Jangan Ikut Tantrum saat Anak Mengamuk, Ini Tips dari Psikolog

Alih-alih ikut tantrum, psikolog Ratih Ibrahim mengajak orangtua berusaha memahami dan membantu anak mengenali emosi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 09 Oktober 2026, 12:30 WIB
Menghadapi anak tantrum (Foto: Unsplash.com/Omar Lopez).

Liputan6.com, Jakarta - Menghadapi anak tantrum bukan perkara mudah bagi orangtua. Ayah dan ibu justru perlu menjaga emosinya agar tidak ikut terpancing. Sebab, cara orangtua merespons emosi dapat menjadi contoh bagi anak dalam belajar mengendalikan perasaannya.

Psikolog klinis, Ratih Ibrahim mengingatkan ketika orangtua menghadapi anak tantrum dengan ikut tantrum maka anak jadi belajar, 'Oh ini ternyata boleh kayak begini.'

"Jadi, kalau ibunya tantrum, anaknya jadi makin tantrum. Anak akan belajar bahwa emotional regulation-nya jadi persis kayak ibunya," kata anggota Tim Ahli Program Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan itu mengutip Antara.

Alih-alih marah dan emosi, Ratih mengajak orangtua berusaha memahami dan membantu anak mengenali emosi yang sedang dirasakan serta mengendalikan emosinya. Misalnya dengan mengucapkan, "Iya mama ngerti, kamu kesal ya."

Tindakan semacam itu dapat membantu menghadirkan kesadaran pada diri anak bahwa memiliki perasaan negatif adalah hal yang wajar dan mereka tetap dicintai.

Batasan Mengekspresikan Perasaan

Selain membantu anak mengenali dan menyadari perasaannya, Ratih mengatakan, orangtua harus mengajarkan batasan dalam mengekspresikan perasaan agar anak tidak meluapkan perasaan dengan cara yang merusak.

Ratih menyampaikan bahwa ada kalanya orangtua menyalahkan benda mati ketika mendapati anak kesal setelah terjatuh atau terluka. "Dari situ anak justru jadi tidak belajar, tidak ada self awareness, pemahaman bahwa ini adalah emosi yang biasa saja," kata Ratih dalam acara bersama Danone Indonesia pada Kamis (8/9/2026).

Anak-anak perlu dilatih untuk mengenali dan menyadari perasaan serta membangun kecerdasan emosional agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang adaptif dan memiliki ketahanan dalam menghadapi masalah.

Membangun Kecerdasan Emosional

Ratih mengatakan bahwa anak yang tidak memiliki kecerdasan emosional memadai lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental.

Menurut data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022 satu dari tiga remaja Indonesia yang berusia antara 10 dan 17 tahun mengalami masalah kesehatan mental.

Gangguan kesehatan mental yang paling banyak dialami remaja menurut hasil survei adalah gangguan cemas (gabungan antara fobia sosial dan gangguan cemas menyeluruh), diikuti oleh gangguan depresi mayor, dan gangguan perilaku.

Guna mencegah masalah kesehatan mental di kemudian hari, anak-anak perlu dilatih untuk membangun kecerdasan emosional.

Orangtua bisa membantu anak membangun kecerdasan emosional dengan mengajari anak melakukan regulasi emosi dan mencontohkan pengendalian emosi.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya