Pengalaman Pneumonia Fenita Arie Buka Mata soal Kesehatan Lansia

Fenita Arie bagikan pengalaman pneumonia dan pentingnya keluarga mengenali gejala pada lansia.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 25 September 2026, 08:00 WIB
Fenita Arie membagikan pengalaman saat mengidap pneumonia dan mendampingi almarhum ayah mertuanya. Ia mengingatkan pentingnya keluarga lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan lansia. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Batuk dan sesak napas pada orang tua sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, pengalaman Fenita Arie menunjukkan bahwa gejala yang terlihat sederhana bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang jauh lebih serius.

Fenita sendiri pernah mengalami pneumonia setelah infeksi yang awalnya belum terdeteksi. Setelah pulang dari liburan, ia sempat dua kali menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, pada awalnya Fenita memilih tetap beraktivitas di rumah karena mengira kondisinya akan membaik dengan sendirinya.

Kondisinya justru berkembang. Infeksi yang tidak tertangani dengan baik kemudian menyerang saluran pernapasan yang lebih dalam hingga menyebabkan pneumonia.

Dalam sesi diskusi media roundtable “A Familiar Illness. A Less Familiar Cause” yang digelar Pfizer untuk membahas pneumonia, Fenita menceritakan bagaimana penyakit tersebut membuatnya kesulitan bernapas dan mengalami batuk yang cukup kuat.

Riwayat asma yang dimilikinya juga membuat kondisi tersebut terasa semakin berat.

“Jadi saya merasakan banget sih, ketika napas aja tuh susah banget. Lalu ketika batuk, karena waktu itu saya mengarah ke batuk yang lebih kencang, karena dulu saya ada riwayat asma juga,” ujar Fenita di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Bukan hanya paru-paru yang terdampak. Hentakan batuk yang terlalu kuat membuat tubuh Fenita terasa sakit hingga memengaruhi otot. Ia bahkan harus menjalani fisioterapi selama proses pemulihan.

“Jadi memang semua badan tuh sakit semua. Karena jadi bukan penyembuhan di bagian paru-paru saja, tapi saya juga sampai ke otot, sampai harus fisioterapi, karena hentakan batuknya terlalu dalam,” tuturnya.

Sempat Anggap Batuk dan Sesak Orang Tua sebagai Hal Biasa

Pengalaman tersebut kemudian mengingatkan Fenita pada kondisi almarhum ayah mertuanya yang saat itu telah berusia 80-an tahun.

Keluarga awalnya membawa sang ayah ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kaki setelah jatuh. Namun, pemeriksaan justru menemukan masalah kesehatan lain yang lebih serius.

Sebelumnya, keluarga kerap menganggap batuk atau sesak napas ringan sebagai keluhan yang wajar dialami orang tua. Keluhan tersebut terkadang hanya dianggap sebagai masuk angin atau masalah tenggorokan yang bisa membaik dengan sendirinya.

“Karena tiap hari kalau kita datang ke rumah orang tua, misalnya lagi batuk atau lagi agak sesak dikit, ‘ya namanya juga orang tua, nggak apa apa, paling juga nanti begini,’ jawabnya gitu. Atau, minum jahe juga nanti sembuh dengan sendirinya, masuk angin, paling kerokan aja udah cukup,” ujar Fenita.

Namun, pemeriksaan menunjukkan kondisi ayah mertuanya ternyata sudah cukup berat. Ditemukan adanya cairan di paru-paru yang kemudian berkaitan dengan komplikasi pada jantung dan ginjal.

Pengalaman itu membuat Fenita melihat peran keluarga dalam menjaga kesehatan orang tua dari sudut pandang berbeda.

Jangan Sepelekan Perubahan Napas pada Lansia

Fenita menyadari bahwa perubahan kecil pada kondisi kesehatan orang tua perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah perubahan pada pola pernapasan.

Ketika tarikan napas orang tua terlihat lebih berat atau lebih dalam dari biasanya, keluarga perlu lebih waspada dan mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga medis.

“Hal-hal yang kita anggap sepele itu tidak bisa kita anggap begitu saja, tapi memang harus ada penanganan yang lebih lanjut,” ujar Fenita.

Menurut Fenita, menjadi caregiver bagi orang tua juga bukan sekadar membelikan obat ketika mereka sakit. Anak perlu hadir dan mendampingi orang tua saat berkonsultasi dengan dokter.

“Bukan cuma sekadar kita misalnya sakit, kita tebus obatnya, kita pesankan obat dan sebagainya, tapi kita benar-benar temani orang tua kita, datangi ke dokter, konsultasi,” katanya.

Menurut pengalamannya, pemeriksaan lebih lanjut penting karena keluhan yang tampak ringan dapat berkaitan dengan masalah kesehatan yang lebih serius.

Pada akhirnya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi Fenita untuk lebih peka terhadap kondisi orang tua dan mertuanya selagi masih memiliki kesempatan.

“Alhamdulillah saya masih ada mertua saya yang perempuan, dan orang tua saya juga masih lengkap. Mudah-mudahan masih ada waktu saya untuk berbagi sama mereka, jadi waktu saya untuk bisa memberikan perhatian yang lebih besar lagi,” tutur Fenita.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya