Liputan6.com, Jakarta - Edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja memerlukan strategi komunikasi yang tepat.
Menyampaikan dengan keras atau sekadar memberikan larangan tanpa penjelasan rasional dinilai tidak lagi efektif untuk anak usia remaja. Sebaliknya, orang tua disarankan untuk memosisikan diri sebagai teman diskusi yang memahami tingkat kematangan berpikir anak.
Advertisement
Seperti yang ditekankan dokter spesialis kebidanan dan kandungan, subspesialis fertilitas dan hormon reproduksi, Caroline Tirtajasa, menyoroti pentingnya pemilihan bahasa dan gaya bicara saat berdiskusi dengan anak.
"Nah, kalau kita ngomong dengan remaja yang pertama tadi harus bijak. Bijak di sini maksudnya bahasa, kata-kata itu dipilih yang disesuaikan dengan tingkat kematangan tentunya, usia anak dan tingkat pemahamannya," ujarnya di sela acara peluncuran buku Sebelum Terlambat di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Caroline mengatakan suasana komunikasi harus dibangun secara terbuka tanpa memberikan kesan menyalahkan atau menghakimi.
"Jadi kalau kita ngomong ke anak nggak istilahnya kita ngomelin, atau kita nyuruh, atau kita memberikan perintah, ini tidak boleh, itu tidak boleh, itu tidak bisa. Jadi harus berupa diskusi seperti teman," lanjut Caroline.
Bukan Cuma Ibu, Ayah Punya Peran Vital
Selain melalui ibu, tanggung jawab mengedukasi kesehatan reproduksi juga turut dipikul sosok ayah sebagai caregiver.
Guna memberikan arahan yang tepat mengenai pola kebersihan hingga kebiasaan harian, Caroline menyarankan para ayah untuk terlebih dahulu memahami pengetahuan dasar anatomi organ reproduksi.
“Bapak harus baca dulu (buku edukasi) baru ngerti apa yang harus diajarkan. Misalnya cara cebok, pertama harus tahu dong anatomi organ genitalia itu bagaimana. Untuk bisa mengajarkan sesuatu, bapak harus punya ilmunya dulu,” tutur Caroline.
Ia menekankan pentingnya orang tua sebagai caregiver utama bagi anak-anak, khususnya perempuan, untuk membekali ilmu dalam menjaga kebersihan dan kesehatan organ genital sedari dini.
"Jadi makanya saya bilang ini juga penting untuk para bapak. Karena bapak itu juga caregiver sebetulnya. Untuk anak-anak perempuannya, dia juga provider ilmu dan pengetahuan sebetulnya," tambahnya.
Dokter yang praktik di RS EMC Pulomas Jakarta ini mengatakan buku edukasi kesehatan reproduksi sebaiknya dirancang agar dapat dipelajari oleh para ibu maupun bapak untuk diteruskan secara benar kepada anak-anak di sekitar mereka.
Pemahaman yang benar dari orang tua diharapkan dapat memutus rantai mitos sosial dan keterlambatan penanganan medis di masa mendatang.