Anak Belanda Disebut Paling Bahagia, Ini Rahasia Pola Asuhnya

Anak Belanda disebut paling bahagia di dunia. Ini 6 rahasia pola asuh yang diterapkan orangtua.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 06 Oktober 2026, 12:37 WIB
Anak-anak Belanda dikenal tumbuh dengan pola asuh yang mendorong kemandirian, kebebasan, rutinitas, serta kedekatan dengan keluarga. Kebiasaan ini dinilai membantu mereka tumbuh bahagia dan percaya diri. (Copyright unsplash.com/Robert Collins)

Liputan6.com, Jakarta - Anak Belanda secara konsisten disebut sebagai salah satu anak paling bahagia di dunia. Di balik hal tersebut, ada pola asuh yang memberikan ruang bagi anak untuk mandiri, merasa didengar, sekaligus tetap memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga.

Sebagai psikolog anak dan sekolah yang bekerja dengan keluarga di Belanda, Veronique van der Kleij mengamati berbagai gaya pengasuhan dari banyak budaya. Menurutnya, setiap pendekatan memiliki kelebihan, tetapi ada sejumlah kebiasaan yang membuat pola asuh orangtua Belanda menarik untuk diperhatikan.

Berdasarkan penelitian dan pengalamannya membesarkan dua putri, Van der Kleij mengungkap enam hal yang tidak pernah dilakukan orangtua Belanda.

Mendorong Anak Mandiri Sejak Dini

Dikutip cnbc pada Selasa, 6 Oktober 2026, salah satu kebiasaan yang mudah ditemui adalah budaya bersepeda. Orangtua tidak selalu mengantar anak menggunakan mobil ketika perjalanan bisa ditempuh dengan sepeda.

Kebiasaan ini bahkan dimulai ketika anak masih bayi. Begitu sudah bisa duduk, bayi dapat ditempatkan di bagian depan sepeda orangtua dan diajak berkeliling dalam berbagai kondisi cuaca.

Seiring bertambahnya usia, anak perlahan diberi kepercayaan untuk bersepeda sendiri ke sekolah atau ke rumah teman. Kebebasan dan kepercayaan ini membantu anak berkembang menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengurus diri sendiri, dan percaya diri.

"Bersepeda di tengah badai mengajarkan anak bahwa apa pun rintangan yang mereka hadapi dalam hidup, mereka akan mampu melewatinya," kata Kleij.

Tidak Terlalu Mengawasi Anak

Orangtua Belanda juga tidak terbiasa terus-menerus mengawasi anak saat bermain. Anak diberi ruang untuk mengeksplorasi lingkungan, mencoba berbagai hal, hingga belajar bangkit ketika terjatuh.

Di taman bermain, misalnya, orangtua dapat duduk di bangku sambil mengobrol sementara anak-anak bermain, berlari, memanjat, dan sesekali terjatuh.

Sejak dini, anak didorong untuk percaya pada kemampuan diri sendiri dan belajar menghadapi berbagai situasi tanpa selalu bergantung pada orangtua.

Mengutamakan Waktu Bersama Keluarga

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga di Belanda. Masyarakat Belanda dinilai sangat menghargai work-life balance.

Orangtua, termasuk ayah, menyediakan waktu khusus untuk bersama anak. Waktu tersebut dapat digunakan untuk bermain, mengikuti olahraga, bergabung dalam klub, atau sekadar bersantai bersama keluarga.

Makan bersama setidaknya satu kali sehari juga menjadi kebiasaan. Momen tersebut digunakan anggota keluarga untuk terhubung dan membicarakan aktivitas mereka sepanjang hari.

"Merasa terhubung dapat meningkatkan kesehatan mental seluruh anggota keluarga dan berkontribusi pada anak yang lebih bahagia serta seimbang secara emosional," kata Kleij.

Struktur dan Rutinitas Tetap Dijaga

Dalam pola asuh di Belanda, struktur dan rutinitas juga mendapat perhatian. Sejak anak lahir, orangtua dianjurkan menerapkan prinsip rust, reinheid, regelmaat, yang secara sederhana berarti ketenangan, kebersihan, dan keteraturan.

Anak memiliki jadwal harian yang jelas, termasuk waktu istirahat yang cukup. Menurut Van der Kleij, struktur, kepastian, istirahat, dan kebersihan membantu anak merasa aman ketika mengeksplorasi sesuatu yang belum mereka kenal.

Pola pengasuhan authoritative, yang tetap memberikan batasan tetapi responsif terhadap kebutuhan anak, juga kerap dikaitkan dengan perkembangan anak yang positif.

Pendapat Anak Turut Didengarkan

Orangtua Belanda juga berusaha membuat anak merasa dilihat dan didengar. Ketika sudah mampu memahami bahasa dan berkomunikasi, anak mulai dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan cara tersebut, anak belajar bernegosiasi dan menetapkan batasan pribadi sejak dini. Ketika pendapat mereka benar-benar didengarkan, anak juga lebih mungkin mengembangkan rasa percaya diri dan penghargaan positif terhadap dirinya sendiri.

Orangtua tidak menghindari pembicaraan mengenai topik sensitif seperti seks, narkoba, dan gender. Mereka memahami bahwa menerima anak apa adanya menjadi bagian penting agar anak tumbuh menjadi orang dewasa yang percaya diri, bahagia, dan memiliki keseimbangan emosional.

Menurut Van der Kleij, pola asuh tersebut bukan sekadar membuat anak selalu bahagia. Anak juga diberi kesempatan untuk belajar mandiri, menghadapi tantangan, menyampaikan pendapat, dan tetap merasa aman dalam lingkungan keluarga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya