Liputan6.com, Jakarta - Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Primatia Yogi Wulandari menyarankan orangtua perlu berperan sebagai digital mentor, yakni mendampingi anak menggunakan teknologi secara sehat dan aman. Bukan sekadar membatasi waktu bermain gawai.
Pendampingan perlu dilakukan agar anak mampu memahami manfaat sekaligus risiko dunia digital, mulai dari kecanduan gawai hingga perundungan siber (cyberbullying).
Advertisement
"Pendekatan yang paling sesuai adalah ketika orangtua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police, guna mengajarkan penggunaan teknologi secara sehat dan aman," ujarnya.
Selain perkembangan teknologi, Primatia mengatakan tantangan pengasuhan juga bergeser seiring hadirnya generasi Alpha. Menurutnya, tugas orangtua saat ini bukan sekadar membuat anak patuh, melainkan membangun hubungan yang hangat dan responsif.
Ia menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang penuh kehangatan, tetapi tetap memiliki batasan yang jelas, lebih efektif dalam membantu anak mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, serta menyelesaikan masalah.
"Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, sekaligus memiliki batasan yang jelas lebih efektif dalam membentuk pengelolaan emosi, rasa percaya diri, dan kemampuan anak menyelesaikan masalah," kata Primatia mengutip laman Unair.
Untuk mewujudkan hal tersebut, orangtua perlu membangun komunikasi dua arah yang konsisten. Anak, lanjutnya, akan lebih mudah terbuka apabila merasa didengar, dihargai, dan tidak dihakimi.
Mendengarkan Anak Secara Aktif
Primatia menyarankan orang tua menerapkan active listening, yaitu mendengarkan anak hingga selesai sebelum memberikan nasihat, sekaligus memvalidasi emosi yang mereka rasakan.
Menurutnya, memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat tidak akan mengurangi kewibawaan orang tua, justru memperkuat kedekatan emosional sehingga anak lebih nyaman mencari bantuan ketika menghadapi masalah.
Di sisi lain, Primatia juga mengingatkan orangtua untuk bijak menggunakan media sosial, terutama terkait fenomena sharenting atau membagikan foto maupun video anak di internet.
"Sebelum mengunggah konten tentang anak, orangtua sebaiknya mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi, dan jejak digital yang akan tetap ada hingga mereka dewasa," tuturnya.
Ia menegaskan bahwa investasi terbesar bagi anak bukanlah fasilitas yang mahal, melainkan kehadiran orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
"Anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna, melainkan orangtua yang hadir. Luangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka, sebab keluarga yang aman adalah kunci membesarkan generasi cerdas dan sehat secara mental," pungkasnya.