Banyak Gangguan Anak Ternyata Bukan Berasal dari Faktor Keturunan

Dokter ungkap banyak gangguan anak ternyata bukan karena keturunan, lalu apa penyebab utamanya?

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 27 Juli 2026, 07:00 WIB
Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa banyak gangguan pada anak ternyata lebih dipengaruhi perilaku, pola hidup, dan lingkungan daripada faktor keturunan. (Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tua masih menganggap gangguan kesehatan pada anak, seperti gangguan penglihatan, gangguan perilaku, hingga penurunan kemampuan kognitif, terutama disebabkan oleh faktor keturunan. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Direktur Eksekutif Indonesia Health Development Center (IHDC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai gangguan pada anak justru lebih banyak dipengaruhi oleh perilaku, pola hidup, dan lingkungan dibandingkan faktor genetik.

"Semakin banyak data menunjukkan bahwa banyak kondisi gangguan kesehatan anak ternyata tidak semuanya ditentukan oleh faktor genetik atau keturunan. Justru semakin banyak bukti yang menunjukkan penyebabnya adalah perilaku," kata Ray.

Gangguan Refraksi Tak Selalu Dipengaruhi Genetik

Menurut Ray, terdapat empat faktor utama yang berkontribusi terhadap silent cognitive burden, yaitu gangguan refraksi yang tidak terkoreksi, kekurangan zat besi, defisiensi protein, serta gangguan perilaku. Kabar baiknya, keempat faktor tersebut dapat dicegah maupun diintervensi sejak dini.

Dia mencontohkan gangguan refraksi pada anak. Berdasarkan studi IHDC bersama PERDAMI, kasus gangguan refraksi meningkat signifikan selama pandemi COVID-19 akibat pembelajaran jarak jauh yang membuat anak lebih lama menatap layar gawai.

Menariknya, peningkatan kasus tersebut juga terjadi pada anak-anak yang tidak memiliki riwayat gangguan penglihatan dalam keluarganya.

"Selama pandemi terjadi peningkatan signifikan gangguan refraksi pada anak akibat proses belajar jarak jauh. Meskipun tidak memiliki riwayat keturunan, anak tetap bisa mengalami gangguan karena terlalu sering melihat dekat dan jarang melihat jauh," ujarnya.

Selain kesehatan mata, Ray menyoroti pentingnya asupan gizi. Kekurangan protein dan zat besi dapat menghambat pembentukan jaringan saraf di otak sehingga berpotensi memengaruhi kemampuan belajar dan perkembangan kognitif anak.

Perilaku Lebih Berpengaruh daripada Keturunan

Ray juga menjelaskan bahwa konsep epigenetik menunjukkan lingkungan dan perilaku sehari-hari dapat memengaruhi munculnya berbagai penyakit, meski penyakit tersebut tidak diwariskan secara genetik.

Dia mengutip pernyataan ilmuwan David Barker yang mengatakan, "DNA is no longer our destiny." Menurut Ray, ungkapan tersebut menegaskan bahwa genetik bukan satu-satunya penentu kesehatan seseorang.

"Empat determinan yang menyebabkan silent cognitive burden itu kebanyakan bukan karena faktor keturunan. Lebih banyak dipengaruhi oleh perilaku, pola hidup yang tidak sehat, serta akses terhadap pengetahuan dan fasilitas kesehatan," ujarnya.

Oleh sebab itu, Ray menilai upaya pencegahan perlu dimulai dari rumah. Orang tua didorong untuk meningkatkan literasi gizi, menerapkan pola hidup sehat, membatasi penggunaan gawai secara bijak, serta membangun pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak.

Menurutnya, pendampingan orang tua juga tidak seharusnya berhenti ketika anak memasuki usia remaja. Di tengah derasnya arus informasi digital, anak tetap membutuhkan bimbingan agar tumbuh dengan kondisi fisik, mental, dan kemampuan kognitif yang optimal.

Dengan memperbaiki pola makan, menjaga kesehatan mata, membentuk perilaku sehat, dan melakukan deteksi dini terhadap berbagai gangguan kesehatan, risiko silent cognitive burden pada anak dapat ditekan sehingga mereka memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya