Patah Tulang, Anak Korban Gempa NTT Jalani Operasi di RS Lapangan

Operasi pemasangan pen pada anak 11 tahun korban gempa NTT dilakukan di dalam tenda RS Lapangan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 21 Agustus 2026, 11:00 WIB
Dokter spesialis ortopedi, Basuki bersama tim melakukan operasi patah tulang di RS Lapangan Ruteng pada Rabu kemarin. (Foto: Dok Kemenkes)

Liputan6.com, Manggarai - Anak laki-laki 11 tahun menjadi salah satu korban gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Gempa dengan kekuatan besar itu membuat banyak bangunan roboh bahkan menimpanya sehingga ia mengalami patah tulang paha dan harus menjalani operasi.

Operasi pemasangan pen pada tulang paha akhirnya dilakukan di kamar operasi Rumah Sakit (RS) Lapangan Ruteng yang berdiri di atas Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai.

Tindakan operasi dipimpin oleh dokter spesialis ortopedi, M. Hardian Basuki, dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya bersama tim pada Rabu (19/8/2026).

“Hari ini kami baru selesai operasi pemasangan pen di paha seorang anak usia 11 tahun yang patah akibat gempa di kamar operasi Rumah Sakit Lapangan Ruteng,” tutur Basuki sesaat usai selesai operasi dalam video yang dibagikan Kemenkes ditulis Jumat (21/8/2026),

Basuki mengatakan operasi berjalan lancar meski dilakukan di rumah sakit darurat.

"Fasilitas ini sangat membantu untuk pelayanan kesehatan terutama operasi keetika rumah sakit atau fasilitas Kesehatan lain terdampak gempa. Semoga fasilitas ini dapat diperbanyak sehingga bisa menolong lebih banyak orang," tutur Basuki.

Tak ketinggalan Basuki juga berharap anak tersebut segera pulih dan dapat kembali menjalankan aktivitas yang disukainya.

“Semoga adik ini nanti bisa sehat kembali dan bisa menjadi pelari ulung karena dia adalah seorang anak yang suka berlari,” pungkasnya.

Operasi pemasang pen pada paha anak 11 tahun ini merupakan tindakan yang dilakukan di hari pertama RS Lapangan Ruteng beroperasi.

 

 

 

RS Lapangan Ruteng Dibangun 30 Jam

RS Lapangan di Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT. (Foto: Dok Kemenkes)

RS Lapangan Ruteng dibangun oleh tim Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes. Butuh waktu 30 jam untuk bisa mendirikan lima tenda yang salah satu tenda diantaranya digunakan untuk ruang operasi itu.

“Kami membangun rumah sakit lapangan itu selama kurang lebih hampir 30 jam dini hari dengan kondisi cuaca yang dingin dan dengan 13 personil yang membangun rumah sakit lapangan ini,” ujar Ketua Tim EMT Komposit Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI Ruteng Kabupaten Manggarai, dr. Franky Rumondor.

Franky mengapresiasi kerja keras seluruh personel yang terlibat sehingga RS Lapangan dapat segera digunakan untuk mendukung pelayanan medis bagi masyarakat terdampak.

“Dan 13 orang ini adalah orang-orang yang hebat,” katanya.

RS Lapangan Ruteng menjadi salah satu fasilitas yang disiapkan untuk mendukung pelayanan kesehatan setelah gempa di NTT.

Selain di Ruteng, Kemenkes juga membangun RS Lapangan di Aeramo, Kabupaten Nagekeo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya