Liputan6.com, Jakarta - Bau kaki mungkin sering dianggap sebagai tanda seseorang kurang menjaga kebersihan diri. Padahal, kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari produksi keringat berlebih hingga infeksi dan kondisi medis tertentu.
Aroma tidak enak dari kaki dalam istilah medis disebut sebagai bromodosis. Menurut podiatris Joy Rowland, DPM, kaki memiliki lebih dari 250.000 kelenjar keringat.
Advertisement
Keringat yang menumpuk di kulit dan sepatu dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri, yang kemudian menghasilkan zat asam berbau seperti cuka.
“Bakteri dan jamur serta berbagai mikroorganisme menyukai panas, lembap, kondisi gelap, dan bagian dalam sepatu menjadi tempat yang ideal untuk itu,” jelas Rowland, seperti dikutip Cleveland Clinic, Jumat (9/10/2026).
1. Keringat Berlebih
Salah satu penyebab utama bau kaki adalah keringat. Produksinya dipengaruhi oleh cuaca, intensitas aktivitas, jenis alas kaki, faktor genetik, usia, perubahan hormon, kondisi kesehatan, hingga tingkat stres.
Jika kaki terus berkeringat berlebihan dalam berbagai situasi, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan hiperhidrosis atau produksi keringat berlebih.
Rowland menyarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis guna mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.
2. Infeksi Jamur dan Bakteri
Infeksi jamur, seperti athlete’s foot atau tinea pedis, juga dapat menyebabkan bau kaki yang menyengat. Infeksi ini lebih mudah terjadi di tempat umum yang hangat dan lembap, seperti ruang ganti.
Untuk mengurangi risiko penularan, hindari berbagi sepatu atau kaus kaki. Gunakan sandal ketika berada di area bersama, seperti kolam renang, sauna, atau pusat kebugaran.
Selain jamur, luka akibat lecet, kuku yang tumbuh ke dalam, atau goresan juga dapat mengalami infeksi bakteri.
Bau yang muncul pun dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis infeksinya. Karena itu, luka atau perubahan kondisi kaki yang disertai bau menyengat sebaiknya diperiksakan.
3. Kondisi Medis Tertentu
Aroma tidak sedap pada kaki juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan. Obesitas dan gangguan tiroid dapat memengaruhi hormon dan meningkatkan produksi keringat.
Sementara itu, gangguan fungsi ginjal atau hati berpotensi menyebabkan penumpukan zat tertentu dalam tubuh yang dapat mengubah bau tubuh.
Pada penyandang diabetes, keringat berlebih dapat memperparah bau kaki. Berkurangnya sensasi pada kaki juga membuat luka terkadang tidak disadari, sehingga infeksi berisiko berkembang tanpa penanganan. Maka dari itu, Rowland menekankan pentingnya pemeriksaan kaki secara rutin bagi penyandang diabetes.
4. Efek Samping Obat
Seiring dengan kondisi medis tertentu, sejumlah obat, termasuk beberapa jenis antidepresan, obat antiradang nonsteroid, obat diabetes, dan steroid, juga disebut dapat meningkatkan keringat atau memengaruhi bau tubuh.
Jika bau kaki muncul setelah menggunakan obat tertentu, konsultasikan dengan dokter. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa persetujuan tenaga medis.
5. Sepatu dan Kebersihan Kaki
Sepatu yang kurang memiliki sirkulasi udara dapat memerangkap keringat dan membuat kaki tetap lembap. Ditambah lagi, mengenakan sepatu yang sama setiap hari tanpa memberi waktu untuk mengeringkannya juga dapat meningkatkan penumpukan keringat dan bakteri.
Karena itu, pilih kaus kaki yang menyerap atau mengalirkan kelembapan dengan baik, bersihkan kaki secara teratur, dan pastikan kaki serta sepatu kering sebelum digunakan kembali.
Jika bau kaki tidak kunjung hilang meski kaki sudah dibersihkan dengan baik, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.
Bau yang menetap dapat menandakan adanya masalah medis yang membutuhkan penanganan khusus.
Menurut Rowland, dokter dapat membantu menentukan penyebab bau kaki dan memberikan pengobatan yang sesuai, termasuk obat untuk mengatasi kelembapan berlebih bila diperlukan.