Liputan6.com, Jakarta - Makan sambil berdiri terkadang menjadi pilihan saat seseorang terburu-buru, harus makan di sela-sela aktivitas, atau terlalu lelah untuk menyiapkan makanan di meja. Namun, kebiasaan ini kerap menimbulkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap sistem pencernaan.
Menurut ahli gastroenterologi Peyton Berookim, MD, dari Gastroenterology Institute of Southern California di Beverly Hills, Amerika Serikat, makan sambil berdiri dapat memengaruhi proses pencernaan dan pola makan. Meski demikian, kebiasaan ini tidak serta-merta berbahaya bagi tubuh.
Advertisement
Makan Terburu-buru Bisa Memicu Gangguan Pencernaan
Berookim menjelaskan, berdiri saat makan dapat menyebabkan darah terkumpul di bagian kaki akibat pengaruh gravitasi, seperti dikutip dari Everyday Health pada Senin (12/10/2026).
Kondisi ini berpotensi mengurangi aliran darah ke saluran pencernaan yang dibutuhkan untuk mencerna makanan. Namun, perubahan tersebut serupa dengan kondisi ketika seseorang langsung bergerak setelah makan dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah kebiasaan makan terlalu cepat. Saat makan sambil berdiri, seseorang cenderung terburu-buru dan bisa lebih banyak menelan udara. Akibatnya, gas dapat menumpuk di dalam perut.
Selain itu, kurang mengunyah makanan dapat membuat proses pencernaan menjadi lebih sulit. Berookim menjelaskan, kebiasaan ini dapat memicu kram perut atau rasa tidak nyaman karena lambung membutuhkan waktu lebih lama untuk memecah dan mencerna makanan.
Jika keluhan seperti perut bergas atau gangguan pencernaan terus muncul meski pola makan sudah diperbaiki, ia menyarankan untuk mencoba makan sambil duduk.
Makan Sambil Duduk Membantu Menikmati Makanan
Makan sambil duduk memberi kesempatan bagi seseorang untuk menikmati makanan dengan lebih tenang dan tidak terburu-buru. Kebiasaan ini dapat membantu memperbaiki pola makan, terutama bagi mereka yang terbiasa makan terlalu cepat atau kurang mengunyah.
Stres juga dapat memengaruhi fungsi saluran pencernaan. Karena itu, menjaga tubuh tetap rileks, menikmati makanan secara perlahan, dan menciptakan suasana yang nyaman dapat mendukung proses pencernaan.
Menurut Berookim, makan sambil duduk biasanya membuat waktu makan lebih panjang dan suasana terasa lebih tenang. Dengan begitu, seseorang dapat menikmati waktu makan, baik saat sendirian maupun bersama keluarga, teman, atau rekan kerja.
Makan Sambil Berdiri Tidak Selalu Buruk
Meski makan sambil duduk memiliki sejumlah keuntungan, bukan berarti posisi berdiri harus selalu dihindari. Menurut Berookim, hal yang lebih penting adalah menjaga posisi tubuh tetap tegak selama dan setelah makan.
Ia menjelaskan, heartburn atau sensasi panas di dada serta refluks asam lambung dapat terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan. Gejalanya bisa berupa rasa terbakar di dada atau tenggorokan, rasa asam di mulut, hingga sendawa.
Untuk membantu mengurangi keluhan tersebut, Berookim menyarankan agar seseorang tidak langsung berbaring selama beberapa jam setelah makan. Dalam kondisi tertentu, berdiri saat makan juga dapat membantu mengurangi tekanan yang memicu gejala refluks.
Pada akhirnya, makan sambil duduk atau berdiri merupakan pilihan pribadi. Berookim menyarankan agar setiap orang memperhatikan respons tubuh dan menyesuaikan kebiasaan makan jika muncul keluhan yang mengganggu.
“Yang terpenting adalah makan dengan penuh kesadaran dan memahami apa yang dibutuhkan tubuh,” ujarnya.