Liputan6.com, Jakarta - Liburan keluarga bukan sekadar momen melepas penat dari rutinitas. Menghabiskan waktu bersama pasangan dan anak di tempat baru juga dapat mempererat hubungan sekaligus menciptakan kenangan indah yang bertahan lama.
Hal ini didukung oleh studi dari University of Toronto, Kanada. Menurut kepala peneliti Cindy Chan, pengalaman saat liburan mampu memunculkan respons emosional yang lebih kuat dibandingkan pemberian berupa barang.
Advertisement
“Sebuah hadiah yang penuh pengalaman memicu respons emosi ketika penerima menikmatinya, seperti rasa takut dan kagum di sebuah petualangan safari, kegembiraan menonton konser rock, atau ketenangan di spa, serta memberikan pengalaman emosional yang lebih berharga dari pada barang materi,” ujar Chan.
Manfaat berlibur bersama keluarga pun bahkan terjadi ketika liburan telah usai. Pengalaman tersebut bisa membuat anggota keluarga merasa lebih bahagia bahkan setelah masa libur berakhir.
Survei One British menemukan hampir setengah dari responden menyatakan kenangan masa kecil favorit mereka adalah liburan keluarga, dan lebih dari setengah (55%) responden menyebutkan bahwa liburan tersebut telah membuat mereka merasa senang dengan kenangan bahagia yang akan menetap bersama seumur hidup.
Mengutip dari Motherly, Kamis (2/7/26), sebuah survei yang didanai Family Holiday Association menyebutkan bahwa liburan keluarga merupakan penopang kebahagiaan.
“Dengan kenangan-kenangan ini sebagai penopang untuk membawa kita kembali pada momen yang lebih ceria, kita sering kali dapat menghadapi masalah dengan sudut pandang baru,” ujar Kepala Eksekutif Family Holiday Association, John McDonald.
Efek Liburan bagi Kecerdasan Anak
Liburan tidak hanya sarana bersenang-senang, tetapi juga berdampak pada kecerdasan anak.
“Sebuah lingkungan yang ‘diperkaya’ menawarkan pengalaman baru yang selaras jika dikombinasikan dengan interaksi sosial, fisik, kognitif dan sensorik,” ujar psikoterapis anak, Dr. Margot Sunderland.
Sunderland mengatakan aktivitas sederhana seperti membangun istana pasir bersama orang tua, misalnya, merupakan stimulus yang krusial bagi pertumbuhan lobus frontal otak anak.
“Kalau Anda memilih antara membelikan anak sebuah gadget atau mengajak mereka berlibur, pikirkan efek yang lebih menonjol pada kedekatan dan perkembangan otak,” kata Sunderland.
Mumpung sedang liburan sekolah, ajak buah hati Anda untuk bermain ke pantai atau berpetualang trekking ke bukit. Aktivitas seperti ini dapat apat mengaktifkan sistem di otak anak-anak dan orang tua. Hal tersebut memicu pelepasan zat kimia saraf seperti oksitosin dan dopamin.
“Zat-zat ini mengurangi stres serta membangkitkan rasa hangat dan tenang terhadap satu sama lain, sekaligus menghadirkan perasaan indah bahwa segalanya baik-baik saja. Dengan aktifnya sistem-sistem yang meredam stres ini, anggota keluarga dapat memulihkan kembali kondisi emosional mereka,” kata Sunderland.