Psikolog Sarankan Evaluasi Gengsi saat Terpaksa Downgrade Gaya Hidup

Psikolog Ayoe Sutomo sarankan kaum tengah evaluasi gengsi saat terpaksa downgrade gaya hidup.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 10 Oktober 2026, 14:00 WIB
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Ayoe Sutomo menyarankan kaum tengah mengevaluasi gengsi, penampilan, dan pencitraan saat terpaksa downgrade gaya hidup demi menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial. (Copyright unsplash.com/satria eleazar)

Liputan6.com, Jakarta - Bagi kaum tengah, melakukan downgrade gaya hidup bukan sekadar soal mengencangkan ikat pinggang. Ada gengsi, citra diri, hingga perasaan malu yang harus dihadapi ketika kondisi ekonomi membuat seseorang tak lagi bisa menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

Mengurangi pengeluaran, beralih ke kendaraan yang lebih murah, atau membatasi kebiasaan konsumtif bisa menjadi pilihan untuk menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial. Namun, perubahan tersebut tidak selalu mudah, terutama bagi mereka yang merasa perlu mempertahankan citra diri di hadapan orang lain.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Ayoe Sutomo, menyarankan masyarakat untuk mengevaluasi kembali hal-hal yang berkaitan dengan penampilan, pencitraan, dan gengsi ketika harus menurunkan standar hidup.

"Hal-hal yang kaitannya dengan penampilan, image, gengsi, atau hal-hal yang seperti itu, nah, itu yang sepertinya mungkin harus dievaluasi ulang kalau memang mau melakukan downgrade gaya hidup," ujar Ayoe saat berbincang dengan Kesehatan Liputan6.com melalui sambungan telepon pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Gengsi dan Validasi Sosial Perlu Dievaluasi

Keinginan mempertahankan gaya hidup tertentu terkadang bukan semata-mata karena kebutuhan, melainkan juga dorongan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Ketika seseorang terbiasa menggunakan barang tertentu, memiliki kendaraan pribadi, atau menjalani aktivitas yang membutuhkan biaya besar, perubahan kondisi keuangan bisa membuatnya merasa kehilangan sebagian dari identitas yang selama ini dibangun.

Padahal, penurunan standar hidup tidak selalu berarti seseorang mengalami kegagalan. Mengurangi pengeluaran justru bisa menjadi langkah realistis untuk menjaga kondisi keuangan dan memastikan kebutuhan yang lebih penting tetap terpenuhi.

Oleh sebab itu, kata Ayoe, mengevaluasi gengsi menjadi salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan ketika seseorang perlu melakukan downgrade gaya hidup. Fokusnya bukan lagi mempertahankan penilaian orang lain, melainkan menyesuaikan pilihan hidup dengan kondisi yang sedang dihadapi.

Penurunan Standar Hidup Bisa Memicu Kecemasan

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Ayoe Sutomo menyarankan kaum tengah mengevaluasi gengsi, penampilan, dan pencitraan saat terpaksa downgrade gaya hidup demi menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial. (Sumber foto: unsplash.com)

Meski terlihat sebagai keputusan finansial, downgrade gaya hidup juga dapat memengaruhi kondisi psikologis. Ayoe menjelaskan bahwa perubahan kualitas hidup bisa memunculkan emosi negatif ketika seseorang membandingkan kehidupannya saat ini dengan kondisi yang pernah dijalani sebelumnya.

Seseorang mungkin merasa kehidupannya dahulu lebih baik, sementara kondisi sekarang justru mengalami penurunan. Perbandingan tersebut dapat menimbulkan rasa malu karena merasa tidak berkembang atau tidak mampu mencapai keadaan yang lebih baik.

"Kenapa malu? Karena merasa bahwa kok saya nggak berkembang? Kok saya nggak jauh lebih baik? Atau bahkan malah kok saya malah menurun dari yang sebelum-sebelumnya," kata Ayoe.

Selain rasa malu, kondisi tersebut juga dapat memunculkan kecemasan terhadap masa depan. Seseorang mungkin terus memikirkan bagaimana kehidupannya akan berjalan jika kondisi ekonomi tidak kunjung membaik.

Tekanan yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengambil keputusan secara objektif. Dalam situasi sulit, keputusan impulsif bisa lebih mudah terjadi karena kapasitas untuk berpikir jernih cenderung menurun.

Jangan Mengorbankan Kesehatan Fisik dan Mental

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Ayoe Sutomo menyarankan kaum tengah mengevaluasi gengsi, penampilan, dan pencitraan saat terpaksa downgrade gaya hidup demi menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial. (Foto: unsplash.com)

Di tengah kebutuhan menekan pengeluaran, Ayoe mengingatkan bahwa kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental tidak seharusnya diabaikan ketika seseorang melakukan downgrade gaya hidup.

Menjaga kesehatan tidak selalu harus dilakukan melalui aktivitas yang membutuhkan biaya besar. Kebiasaan dasar, seperti memprioritaskan tidur berkualitas, dapat menjadi salah satu upaya yang dilakukan secara mandiri.

Menurut Ayoe, menjaga kesehatan fisik dan mental merupakan modal penting agar seseorang tetap mampu bekerja secara optimal dan mengambil keputusan dengan tepat.

Dengan demikian, downgrade gaya hidup bukan berarti harus mengurangi seluruh aspek kehidupan secara bersamaan. Masyarakat perlu membedakan kebutuhan yang mendukung kesejahteraan dengan pengeluaran yang lebih banyak berkaitan dengan gengsi atau validasi sosial.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya