Tiga 'Bahan Bakar' Pemicu Kanker Payudara Selain Riwayat Keluarga

Kanker payudara tak selalu terkait genetik. Kenali tiga faktor yang bisa meningkatkan risikonya.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 30 Agustus 2026, 15:00 WIB
Dokter spesialis bedah payudara dan onkoplastik dari Solis Breast Care Centre, Singapura, Lim Sue Zann, menjelaskan peran hormon, stres, dan obesitas terhadap risiko kanker payudara. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian orang mengira kanker payudara mengintai mereka yang memiliki riwayat penyakit serupa dalam keluarga. Padahal, mayoritas pasien kanker payudara tidak memiliki riwayat genetik atau keluarga dengan penyakit tersebut. Faktor lain, termasuk hormon, juga dapat berperan dalam perkembangan kanker payudara.

Dalam diskusi media bertajuk 'Diagnosis Tepat, Langkah Lebih Pasti: Memahami Pentingnya Akurasi dalam Kanker Payudara', dokter spesialis bedah payudara dan onkoplastik dari Solis Breast Care Centre, Singapura, Lim Sue Zann, menjelaskan, selain faktor genetik yang tidak dapat diubah, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara, termasuk perubahan hormon, stres, dan obesitas.

Dalam praktik medisnya di Singapura, Lim cukup sering menangani pasien berusia relatif muda yang terdiagnosis kanker payudara. Menurutnya, faktor hormon wanita, terutama estrogen, dapat berperan dalam perkembangan kanker pada sebagian pasien muda.

Kanker payudara jenis hormon positif memiliki reseptor yang dapat menangkap hormon alami di dalam tubuh. "Kebanyakan dari mereka adalah hormon positif. Kenapa begitu? Karena mereka memiliki banyak hormon wanita (estrogen), dan hormon inilah yang memicu kanker hingga membuatnya tumbuh," ujar Lim di Jakarta pada Jumat (28/8/2026).

Pada kanker payudara yang hormon reseptor-positif, keberadaan estrogen dapat merangsang pertumbuhan sel kanker. Karena itu, kondisi hormonal menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dokter dalam menentukan penanganan pasien.

Stres dan Obesitas Picu Peradangan

Selain hormon, Lim menyoroti inflamasi atau peradangan kronis sebagai salah satu kondisi yang perlu diperhatikan. Menurutnya, stres yang tidak terkelola dan obesitas dapat memicu peradangan di dalam tubuh. Kondisi tersebut, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang, dapat menciptakan lingkungan yang tidak baik bagi kesehatan sel.

"Kenapa stres sebenarnya menyebabkan kanker? Karena menyebabkan inflamasi. Jadi inflamasi adalah proses yang sangat penting dalam menyebabkan kanker. Obesitas juga menyebabkan inflamasi. Stres juga menyebabkan inflamasi," ujar Lim.

Dia juga menjelaskan bahwa obesitas berkaitan dengan terjadinya inflamasi di dalam tubuh. "Karena kita jumpa ada orang yang lebih obese, dia ada inflamasi dalam badannya. So, inflamasi ini yang (bisa) menyebabkan breast cancer," tambahnya.

Kelebihan jaringan lemak dapat memengaruhi proses metabolisme dan menghasilkan berbagai zat yang berkaitan dengan peradangan. Karena itu, menjaga berat badan tetap sehat menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi risiko berbagai penyakit kronis.

Latihan Beban untuk Menekan Risiko

Lim menyarankan masyarakat menerapkan gaya hidup sehat sebagai bagian dari upaya menekan risiko kanker payudara. Langkah tersebut antara lain mengelola stres, menjaga pola makan, mempertahankan berat badan sehat, serta rutin beraktivitas fisik.

Salah satu aktivitas yang disarankan adalah latihan beban (weight training). Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga komposisi tubuh, meningkatkan kebugaran, dan mendukung kesehatan metabolisme.

"Untuk mengurangi risiko breast cancer, lakukan aktivitas, exercise. Lebih baik daripada makan obat," kata Lim.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya