Liputan6.com, Jakarta - Tepat hari ini 25 September diperingati sebagai Hari Paru Sedunia (World Lung Day) untuk memberi perhatian terhadap masalah kesehatan paru dan pernapasan.
Untuk Indonesia, di hari-hari ini setidaknya ada tiga tantangan ditambah dua lain sehingga total lima tantangan terkait paru.
Advertisement
Pertama adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih saja terjadi, yang menimbulkan polusi udara yang hebat.
Salah satu dampaknya adalah diberitakan ada puluhan ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di beberapa provinsi, sejak karhutla melanda beberapa bulan belakangan ini.
Kedua adalah berita berbagai media massa tentang peningkatan kasus Influenza A di berbagai daerah, khususnya varian H1N1 pandemi 2009 dan H3N2.
Memang ada media massa yang memberitakan tentang Super Flu, tapi sebenarnya yang meningkat sekarang bukanlah Super Flu, tetapi jenis Influenza A yang lain.
Ketiga adalah kenyataan bahwa Indonesia adalah penyumbang kasus tuberkulosis (TB) terbesar nomor dua dunia. Penyakit TB ini kini menjadi salah satu prioritas penting pemerintah, dan semoga dapat segera dikendalikan.
Selain tiga di atas maka tantangan keempat adalah penyakit paru lain, seperti kanker paru, asma bronkial, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), Penyakit Paru akibat Kerja dan lain-lain.
Berbagai jenis penyakit paru merupakan masalah kesehatan yang dihadapi para dokter paru anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) sehari-hari di lapangan.
Tantangan kelima adalah masalah akibat rokok (dan kini juga dengan vape atau rokok elektrik), dimana jumlah perokok di Indonesia masih amat tinggi. Kita tahu bahwa kebiasaan merokok berakibat buruk bagi kesehatan, bukan hanya di paru tetapi juga dua berbagai alat tubuh lain.
Semoga Hari Paru Sedunia 2026 di hari ini membawa dampak bagi upaya peningkatan kesehatan paru di negara kita.
** Penulis adalah Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)