AI Mulai Mengubah Cara Obat Ditemukan, Apa Dampaknya bagi Pasien?

AI mulai digunakan dalam berbagai tahap pengembangan obat. Apa manfaatnya bagi pasien?

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 21 Agustus 2026, 14:46 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dalam industri kesehatan. Teknologi ini mulai dimanfaatkan untuk membantu peneliti menemukan dan mengembangkan obat dengan lebih cepat dan efisien. (Unsplash/Igor Omilaev).

Liputan6.com, Jakarta - Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang besar untuk mengubah layanan kesehatan, termasuk cara obat ditemukan dan dikembangkan. Teknologi ini dapat membantu mengolah data dalam jumlah besar, meningkatkan efisiensi, hingga mendukung peneliti dalam mencari terapi baru.

Dengan penerapan dan kebijakan yang tepat, AI berpotensi membantu meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap teknologi, pengobatan, dan obat-obatan baru.

Salah satu perkembangan tersebut terlihat dari kemitraan strategis Novo Nordisk dan Amazon Web Services (AWS). Keduanya bekerja sama memanfaatkan AI dan teknologi komputasi awan guna mempercepat penemuan obat serta meningkatkan efisiensi operasional.

Presiden dan CEO Novo Nordisk, Mike Doustdar, mengatakan AI diharapkan menjadi salah satu penggerak inovasi dalam penelitian dan pengembangan obat. "Menjalin kemitraan dengan AWS merupakan langkah untuk menjadikan AI sebagai penggerak inovasi di Novo Nordisk," ujar Doustdar seperti dikutip dari Antara pada Jumat, 21 Agustus 2026.

AI Percepat Penemuan Obat

Melalui kemitraan tersebut, Novo Nordisk dan AWS membentuk hub inovasi AI di London, Inggris Raya. Hub ini mempertemukan insinyur, spesialis AI, ilmuwan terapan AWS, serta tim penelitian dan pengembangan Novo Nordisk.

Teknologi AI akan digunakan untuk mengolah berbagai data dan menghasilkan wawasan yang dapat membantu mempercepat proses penemuan obat. Salah satu targetnya adalah mempersingkat waktu sejak identifikasi target terapeutik hingga pemberian dosis pertama kepada manusia.

AI juga dapat membantu menghubungkan berbagai jenis data, seperti data genomik, pencitraan, dan data klinis. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi target terapi, merancang obat baru, hingga mendukung perencanaan uji klinis.

Dalam kerja sama ini, Novo Nordisk menetapkan AWS sebagai penyedia layanan komputasi awan pilihan sekaligus mitra strategis AI. Sejumlah teknologi, termasuk Amazon Bio Discovery dan Amazon Bedrock, akan dimanfaatkan untuk mendukung penelitian dan pengembangan terapi.

Tak Hanya untuk Menemukan Obat

Penggunaan AI dalam industri farmasi sebenarnya mencakup perjalanan obat yang jauh lebih panjang. Teknologi ini dapat dimanfaatkan mulai dari penemuan dan pengembangan obat, farmakokinetik, uji klinis, produksi, persetujuan, hingga pemantauan keamanan obat atau farmakovigilans.

Pada tahap penemuan obat, misalnya, AI dapat membantu mengidentifikasi target terapi dan mengoptimalkan desain obat. Dalam pengembangan, teknologi tersebut dapat membantu menyempurnakan formulasi serta mendukung pengembangan terapi yang lebih personal.

AI juga berpotensi membantu menentukan dosis obat yang optimal melalui pemodelan prediktif. Sementara dalam uji klinis, teknologi ini dapat digunakan untuk mengelompokkan pasien, melakukan simulasi, hingga mengembangkan konsep digital twins.

Di bidang manufaktur, AI dapat membantu mengotomatisasi proses dan meningkatkan pengendalian kualitas. Teknologi ini juga dapat mendukung proses persetujuan obat melalui pengelolaan dokumen secara digital serta membantu memantau keamanan obat dengan menganalisis real-world data, seperti dikutip dari health.ec.europa.eu.

 

Apa Dampaknya bagi Pasien?

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI) dalam industri kesehatan. Teknologi ini mulai dimanfaatkan untuk membantu peneliti menemukan dan mengembangkan obat dengan lebih cepat dan efisien. (Credit: Jackson Sophat/Unsplash)

Bagi pasien, perkembangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemajuan teknologi. Manfaat akhirnya adalah tersedianya obat dan terapi yang aman, efektif, dan dapat diakses lebih cepat.

Penggunaan AI juga berpotensi membantu sistem kesehatan mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien.

Melalui pemodelan prediktif, misalnya, AI dapat memperkirakan jumlah pasien yang akan datang ke rumah sakit sehingga penggunaan tempat tidur, tenaga kesehatan, dan peralatan medis dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Dalam industri farmasi, penerapan AI juga berpotensi memangkas waktu dan biaya dengan menyederhanakan penelitian, mengoptimalkan berbagai proses, serta mengurangi risiko kegagalan dalam pengembangan obat.

Meski demikian, AI tetap menjadi alat pendukung dan bukan pengganti peran ilmuwan, dokter, maupun tenaga kesehatan. Keputusan terkait keamanan, efektivitas, dan penggunaan obat tetap membutuhkan penelitian serta penilaian manusia.

CEO AWS, Matt Garman menekankan bahwa tujuan akhir pemanfaatan teknologi tersebut adalah memberikan manfaat bagi pasien.

"Setiap bagian dari pekerjaan kami bersama Novo Nordisk pada akhirnya kembali pada satu hal: menghadirkan obat yang tepat kepada pasien dengan lebih cepat," ujar Garman.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan AI, perubahan dalam layanan kesehatan kemungkinan tidak hanya terjadi di laboratorium.

Dari penemuan obat hingga pemantauan keamanan terapi, AI mulai menjadi bagian dari berbagai tahapan yang pada akhirnya menentukan seberapa cepat inovasi kesehatan dapat sampai kepada masyarakat.

Bagi pasien, perkembangan ini membawa satu harapan utama, yakni obat yang dibutuhkan dapat ditemukan, dikembangkan, dan tersedia dengan lebih cepat tanpa mengabaikan keamanan serta kualitasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya