Liputan6.com, Jakarta - Katarak kerap dikaitkan dengan proses penuaan yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh. Namun, kondisi ini juga dapat dialami bayi sejak lahir maupun anak-anak.
Katarak yang muncul sejak lahir dikenal sebagai katarak kongenital. Meski relatif jarang ditemukan, katarak ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat mengganggu perkembangan penglihatan anak. Pemeriksaan dan penanganan medis sejak dini diperlukan untuk menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi mata anak.
Advertisement
Katarak kongenital dapat terjadi akibat faktor genetik maupun kondisi tertentu selama kehamilan. Dokter spesialis mata, Milzan Murtadha, menjelaskan bahwa faktor keturunan dan infeksi selama kehamilan merupakan dua hal yang dapat berkaitan dengan munculnya katarak pada anak.
"Untuk katarak pada anak itu biasanya bawaan dari lahir. Memang bisa dari faktor genetik atau faktor infeksi kehamilan pada ibu hamil," ujar Milzan dalam acara ‘Media Briefing JEC Eye Hospitals & Clinics Perihal: Dari Clear Vision Menuju Quality of Vision, Memahami Perkembangan Penanganan Katarak’ di Jakarta pada Rabu, 30 September 2026.
Salah satu faktor infeksi pada ibu hamil yang perlu diperhatikan adalah infeksi kelompok TORCH yang meliputi Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes. Meski demikian, menurutnya, angka kejadian katarak pada anak yang berkaitan dengan kondisi tersebut di Indonesia masih relatif rendah.
"Untuk infeksi pada ibu hamil itu biasanya infeksi TORCH, toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, herpes. Jadi sudah ada sepaket. Sementara sih di Indonesia masih dua persen ke bawah, jadi masih agak jarang," jelasnya.
Selain infeksi, faktor keturunan juga dapat berperan. Namun, katarak pada anak tidak selalu ditemukan pada keluarga dengan riwayat kondisi serupa. Dalam beberapa kasus, katarak dapat muncul secara sporadis meskipun kedua orang tua tidak mengalaminya.
"Dikatakan dari orang tua ke anak itu 10 persen risiko, tapi ada juga yang orang tuanya normal dua-duanya, tiba-tiba anaknya katarak. Itu sporadis," tambah Milzan.
Operasi Katarak pada Anak
Penanganan katarak pada anak tetap dilakukan melalui operasi untuk mengangkat lensa yang keruh. Menurut Milzan, teknik operasi yang digunakan dapat berupa fakoemulsifikasi (phacoemulsification), dengan penyesuaian berdasarkan kondisi dan ukuran mata anak.
"Tetap penanganannya adalah operasi katarak. Tergantung dari besar matanya biasanya. Cuma tetap kita ada pelayanan untuk operasi katarak pada anak. Biasanya sih tetap yang fakoemulsifikasi, tapi ada modifikasi karena untuk anak," tuturnya.
Berbeda dengan prosedur yang dapat dilakukan pada pasien dewasa menggunakan bius lokal berupa tetes mata, operasi katarak pada anak memerlukan pembiusan umum. Hal ini dilakukan agar tindakan dapat berlangsung dengan aman dan sesuai prosedur.
Setelah Operasi, Penglihatan Anak Tetap Perlu Dipantau
Operasi mengangkat katarak dan pemasangan lensa tanam merupakan bagian dari penanganan kondisi tersebut. Namun, operasi bukan berarti kebutuhan perawatan mata anak selesai sepenuhnya.
Seiring bertambahnya usia, kondisi mata dan kebutuhan koreksi penglihatan anak dapat berubah. Karena itu, Milzan mengatakan, pemeriksaan berkala tetap diperlukan untuk memantau perkembangan penglihatannya.
"Kataraknya sudah dibersihkan, kita tanam lensa sudah, cuma sekali saja. Apakah nanti setelah operasi katarak dia bertahan sama lensa itu saja? Belum tentu,”
Anak mungkin membutuhkan kacamata atau penyesuaian alat bantu penglihatan apabila mengalami perubahan ukuran refraksi, seperti minus atau silinder.
Ia menjelaskan bahwa perubahan tersebut tidak selalu berarti anak harus menjalani operasi katarak kembali.
“Karena anak terus bertumbuh dan berkembang, mungkin nantinya dia minusnya nambah silinder, suka berubah sesuai umur. Tapi untuk operasi kataraknya, tetap satu kali,” pungkasnya.