Liputan6.com, Tangerang Selatan - Mengenali minat dan bakat anak bukan perkara mudah bagi sebagian orang tua. Di tengah derasnya informasi tentang pola asuh dan perkembangan anak, orang tua kerap membandingkan kemampuan buah hati dengan anak lain yang dianggap lebih maju.
Kondisi tersebut dapat membuat orang tua terburu-buru mencari atau menentukan bidang yang dianggap sesuai untuk anak. Padahal, minat anak dapat diamati melalui hal-hal sederhana, termasuk saat mereka bermain dan mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
Advertisement
Psikolog anak dan keluarga, Saskhya Aulia Prima, menjelaskan bahwa proses tersebut membutuhkan kehadiran orang tua sekaligus kemampuan untuk menahan diri. Alih-alih terus memberikan arahan atau komentar, orang tua perlu memberi ruang agar anak dapat menunjukkan ketertarikannya secara alami.
"Jadi sebenarnya kalau kita hadir, bukan cuma fisiknya nemenin, tapi secara jiwa kita juga ada di situ, untuk bisa menemukan kira-kira minat anak kita tuh apa sih," kata Katanya dalam konferensi pers Parentalk Festival 2026 di Tangerang Selatan, Rabu, 30 September 2026.
Orang Tua Perlu Belajar Mengamati Anak saat Bermain
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengenali minat anak adalah dengan mengamati mereka saat bermain.
Terlalu banyak instruksi, aturan, atau koreksi justru dapat membuat anak mengikuti arahan orang tua, bukan menunjukkan hal yang sebenarnya menarik perhatian mereka.
Karena itu, Saskhya menyarankan orang tua mengurangi intervensi dan membiarkan anak mengeksplorasi aktivitasnya sendiri. Orang tua tidak harus selalu memberikan jawaban atau menunjukkan apa yang harus dilakukan anak.
"Orang tua sukses tuh sebenarnya kita diem aja. Tak perlu banyak kasih jawaban atau menunjuk gitu. Jadi sebenarnya observasinya yang penting kita lakukan," ujar Saskhya.
Ketika ingin berinteraksi, orang tua cukup mendeskripsikan apa yang sedang dilakukan anak tanpa mengarahkan hasil permainan. Dengan begitu, perilaku dan pilihan anak selama bermain dapat diamati dengan lebih objektif.
Perhatikan Aktivitas yang Membuat Anak Senang dan Bertahan
Orang tua dapat mulai mengamati hal-hal sederhana. Salah satunya adalah aktivitas atau wahana bermain yang pertama kali dipilih anak secara spontan ketika diberikan beberapa pilihan.
Daya tahan fokus anak juga dapat menjadi petunjuk. Ketertarikan terhadap suatu aktivitas dapat terlihat ketika anak mampu berkonsentrasi lebih lama, memilih aktivitas yang sama berulang kali, atau berusaha mengulanginya tanpa harus diminta.
"Misal sedang di area main dan banyak pilihan, biasanya aku melihat yang disamperin pertama atau misalnya bertahan lama di situ, fokusnya panjang. Jadi sebenarnya dia selalu menemukan hal baru saat berkegiatan, walau kayaknya itu aja,” kata Saskhya, menuturkan pengalamannya sebagai seorang ibu.
Selain durasi perhatian, ekspresi dan inisiatif anak juga dapat menjadi petunjuk bagi orang tua.
Antusiasme, ketekunan, rasa senang, hingga keinginan untuk kembali melakukan aktivitas tertentu dapat membantu orang tua melihat hal-hal yang menarik perhatian anak.
"Kemudian bisa kelihatan dari ekspresinya, misalnya, dia antusias, serius banget, atau senyum-senyum dan ketawa," tambahnya.
Pengamatan juga tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang secara khusus dirancang untuk mencari bakat.
Menurut Saskhya, ketika anak mengikuti kegiatan seperti arts and crafts, misalnya, orang tua dapat melihat bagaimana mereka merencanakan sesuatu, menganalisis situasi, hingga mencari solusi ketika menghadapi kesulitan.
Jangan Terburu-buru Menetapkan Minat Anak
Meski berbagai tanda tersebut dapat membantu orang tua mengenali ketertarikan anak, minat pada usia dini belum tentu bersifat menetap.
Anak-anak, terutama yang berusia di bawah 8 tahun, masih berada dalam tahap eksplorasi. Ketertarikan mereka dapat berubah seiring bertambahnya pengalaman.
"Jadi sebenarnya justru di umur-umur anak, di bawah 8 tahun, itu fase eksplorasi banget, dia mau ngapain. Kalau di masa eksplorasi itu, sebenarnya tugas kita (orang tua) tuh ngasih paparan lebih banyak, supaya dia kenyang, dia lihat options," ujar Saskhya.
Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menetapkan satu bidang sebagai minat atau bakat anak.
Pada tahap ini, orang tua dapat mengenalkan beragam kegiatan dan profesi agar anak memiliki kesempatan untuk menemukan hal-hal yang mungkin mereka sukai.
Proses tersebut membutuhkan waktu. Menurut Saskhya, gambaran mengenai minat anak akan semakin terbentuk setelah mereka melewati berbagai pengalaman eksplorasi.
"Biasanya ditanya ke aku, ‘mau tes minat bakat umur berapa sih?’ Aku bisa bilang sekitar 14 tahun, karena dianggap sekitar 14 tahun itu anak sudah melewati banyak eksplorasi untuk dia tahu minat aslinya seperti apa," kata Saskhya.
Dengan memberikan ruang eksplorasi sejak dini, orang tua tidak perlu terburu-buru mencari satu jawaban mengenai minat anak.
Yang terpenting adalah memberikan berbagai kesempatan kepada anak, kemudian mengamati aktivitas mana yang secara konsisten menarik perhatian dan membuat mereka ingin terus mencoba.