Sederet Dampak Kabut Asap Kebakaran Hutan, Tak Cuma ISPA

Dampak kronis kabut asap akibat kebakaran hutan pada kesehatan bisa meningkatkan risiko penyakit jantung hingga kanker.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 21 Agustus 2026, 15:00 WIB
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas di Sumatera Selatan (Sumsel). (AL ZULKIFLI/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kabut asap yang dihasilkan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan lain. 

Pengamat kesehatan yang juga dosen di Sekolah Pascasarjana YARSI, Dicky Budiman mengatakan dampak kesehatan akibat paparan kabut asap dapat dibedakan menjadi risiko akut dan risiko sub-akut hingga kronis.

"Nah, risiko akut yang hitungannya jam minggu. Itu pertama tentu infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini terbukti nyata, ini sudah bukan proyeksi lagi," tutur Dicky.

Salah satunya ditandai dengan peningkatan kasus ISPA sebesar 5 persen di Pontianak. 

Risiko akut dapat muncul dalam hitungan jam hingga sekitar satu minggu, sedangkan dampak jangka panjang dapat terjadi akibat paparan berulang selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Berikut risiko kesehatan yang bisa muncul akibat kebakaran hutan:

1. PPOK

Selain ISPA, Dicky mengatakan partikel halus dari kabut asap dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk asma maupun menyebabkan sesak pada penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

2. Iritasi Mata, Tenggorokan, dan Kulit 

Paparan kabut asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, tenggorokan, dan kulit. Menurut Dicky, kondisi tersebut dapat terjadi akibat kontak langsung dengan partikel dan gas iritan dari pembakaran biomassa maupun gambut.

Beberapa zat yang dapat dihasilkan dari proses pembakaran tersebut antara lain sulfur dioksida (SO2), formaldehida, dan akrolein.

3. Sakit Kepala hingga Kelelahan

Dampak lainnya berupa sakit kepala, mual, dan kelelahan. Dicky mengatakan keluhan tersebut dapat muncul akibat paparan karbon monoksida (CO) dalam konsentrasi tinggi, terutama bagi masyarakat yang berada dekat dengan titik api.

4. Risiko Kecelakaan akibat Jarak Pandang

Kabut asap yang mengurangi jarak pandang juga tidak hanya berdampak pada kesehatan secara langsung. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

Dicky mengatakan risiko ini kerap diabaikan. Padahal, kecelakaan yang terjadi akibat buruknya jarak pandang dapat berujung pada cedera serius hingga kematian.

5. Stres dan Gangguan Tidur

Kabut asap juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat yang terdampak.

"Kenapa ada stres? Karena ketidakpastian berapa lama nih bencana seperti ini akan berlangsung," tutur Dicky. 

Situasi menjadi semakin berat bagi masyarakat yang harus menjalani evakuasi berulang akibat kebakaran.

Selain itu, masyarakat terdampak kabut asap kebakaran hutan juga rentan mengalami gangguan tidur. 

"Gimana mau tidur tenang, menikmati ya, karena udaranya penuh polusi ya, tidak segar, susah bernafas, lega," tutur Dicky.

Risiko Sub-akut dan Kronis

Kabut asap akibat kebakaran hutan memunculkan risiko subakut dan kronis yang dampaknya bisa hitungan bulan bahkan tahun. Berikut masalah kesehatan yang muncul:

1. Fungsi Paru Bisa Menurun

Jika paparan terjadi berulang selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, dampaknya dapat menjadi lebih serius.

Dicky mengatakan paparan jangka panjang dapat berhubungan dengan penurunan fungsi paru, terutama pada anak-anak.

2. Risiko Penyakit Jantung Meningkat

 

Partikel PM2.5 juga dapat masuk ke dalam aliran darah dan memicu peradangan sistemik seperti aritmia dan infark jantung. 

3. Potensi Kanker Paru

Paparan kabut asap secara kronis dan berulang setiap tahun juga perlu menjadi perhatian karena memiliki efek kumulatif.

Dicky menyebut kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kanker paru pada paparan jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya