristik penyakitnya,” jelas Medical Director AstraZeneca Indonesia, dokter Feddy di kesempatan yang sama.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya