Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan anak tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisiknya. Tumbuh kembang kognitif dan stimulasi akan lebih optimal ketika anak sehat, tidak sering sakit, serta mendapatkan asupan yang tepat.
Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, mengatakan banyak orang tua berharap anaknya tumbuh pintar. Namun, kesehatan perlu menjadi fondasinya.
Advertisement
"Kalau ngomong sama saya, harapan menjadi orang tua terhadap anak-anaknya adalah satu, anaknya pintar. Pintar itu artinya dia ngomong sama kita nyambung, diajari apa-apa bisa. Terus, untuk pintar itu mesti apa? Sehat, Bu. Makannya nggak rewel, nggak sakit, anaknya lincah, periang, dan seterusnya," ujar Ratih.
Menurut Ratih, anak yang sering rewel akibat gangguan pencernaan atau mudah sakit akan lebih sulit mengikuti stimulasi yang diberikan lingkungan sekitarnya. Karena itu, kesehatan tubuh menjadi modal sebelum stimulasi kecerdasan diberikan.
Kesehatan pencernaan atau gut health juga menjadi bagian penting karena saluran cerna berperan dalam penyerapan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang.
"Stimulasi hanya bisa optimal kalau anaknya sehat. Untuk sehat, butuh modal ya. Artinya, badannya mesti diisi dan benar dulu, dikasih makan, karena termasuk bagian dari stimulasi juga," ujarnya dalam sesi diskusi panel pada acara peluncuran Gut and Immunity Council di Jakarta, Rabu (9/9/2026)
Ratih menambahkan bahwa pemenuhan gizi anak tidak selalu mudah karena dapat dipengaruhi faktor alergi maupun kondisi sistem imun.
Oleh sebab itu, orang tua perlu melihat tumbuh kembang anak secara menyeluruh, bukan hanya mengejar kecerdasan. Menurutnya, proses tersebut juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga hingga lingkungan yang lebih luas.
"Anak tumbuh, itu bukan cuma kebiasaan satu aspek. Saya juga setuju dengan dokter Andy, it takes a village to raise a child. Bukan cuma sekampung, senegara. Para pengambil keputusan dan kebijakan perlu concern di sini," tambah Ratih.
Peran Penting Kerja Sama Orang Tua
Selain kondisi fisik dan asupan gizi, aspek psikologis dalam pengasuhan atau parenting juga berperan penting. Pemenuhan gizi, pemberian MPASI, hingga perawatan ketika anak sakit bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu. Proses tumbuh kembang anak membutuhkan keterlibatan kedua orang tua, termasuk ayah.
Ayah dapat berperan dalam menciptakan lingkungan rumah yang kondusif, mendukung proses pemberian makan, serta membantu mengelola stres ibu selama menjalani proses pengasuhan.
"Kan yang bikin anak, nggak cuma ibunya sendiri. Bukan tiba-tiba membelah diri gitu. Itu kan bareng-bareng sama bapaknya ya," kata Ratih.
Menyiapkan Kehamilan dan Pengasuhan Sejak Awal
Pendekatan holistik dalam membesarkan anak sejatinya sudah dimulai sebelum kelahiran. Perencanaan kehamilan, kesiapan mental pasangan, serta komitmen untuk berbagi peran setelah melahirkan menjadi bagian dari fondasi kesehatan fisik dan psikologis anak.
Ratih berpesan agar orang tua saling mendukung dalam menjalani proses tersebut. Menurutnya, kesehatan anak tidak hanya mencakup kondisi fisik, tetapi juga lahir, batin, jiwa, dan psikologis.
Berangkat dari asupan yang tepat dan saluran cerna yang sehat, tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan kognitif dan emosionalnya, diharapkan dapat berlangsung secara optimal.
"Sebagai orang tua itu harus cermat, termasuk memilih apa saja yang kita berikan kepada anak itu supaya cocok. Supaya anak-anak sungguh sehat dengan imun, pencernaan, makanan yang diserapnya bagus. Kalau diserapnya bagus, tumbuh kembangnya bagus dan optimal, anak-anaknya jadi pintar," pungkas Ratih.