Tangan Sering Kesemutan, Kenali Gejala Carpal Tunnel Syndrome

Sering kesemutan dan kebas pada jari-jari tertentu di malam hari, bisa jadi itu merupakan gejala Carpal Tunnel Syndrome.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 07 Oktober 2026, 08:00 WIB
Tangan kesemutan terutama di jari-jari tertentu terutama di malam hari, bisa jadi itu gejala Carpal Tunnel Syndrome / Foto: Photo by Cat Han on Unsplash.  

Liputan6.com, Jakarta - Tangan kesemutan mungkin terasa seperti keluhan biasa yang akan hilang setelah digerakkan. Namun, bila kesemutan berulang terutama di malam hari lalu rasa kebas muncul pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis, patut jadi perhatian karena bisa jadi itu gejala Carpal Tunnel Syndrome (CTS).

Carpal Tunnel Syndrome adalah kondisi ketika salah satu saraf utama yang melewati pergelangan tangan mengalami tekanan pada jalurnya yang sempit. Kondisi itu menyebabkan orang yang mengalaminya merasakan kesemutan atau kebas pada jari. Biasanya keluhan datang di malam hari seperti disampaikan dokter Puspasari, SpN dari Neuroscience Center Bethsaida Hospital Gading Serpong. 

“Keluhan CTS biasanya berupa kesemutan atau kebas pada ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis. Keluhan ini sering lebih terasa pada malam hari dan bahkan dapat membuat pasien terbangun dari tidur,” jelas Puspasari.

Pada kondisi Carpal Tunnel Syndrome yang lebih lanjut maka tangan dapat terasa lemah. Alhasil mudah menjatuhkan benda atau mengalami kesulitan melakukan gerakan halus. Mengibaskan atau menggoyangkan tangan terkadang dapat membuat keluhan terasa lebih ringan.

Gejala Carpal Tunnel Syndrome Lainnya

Gangguan pada saraf juga dapat terjadi pada area leher. Pada gangguan saraf yang berasal dari leher, saraf yang keluar dari tulang belakang di daerah leher mengalami iritasi atau tekanan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan perubahan pada tulang belakang, penyempitan jalur saraf, maupun gangguan pada bantalan tulang atau diskus.

“Jika sumber gangguan berasal dari leher, keluhan dapat berupa nyeri yang berawal dari leher kemudian menjalar ke bahu, lengan, hingga jari-jari tangan. Kesemutan atau kebas juga dapat muncul pada area tertentu sesuai dengan saraf yang mengalami gangguan,” ujar Puspasari lewat pesan tertulis.

Pada sebagian pasien, gangguan saraf dari leher juga dapat menyebabkan kelemahan pada kelompok otot tertentu. Gangguan saraf leher tidak selalu disertai nyeri leher yang berat. Pada beberapa orang, keluhan yang paling terasa justru kesemutan atau kebas pada tangan.

 

Menegakkan Diagnosis

Puspasari mengingatkan mengalami gejala di atas yang mana kesemutan terjadi berulang, semakin sering, membuat terbangun pada malam hari, tidak kunjung membaik, disertai nyeri menjalar atau kelemahan tangan, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, segera cek kondisi kesehatan ke dokter. 

Lokasi kesemutan dapat menjadi petunjuk. Kemudian dokter akan menilai pola keluhan, kondisi saraf, kekuatan otot, refleks, serta bagian tangan atau lengan yang mengalami gangguan rasa.

Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan EMG/NCS (Electromyography/Nerve Conduction Study).

“NCS membantu menilai bagaimana sinyal listrik berjalan melalui saraf, sedangkan EMG membantu mengevaluasi aktivitas listrik pada otot. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai lokasi dan tingkat gangguan saraf,” jelasnya. 

EMG dan NCS dapat membantu membedakan apakah gangguan lebih mengarah pada saraf di pergelangan tangan seperti pada CTS, saraf yang berasal dari leher, gangguan saraf tepi lainnya, atau kombinasi beberapa kondisi.

Pada beberapa kasus, diperlukan juga MRI untuk melengkapi pemeriksaan klinis. Seperti diketahui MRI berfungsi untuk melihat struktur tubuh sementara EMG/NCS melihat fungsi saraf dan otot.

“Pada kondisi tertentu, pemeriksaan klinis, MRI, dan EMG/NCS dapat saling melengkapi. Tujuannya bukan hanya menemukan kelainan, tetapi memahami apakah kelainan tersebut sesuai dengan keluhan pasien,” tambah Puspasari.

Pemeriksaan tidak hanya bertujuan menemukan adanya gangguan saraf, tetapi juga memastikan sumber keluhan dapat diketahui dengan tepat. Pemeriksaan yang sesuai diperlukan agar hasil yang ditemukan dapat dikaitkan dengan gejala yang dialami pasien dan menjadi dasar dalam menentukan penanganan seperti ditambahkan Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dokter Margareth Aryani Santoso. 

"Di Neuroscience Center, kami mengintegrasikan kompetensi dokter, pemeriksaan diagnostik, serta fasilitas penunjang untuk membantu mendapatkan gambaran kondisi pasien secara lebih menyeluruh agar dapat diagnosis dan penangan tepat,” ujar wanita yang karib disapa Magi ini. 

 

 

 

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya