Liputan6.com, Jakarta - Cara melakukan bantuan hidup dasar pada orang pingsan penting dipahami masyarakat karena dapat menyelamatkan nyawa saat terjadi kondisi darurat. Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan pertolongan pertama yang diberikan ketika seseorang mengalami kehilangan kesadaran atau henti napas. Tindakan ini harus dilakukan sesegera mungkin untuk mempertahankan fungsi vital korban hingga mendapat penanganan dari tenaga medis.
Wakil Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Muhadi, Sp.PD, K-Kv, FINASIM, M.Epid, menjelaskan bahwa BHD diberikan kepada orang yang mengalami kondisi tertentu, misalnya ditemukan tiba-tiba tidak sadar atau kehilangan kesadaran setelah sebelumnya masih sadar.
Advertisement
Menurut Muhadi, cara melakukan bantuan hidup dasar pada orang pingsan diawali dengan memastikan apakah korban benar-benar tidak sadar dan tidak bernapas. Kondisi ini dapat dikenali dengan melihat apakah dada korban masih bergerak saat bernapas.
"Kita secara mudah melihat orang bernapas itu kan dengan melihat gerakan dada. Ketika melihat seseorang tidak sadar, gerakan dadanya tidak ada, oh ini berarti tidak ada napas, berhenti napasnya," kata Muhadi, dikutip dari Antara, Minggu (26/7/2026).
Muhadi menegaskan bahwa BHD berbeda dengan pertolongan pertama pada kecelakaan. Pasalnya, tidak semua korban kecelakaan mengalami penurunan kesadaran karena sebagian hanya mengalami luka.
"Karena orang kecelakaan belum tentu enggak sadar gitu, dia bisa saja ada luka dan segala macam. Nah itu ada topik yang berbeda, kira-kira begitu," ujarnya.
Dalam pelatihan BHD yang diselenggarakan Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED) PAPDI bersama anggota komunitas SEHATARA di Jakarta, dokter spesialis penyakit dalam dr. Anastasia Asylia Dinakrisma, Sp.PD, K-Ger, FINASIM, menjelaskan bahwa henti jantung dapat dipicu berbagai kondisi, mulai dari serangan jantung, penyakit tertentu, hingga gangguan pernapasan.
Saat jantung berhenti berdetak, darah tidak lagi mengalir ke otak sehingga korban akan kehilangan kesadaran. Karena itu, kompresi dada atau pompa jantung harus segera dilakukan untuk menjaga aliran darah ke otak hingga tenaga medis datang memberikan penanganan lanjutan.
"Karena cuma ini, empat menit sudah mulai rusak, jadi sudah mulai dia tidak ada aliran darah sama sekali. Jadi penting sekali kita melakukan bantuan hidup dasar. Kita harus tolong orang, supaya otaknya tidak mati," kata Anastasia.
Cara Melakukan Bantuan Hidup Dasar pada Orang Pingsan
Anastasia, menjelaskan, cara melakukan bantuan hidup dasar pada orang pingsan dimulai dengan memastikan kondisi sekitar aman bagi korban maupun penolong.
Misalnya, apabila korban berada di lokasi kebakaran, korban harus dipindahkan terlebih dahulu ke tempat yang aman. Penolong tidak boleh memberikan pertolongan di lokasi yang masih berbahaya karena dapat membahayakan diri sendiri.
Setelah itu, periksa respons korban dengan menepuk bahu atau memberikan rangsangan nyeri ringan pada tulang dada. Jika korban masih merespons, seperti bergerak atau mengerang, maka BHD tidak perlu dilakukan dan penolong cukup meminta bantuan medis.
"Kalau dia tidak respons berarti betul tidak sadar. Tapi kalau kita tekan-tekan berarti dia masih sadar, panggil saja bantuan. Jadi kita tidak perlu BHD kalau masih ada respons mengerang atau gerak," tambahnya.
Selanjutnya, mintalah orang lain menghubungi nomor darurat 119 sambil menyampaikan informasi mengenai kondisi korban.
Langkah berikutnya dalam cara melakukan bantuan hidup dasar pada orang pingsan adalah memeriksa apakah korban masih bernapas. Caranya dengan menempelkan telinga di dekat mulut korban sambil memperhatikan apakah dada naik turun. Pemeriksaan dilakukan selama maksimal 10 detik.
Apabila dalam waktu tersebut tidak terlihat gerakan dada maupun hembusan napas, korban diduga mengalami henti jantung sehingga kompresi dada atau resusitasi jantung perlu segera dilakukan.
"Kalau 10 detik tidak ada gerakan dada, tidak dirasakan udara di pipi ketika menempelkan telinga pada korban, berarti kemungkinan dia berhenti jantung. Langsung kita melakukan langkah berikutnya, yaitu resusitasi jantung," pungkas Anastasia.
Sebagai informasi, Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED) PAPDI menyelenggarakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar bagi masyarakat, termasuk komunitas teman Tuli. Program ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan, khususnya henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest).