Brain Freeze Bukan Sekadar Sakit Kepala, Kenali Kaitannya dengan Migrain

Brain freeze akibat makanan dingin bisa berkaitan dengan migrain. Kenali penyebab dan cara meredakannya.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 11 Oktober 2026, 15:00 WIB
Brain freeze atau sakit kepala akibat rangsangan dingin bisa muncul saat seseorang mengonsumsi es krim atau minuman es terlalu cepat. Kondisi ini juga berkaitan dengan sensitivitas terhadap migrain. (Photo by Lanju Fotografie on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Pernah merasakan nyeri tajam di dahi setelah meneguk minuman es atau makan es krim terlalu cepat? Sensasi yang dikenal sebagai brain freeze ini muncul tiba-tiba, tetapi biasanya hilang dalam waktu singkat.

Dalam istilah medis, kondisi ini disebut cold-stimulus headache, yaitu sakit kepala yang dipicu oleh rangsangan dingin. Dokter spesialis saraf di Mayo Clinic, Arizona, Amerika Serikat, Amaal Starling, mengatakan brain freeze merupakan kondisi yang umum dan umumnya tidak berbahaya.

“Ini tidak berbahaya, datang dan pergi,” kata Starling, dikutip dari BBC, Jumat (9/10/2026).

Brain freeze biasanya terjadi ketika makanan atau minuman yang sangat dingin dengan cepat mendinginkan langit-langit mulut atau bagian belakang tenggorokan.

Perubahan suhu mendadak ini diduga memicu penyempitan dan pelebaran pembuluh darah secara cepat sebagai respons tubuh untuk memulihkan aliran darah.

Proses tersebut berkaitan dengan saraf trigeminal, yaitu saraf yang memproses sensasi nyeri dari wajah hingga dahi. Akibatnya, rangsangan dingin di dalam mulut dapat menimbulkan rasa sakit di bagian depan kepala.

Untuk mencegahnya, Starling menyarankan agar makanan dan minuman dingin dikonsumsi secara perlahan. Beri jeda di antara suapan atau tegukan agar langit-langit mulut memiliki waktu untuk menyesuaikan suhu.

Jika brain freeze telanjur muncul, tempelkan bagian bawah lidah ke langit-langit mulut untuk membantu menghangatkannya. Minum cairan hangat juga bisa menjadi alternatif untuk meredakan nyeri.

Brain Freeze Bisa Berkaitan dengan Migrain

Meski umumnya tidak berbahaya, brain freeze dapat memberikan petunjuk mengenai sensitivitas seseorang terhadap sakit kepala.

Profesor neurologi anak dan psikiatri di University of Padua, Italia, Irene Toldo, bersama rekan-rekannya, meninjau penelitian selama sekitar empat dekade untuk mempelajari fenomena ini.

Hasil tinjauan menunjukkan bahwa brain freeze kemungkinan memiliki kaitan dengan faktor keturunan. Seseorang yang orang tuanya sering mengalami sakit kepala setelah mengonsumsi makanan dingin mungkin lebih rentan mengalami kondisi serupa.

Namun, hubungan tersebut masih bersifat korelasional. Gen spesifik yang mungkin berperan juga belum diketahui.

Penelitian itu turut menemukan kaitan antara brain freeze dan migrain. Orang yang mengalami migrain cenderung merasakan nyeri akibat rangsangan dingin dengan intensitas lebih tinggi.

“Orang dengan migrain biasanya mengalami sakit kepala jenis ini dengan intensitas yang lebih tinggi,” ujar Toldo.

Starling menjelaskan, saraf trigeminal pada orang dengan migrain dapat lebih sensitif. Ketika terpapar rangsangan dingin, saraf tersebut bisa memicu respons nyeri yang lebih kuat.

Kapan Sakit Kepala Perlu Diperhatikan?

Brain freeze biasanya berlangsung singkat dan mereda dengan sendirinya. Namun, sakit kepala yang terasa sangat menyakitkan atau sering berulang perlu mendapat perhatian.

Keluhan yang selama ini dianggap sebagai sakit kepala biasa mungkin berkaitan dengan migrain yang belum terdiagnosis. Jika demikian, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan penyebabnya sekaligus menentukan penanganan yang tepat.

Seseorang tidak perlu sepenuhnya menghindari es krim atau makanan dingin untuk mencegah brain freeze. Cukup konsumsi secara perlahan dan hindari menelan makanan atau minuman yang sangat dingin secara terburu-buru.

Sementara itu, sakit kepala yang berulang, berat, atau mengganggu aktivitas sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya