Begini Cara Aman Mulai Lari bagi Penderita Diabetes dan Jantung

Ingin mulai lari meski punya diabetes atau penyakit jantung? Ini panduan agar olahraga tetap aman.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 13 Agustus 2026, 16:48 WIB
Pelatih kebugaran Coach Valast Ahmad mengingatkan penderita diabetes dan penyakit jantung untuk memulai olahraga lari secara bertahap serta memperhatikan kondisi tubuh dan denyut jantung. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Tren olahraga lari dan maraton yang semakin populer membuat semakin banyak orang tertarik memulai olahraga ini. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes atau penyakit jantung, muncul kekhawatiran apakah lari tetap aman dilakukan.

Pelatih kebugaran Coach Valast Ahmad mengatakan bahwa pasien diabetes maupun orang dengan riwayat penyakit jantung tetap dapat berolahraga lari, selama dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kondisi masing-masing.

Valast mengungkapkan bahwa dirinya memiliki sejumlah anak latih dengan riwayat diabetes yang mulai berolahraga dari aktivitas sederhana seperti berjalan kaki. Menurutnya, aktivitas fisik secara bertahap justru dapat membantu memperbaiki kondisi tubuh.

"Saya punya beberapa murid yang pertama itu dia diabetes. Kalau dia itu justru turun kadar diabetesnya karena badannya, gulanya mulai terbakar. Akhirnya dengan jalan saja, bisa berkurang, sampai dia sehat," ujar Valast pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Pasien Diabetes Bisa Mulai dari Jalan Kaki

Valast menekankan bahwa pasien diabetes yang ingin mulai berolahraga tidak harus langsung berlari. Aktivitas fisik dapat dimulai dari intensitas ringan, kemudian ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.

Pendekatan tersebut juga dapat membantu tubuh beradaptasi sebelum seseorang mulai melakukan olahraga lari dengan intensitas yang lebih tinggi.

Sementara itu, bagi orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, olahraga tetap dapat dilakukan. Namun, Valast mengingatkan pentingnya berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan jenis, durasi, dan intensitas latihan yang sesuai.

"Nah buat yang jantung, saya rasa justru semua dokter bilang kita harus latihan," kata Valast.

Meski demikian, orang yang pernah menjalani prosedur medis seperti pemasangan ring atau operasi bypass tetap harus mendapatkan arahan dokter sebelum menentukan aktivitas olahraga.

"Memang mungkin harus tanya ke dokter. Contoh, yang paling aman itu latihan berapa jam? karena pasti beda-beda, tergantung saran dokter," tambahnya.

Perhatikan Denyut Jantung Saat Lari

Selain memulai latihan secara bertahap, pasien diabetes atau penyakit jantung yang ingin berlari juga perlu memperhatikan denyut jantung atau heart rate, terutama ketika menjalani latihan jarak jauh (long run).

Valast menyarankan pelari dengan kondisi medis tertentu menjaga denyut jantung berada di zona 3, yang menurutnya berada pada kisaran 70–80 persen dari denyut jantung maksimal.

Dia juga mengingatkan agar denyut jantung tidak berada pada level maksimal dalam waktu lama.

"Jangan sampai heart rate-nya itu sampai maksimal dalam waktu yang lama, itu bahaya. Karena jadinya pompa darah dan oksigen ke otak makin lama makin nggak nyampe, itulah tiba-tiba menjadi stroke," pungkasnya.

Oleh sebab itu, bagi pasien diabetes dan penyakit jantung yang ingin mulai lari, penting untuk tidak terburu-buru mengejar jarak atau kecepatan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya