Sering Memendam Emosi, Dampaknya Bisa Merembet ke Kesehatan Fisik

Menekan atau memendam emosi mungkin terasa membantu untuk sementara waktu. Tapi kalau sudah kebiasaan, dampak negatif bagi tubuh mengintai.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 22 September 2026, 09:00 WIB
Terlalu sering menahan emosi bisa memicu ledakan di momen yang tidak bisa diprediksi. (Foto: Unsplash.com/Christian Erfurt)

Liputan6.com, Jakarta - Menahan emosi mungkin menjadi hal yang dilakukan seseorang untuk menghindari konflik, menjaga situasi tetap tenang, atau tidak ingin membebani orang lain. Namun, jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, dampaknya tidak hanya dapat dirasakan secara emosional, tetapi juga berhubungan dengan kondisi fisik.

Menurut Headway yang dilansir pada Selasa (22/9/2026), emotional suppression atau penekanan emosi terjadi ketika seseorang tetap merasakan emosi di dalam dirinya, tetapi secara sengaja menahan atau menghentikan ekspresi dari emosi tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan repressed emotions, ketika emosi atau pengalaman tertentu ditekan secara tidak sadar. Keduanya bukan merupakan diagnosis formal, tetapi dapat menimbulkan masalah jika menjadi pola yang berlangsung terus-menerus.

Ada berbagai alasan seseorang terbiasa menekan emosinya. Pola tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan pola asuh sejak kecil, pengalaman traumatis, tuntutan sosial dan budaya, hingga norma gender.

Rasa takut dianggap sebagai beban bagi orang lain juga dapat membuat seseorang memilih menyimpan perasaannya sendiri. Belum lagi tekanan di tempat kerja atau lingkungan yang menuntut seseorang untuk selalu menjaga hubungan baik dapat mendorong perilaku memendam ini.

Apa yang Terjadi Jika Kebiasaan Memendam Emosi?

Dalam kondisi tertentu, menahan emosi untuk sementara waktu juga dapat membantu seseorang tetap tenang atau menghindari tindakan yang tidak tepat.

Namun, kebiasaan menekan emosi secara konsisten dalam jangka panjang berkaitan dengan berbagai dampak terhadap kesehatan mental dan fisik.

Dari sisi mental, penekanan emosi dapat berkaitan dengan sejumlah hal.

Contohnya, meningkatnya kecemasan dan rasa tidak nyaman yang terus-menerus. Kebiasaan tersebut juga dapat berhubungan dengan depresi atau mati rasa secara emosional.

Seseorang mungkin semakin kesulitan mengenali dan mengomunikasikan perasaannya, termasuk menjelaskan apa yang dibutuhkan kepada orang lain.

Kondisi ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain. Menekan emosi dalam jangka panjang dapat membuat seseorang menarik diri, sulit berkomunikasi, atau merasa tidak pantas berada dekat dengan orang lain.

Selain itu, penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa orang yang membatasi ekspresi emosinya cenderung memiliki respons stres yang lebih tinggi.

Ternyata, dampaknya tidak berhenti pada kesehatan mental. Memendam emosi juga dikaitkan dengan gangguan tidur dan insomnia. Respons stres dan peradangan yang muncul ketika emosi terus ditekan juga disebut dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh.

Di sisi lain, ketegangan otot dan nyeri fisik dapat muncul, diikuti tekanan darah serta risiko masalah kardiovaskular juga berpotensi meningkat.

Salah satu penelitian menemukan bahwa tingkat penekanan emosi yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun yang hingga 10 persen lebih tinggi.

Pilihan Cara untuk Mengurangi Kebiasaan Menekan Emosi

Untuk menghadapi emosi tanpa terus menekannya, seseorang bisa menerapkan beberapa langkah awal.

  1. Mengenali dan memberi nama pada emosi yang dirasakan.
  2. Membiarkan emosi muncul tanpa langsung bereaksi.
  3. Menulis jurnal.
  4. Membagikan cerita dengan orang yang dipercaya.
  5. Melakukan aktivitas fisik yang digemari.

Jika pola menekan emosi telah berlangsung lama atau berkaitan dengan trauma maupun kondisi kesehatan mental tertentu, mencari bantuan dari tenaga profesional kesehatan mental juga dapat menjadi pilihan.

Terapi seperti cognitive behavioral therapy (CBT), EMDR, terapi psikodinamik, acceptance and commitment therapy (ACT), dan dialectical behavior therapy (DBT) disebut dapat digunakan untuk membantu seseorang memahami dan mengelola pola emosinya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya