Cium Aroma Tertentu Bikin Terlempar ke Masa Lalu, Kok Bisa?

Hal ini berkaitan dengan hubungan erat antara sistem penciuman dan memori di otak

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 22 September 2026, 12:00 WIB
Aroma memang memiliki hubungan yang erat dengan bagian otak yang mengatur memori dan emosi, sehingga dapat menyulut ingatan akan kenangan di masa lalu. | unsplash.com/@olgaserjantu

Liputan6.com, Jakarta - Mencium aroma makanan, parfum, atau bunga tertentu bisa membawa seseorang teringat kejadian di masa lalu. Fenomena tersebut bukan sekadar kebetulan. Aroma memang memiliki hubungan yang erat dengan bagian otak yang mengatur memori dan emosi.

Aroma dapat memunculkan kembali kenangan tentang orang yang dicintai, tempat tertentu, peristiwa penting, bahkan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Menurut psikiater Drew Cumming, MD, hubungan tersebut berasal dari koneksi pada bagian otak yang sejak dulu berperan dalam membantu manusia mengenali lingkungan melalui penciuman.

Bagaimana Aroma Memicu Kenangan?

Prosesnya dimulai ketika molekul aroma di udara masuk ke hidung dan berikatan dengan reseptor penciuman. Interaksi tersebut menghasilkan sinyal listrik yang kemudian diteruskan melalui sel saraf menuju otak, yang kemudia sinyal pertama kali diproses di olfactory bulb, bagian otak yang berada tepat di atas rongga hidung.

Dari sana, sinyal diteruskan ke sejumlah bagian otak, termasuk piriform cortex yang membantu mengidentifikasi aroma dan amygdala yang berperan dalam memproses emosi.

Jika suatu aroma berkaitan erat dengan pengalaman emosional, amygdala dapat mengirimkan sinyal ke hippocampus, yakni bagian otak yang berperan dalam pembentukan memori.

Hubungan tersebut membuat kenangan yang dipicu aroma dapat terasa sangat kuat secara emosional. Penelitian menunjukkan bahwa kenangan yang berkaitan dengan aroma dapat membawa muatan emosi yang lebih besar dibandingkan kenangan yang dipicu oleh penglihatan.

Salah satu alasannya adalah jalur pemrosesan penciuman yang berbeda dari sebagian besar indra lainnya. Sinyal dari penglihatan, pendengaran, dan sentuhan umumnya melewati thalamus, yang berfungsi sebagai semacam stasiun penghubung sebelum informasi diteruskan ke bagian otak lainnya.

Sebaliknya, sinyal penciuman dapat melewati thalamus dan bergerak lebih cepat menuju olfactory bulb, kemudian ke amygdala dan hippocampus.

"Sinyal penciuman melewati talamus dan langsung menuju bulbus olfaktorius, kemudian dengan cepat menuju amigdala dan hipokampus," jelas Cumming, dikutip dari Cleveland Clinic, Selasa (22/9/2026).

Tidak heran jika aroma tertentu juga kerap membawa seseorang kembali pada pengalaman masa kanak-kanak atau ketika mempunya ikatan dengan sesorang. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah perkembangan otak yang berlangsung pesat pada masa tersebut.

Pada masa kanak-kanak, banyak koneksi di dalam otak sedang terbentuk dan kemudian diperkuat atau dikurangi seiring pertumbuhan.

Memengaruhi Sisi Emosional

Selain memunculkan kenangan, aroma juga dapat memengaruhi kondisi emosional. Kenangan yang menyenangkan dapat membuat seseorang merasa lebih tenang dan bahagia.

Sejumlah penelitian juga menemukan kemungkinan manfaat, seperti penurunan potensi peradangan, peningkatan kemampuan mengingat pada orang dengan depresi, serta pola pernapasan yang lebih lambat dan dalam.

Namun, aroma tidak selalu membawa kenangan menyenangkan. Aroma tertentu juga dapat memicu kenangan negatif atau respons yang berkaitan dengan trauma.

Untuk gejala ringan, Cumming menyarankan teknik grounding untuk membantu seseorang kembali fokus pada kondisi saat ini dan meredakan stres maupun kecemasan.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya