Liputan6.com, Jakarta - Rasa langsung ingin membela diri ketika seseorang mengkritik atau menyoroti kesalahan sering dikenal sebagai defensiveness atau sikap defensif. Alih-alih mendengarkan dan memikirkan kekeliruan diri, seseorang mungkin justru mencari alasan, membalas kritik, atau menyalahkan orang lain.
Seperti yang ditinjau oleh psikolog klinis berlisensi David Susman, PhD, sikap defensif merupakan mekanisme pertahanan yang muncul ketika seseorang memaknai masukan sebagai kritik keras yang menyudutkan.
Advertisement
Respons tersebut dapat dipicu oleh perasaan malu, sedih, terluka, atau marah.
Mengapa Seseorang Bisa Bersikap Defensif?
Melansir Verywell Mind pada Senin (12/10/2026), sikap defensif dapat berkembang dari temperamen, pengalaman hidup, hingga lingkungan sosial.
Pengalaman seperti pola asuh yang keras, sering diabaikan, penolakan dari teman sebaya, atau perundungan dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap kritik dan berusaha melindungi diri dari kemungkinan terluka kembali.
Dalam situasi tertentu, respons defensif juga dapat menjadi kebiasaan yang dipelajari dari orang tua, mentor, atau lingkungan pergaulan.
Ketika membela diri memberikan kelegaan sesaat, seseorang mungkin terus mengulangi respons yang sama setiap kali merasa disalahkan.
Meski dapat membantu seseorang merasa lebih aman untuk sementara, kebiasaan ini berisiko menghambat refleksi diri dan penyelesaian masalah.
Sikap defensif bahkan dapat memicu respons serupa dari lawan bicara, sehingga percakapan berubah menjadi siklus saling menyalahkan.
Tanda-Tanda Sikap Defensif
Sikap defensif tidak selalu muncul dalam bentuk kemarahan. Berikut beberapa perilaku yang dapat menjadi tandanya.
- Langsung mencari alasan untuk membenarkan tindakan.
- Mengalihkan kesalahan kepada orang lain.
- Membalas kritik dengan mengungkit kesalahan masa lalu.
- Menuduh lawan bicara melakukan hal serupa.
- Tidak mendengarkan atau mengakhiri percakapan.
- Mendiamkan orang lain.
Perilaku tersebut perlu dilihat berdasarkan konteks dan pola yang berulang, tidak semata-mata dijadikan dasar untuk langsung melabeli seseorang.
Dampaknya terhadap Hubungan
Ketika kritik selalu dibalas dengan pembelaan diri, persoalan utama dapat terabaikan.
Obrolan yang seharusnya ada untuk menyelesaikan masalah justru berakhir menjadi pertengkaran atau membuat kedua pihak enggan membicarakan masalah yang sama.
Dalam jangka panjang, pola ini dapat mengikis empati dan kepercayaan. Seseorang mungkin juga merasa menyesal setelah bereaksi berlebihan, tetapi kesulitan menghentikan kebiasaan tersebut ketika menghadapi situasi serupa.
Cara Mengurangi Sikap Defensif
Langkah awal untuk mengurangi sikap defensif adalah mengenali emosi yang muncul saat menerima kritik. Seseorang dapat mencoba mengambil jeda sejenak sebelum merespons, lalu menilai apakah dirinya sedang merasa malu, marah, takut, atau tersinggung.
Setelah itu, pisahkan perasaan dari tindakan. Dalam arti lain, merasa terluka tidak berarti seseorang harus langsung membalas atau menolak semua masukan.
Jika kritik tersebut memang benar, mengakui bagian kesalahan dan meminta maaf dapat membantu membuka ruang untuk menyelesaikan masalah.
Meski begitu, menerima kritik bukan berarti harus menyetujui semua perkataan orang lain.
Jika masukan disampaikan secara merendahkan atau tidak benar, seseorang tetap boleh menetapkan batasan dan menyampaikan keberatan dengan tegas tanpa menyerang balik.
Selain itu, seseorang disarankan untuk belajar meningkatkan keterampilan komunikasi dan mencari bantuan terapis apabila sikap defensif sulit dikendalikan, terutama ketika pola tersebut terus mengganggu hubungan dengan orang lain.
Tujuan memahami sikap defensif adalah belajar membedakan kritik yang dapat menjadi bahan evaluasi dari perlakuan dengan batasan yang sehat.