Mengenal Fungsi Pemeriksaan PET/CT Scan dalam Penanganan Kanker

Teknologi PET/CT Scan terbaru memungkinkan pasien kanker bisa melakukan pemeriksaan tersebut dalam kisaran 4 menit.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 26 September 2026, 18:53 WIB
Dokter Junan Imaniar Pribadi, Sp.KN-TM(K)., FANMB tengah menjelaskan tentang pemeriksaan pasien kanker dengan PET/CT Scan Quadra. (Foto: Benedikta Desideria/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pemeriksaan kanker tidak hanya bertujuan melihat bentuk atau ukuran suatu kelainan. Dokter juga perlu mengetahui apakah sel kanker telah mengalami penyebaran (metastasis) atau tidak. 

Salah satu pemeriksaan yang dapat memberikan informasi tersebut adalah PET/CT Scan, yakni pemeriksaan yang menggabungkan Positron Emission Tomography (PET) dan Computed Tomography (CT) dalam satu pemeriksaan.

Dokter Junan Imaniar Pribadi, Sp.KN-TM(K)., FANMB menjelaskan PET dan CT memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

“PET Scan itu untuk menilai metabolik dari tumornya, kalau CT Scan itu morfologi anatomi. Dan kita gabungkan itu, hybrid imaging,” ujar Junan.

Secara sederhana, PET memberikan informasi mengenai aktivitas metabolik sel, sedangkan CT memberikan gambaran anatomi atau struktur tubuh. Keduanya kemudian digabungkan sehingga dokter dapat memperoleh informasi mengenai aktivitas suatu kelainan sekaligus lokasinya.

“Jadi kita bisa tahu aktivitas selnya, kita bisa tahu bentuk selnya, bisa tahu menekan kemana. Jadi, bisa membantu menentukan stadium lebih jelas,” papar Junan dalam program Healthy Hour Liputan6 bersama RS EMC disiarkan pada Sabtu (26/9/2026).

Pada kanker payudara, PET/CT Scan dapat digunakan pada kondisi tertentu berdasarkan pertimbangan dokter mengenai kemungkinan penyebaran kanker ke bagian tubuh lain.  “Itu menentukan terapi nanti yang dilakukan oleh dokter bedah onkologi,” katanya.

PET/CT juga dapat menjadi pilihan ketika hasil pemeriksaan pencitraan sebelumnya, seperti USG, CT Scan, masih menimbulkan keraguan dan dokter membutuhkan informasi mengenai aktivitas sel. Jadi, dengan hasil pencitraan dari PET/CT Scan dokter yakin terkait kondisi sel kanker dalam tubuh pasien. 

Artinya, PET/CT bukan pemeriksaan yang otomatis dilakukan setiap kali seseorang terdiagnosis kanker. Kebutuhannya bergantung pada kondisi pasien dan tujuan pemeriksaan. 

"Jika ada indikasi medis yang direkomendasikan itu pada kanker stadium 2B. Lalu, pada 2A juga bisa tapi selektif, misalnya ada kecurigaan penyebaran, seperti pasien mengeluhkan sering sakit kepala, sakit tulang. Jadi, walaupun stadium awal tapi kalau ada kecurigaan kita anjurkan PET/CT Scan," tutur dokter bedah konsultan onkologi, Amir Juliansyah dari RS EMC Pekayon di kesempatan yang sama.

Teknologi PET/CT Scan Terbaru, Pemeriksaan Cuma 4 Menit

PET/CT Scan Quadra Biograph Vision Quadra di RS EMC Grha Kedoya mampu melakukan pemindaian seluruh tubuh (whole-body scan) dalam waktu 4 menit, dengan bidang pandang aksial (axial FOV) selebar 106 cm, serta pengurangan dosis radiasi hingga 50 persen dibandingkan dengan PET/CT scan standar. Kombinasi itu bisa mendeteksi lesi kanker sangat kecil.

Perkembangan teknologi juga membuat pemeriksaan PET/CT semakin cepat. Di RS EMC Grha Kedoya, tersedia teknologi total body PET/CT Scan Biograph Vision Quadra yang kerap disingkat menjadi PET/CT Scan Quadra. 

Menurut Junan, salah satu perbedaannya terletak pada waktu pemindaian. Ia menyebut pemeriksaan seluruh tubuh dengan PET Scan konvensional dapat membutuhkan sekitar 30–40 menit, sedangkan dengan teknologi Quadra proses pemindaian dapat dilakukan sekitar empat menit.

"Kalau scan-nya cepat, otomatis juga nyaman ya. Pasien kanker itu kan tidak seperti orang normal ya, yang kadang tidur saja sesak, kadang-kadang tidak bisa tiduran lama 30-40 menit terutama pada pasien yang sudah advance. Jadi kalau scan cepat, biasanya jauh lebih nyaman," tutur dokter yang praktik di RS EMC Grha Kedoya Jakarta ini. 

Junan juga mengatakan teknologi tersebut menggunakan dosis radiofarmaka yang lebih rendah dibandingkan pemeriksaan yang biasa digunakan. Menurutnya, hal ini menjadi pertimbangan terutama karena pasien kanker dapat membutuhkan pemeriksaan secara berkala, misalnya untuk melihat kondisi sebelum dan setelah terapi atau ketika terdapat kecurigaan kekambuhan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya