Kecerdasan Sosial Anak Berawal dari Hal yang Sering Diabaikan

Psikolog jelaskan rahasia membentuk kecerdasan sosial anak lewat pengalaman sehari-hari.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 27 Juli 2026, 06:00 WIB
Psikolog Anak, Remaja, & Keluarga Ayoe Sutomo mengatakan kecerdasan sosial anak dibangun melalui pengalaman, interaksi, dan kesempatan mencoba hal baru, bukan terbentuk secara instan. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan sosial anak tidak terbentuk secara instan. Menurut Psikolog Anak, Remaja, & Keluarga, Ayoe Sutomo, kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, percaya diri, hingga menyelesaikan masalah tumbuh melalui proses yang panjang dan dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh anak sejak dini.

Ayoe mengatakan banyak orang tua masih menganggap kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi akan berkembang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Padahal, kedua kemampuan tersebut perlu distimulasi secara konsisten.

"Kepercayaan diri, kemudian kemampuan kolaborasi dan komunikasi, itu bukan satu hal yang tiba-tiba hadir begitu. Itu butuh untuk distimulasi dalam jangka panjang," kata Ayoe.

Menurutnya, kepercayaan diri anak lahir dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang mereka alami setiap hari. Sementara itu, kreativitas berkembang ketika anak merasa aman untuk mencoba hal baru tanpa takut disalahkan atau gagal.

"Anak yang percaya diri hadir dari keberhasilan-keberhasilan kecil. Sementara anak yang berani melakukan atau berkreativitas itu hadir dari rasa aman. Kalau saya mau mengeksplor sesuatu, mencoba sesuatu yang baru, oh enggak apa-apa, ini aman. Itu yang membentuk kreativitas," tambahnya.

Beri Anak Kesempatan Mencoba Banyak Hal

Ayoe menjelaskan bahwa komunikasi dan kolaborasi juga tidak muncul begitu saja. Keduanya dibangun melalui kebiasaan berinteraksi dengan banyak orang, bermain bersama teman sebaya, dan terlibat dalam berbagai aktivitas.

"Komunikasi dan kolaborasi itu hadir dari kebiasaan bertemu dengan banyak orang, komunikasi yang rutin dengan kelompok. Itu menjadi stimulus langsung bagi anak untuk memiliki kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Enggak bisa otomatis, itu perlu distimulasi," ujarnya.

Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi berbagai bidang, baik seni, olahraga, maupun aktivitas sosial. Setiap pengalaman baru akan membantu anak menemukan potensi yang dimiliki sekaligus membangun rasa percaya diri.

"Semakin banyak bidang yang dibuka, itu seperti membuka pintu bagi anak untuk tahu bahwa ternyata dia mampu melakukan banyak hal. Di situlah sebetulnya kepercayaan diri sedang dibentuk," kata Ayoe.

Selain meningkatkan rasa percaya diri, pengalaman yang beragam juga membantu anak mengembangkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Setiap aktivitas memberikan tantangan yang berbeda sehingga otak anak terbiasa berpikir lebih fleksibel dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.

 

Pengalaman Sosial Jadi Bekal Masa Depan

Psikolog Anak, Remaja, & Keluarga Ayoe Sutomo mengatakan kecerdasan sosial anak dibangun melalui pengalaman, interaksi, dan kesempatan mencoba hal baru, bukan terbentuk secara instan. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Ayoe, menambahkan, semakin sering anak bertemu orang baru, bermain di lingkungan yang berbeda, dan berinteraksi dalam berbagai situasi, semakin terasah pula kemampuan komunikasi dan kolaborasinya.

Pada akhirnya, pengalaman-pengalaman tersebut akan membentuk kecerdasan sosial yang dibutuhkan anak saat tumbuh dewasa.

"Potensi itu ada pada setiap anak. Tinggal bagaimana kita memberikan kesempatan sebanyak mungkin agar potensi tersebut terstimulasi dengan baik. Berikan anak kesempatan bertemu banyak pengalaman baru agar kecerdasan sosialnya ikut berkembang," pungkas Ayoe.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya