Karies Intai Anak, Kasus Gigi Berlubang pada Usia 5-9 Capai 84 Persen

Sayangnya, cuma sedikit yang berobat ke dokter gigi untuk tangani permasalahan gigi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 15 Oktober 2026, 05:39 WIB
Ilustrasi gigi berlubang pada anak. Foto: Ade Nasihudin/Liputan6.com.

Liputan6.com, Jakarta - Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi karies pada anak 5-9 tahun sebesar 84,8 persen. Angka ini menunjukkan perlu upaya membangun kebiasaan deteksi dini, tindak lanjut, dan menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni mengungkapkan juga data menunjukkan bahwa 56,9 persen penduduk Indonesia usia 3 tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut. Namun cuma 11,2 persen masyarakat yang mengalami masalah gigi dan mulut berobat kepada tenaga medis.

"Hal ini menunjukkan bahwa kita perlu bergerak lebih kuat dan dari cuman sekedar mengobati ketika masalah sudah terjadi," katanya.

Dia mengingatkan pentingnya kesehatan gigi dan mulut, karena gigi dan mulut yang sehat mendukung anak untuk makan dengan baik, belajar dengan nyaman, beraktivitas, tumbuh dan berkembang, serta tampil percaya diri.

"Tantangan yang kita hadapi masih besar, yakni sekitar 3,5 miliar orang di dunia mengalami penyakit gigi dan mulut," ujarn Andi mengutip Antara.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan memperingati Hari Kesehatan Gigi Nasional tahun 2026 ini mengusung tema Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat, dengan sub-tema Periksa Tindaklanjuti Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut.

Pesan ini mengarahkan untuk membiasakan masyarakat memeriksakan kondisi gigi dan mulut, tidak membiarkan masalah yang ditemukan, dan menjaga kesehatan melalui perilaku sehari-hari.

"Kita memberikan perhatian khusus kepada anak-anak karena kebiasaan sehat yang dibentuk sejak dini, dapat menjadi fondasi bagi kesehatan pada masa depan," katanya.

Menurutnya, kerja sama lintas sektor, terutama sektor pendidikan dan kesehatan, krusial dalam membentuk kebiasaan yang baik. Menurutnya, membentuk kebiasaan tidak cukup dilakukan sekali dua kali, namun berkelanjutan, seperti di sekolah karena anak-anak banyak menghabiskan waktunya di sana.

"Kita perlu memastikan bahwa kegiatan di sekolah memiliki kesinambungan, anak mendapatkan pengetahuan dari guru dan tenaga kesehatan, mempraktekkan kebiasaan sehat secara bersama-sama, mendapatkan penguatan dari orang tua di rumah, serta memperoleh pemeriksaan dan tindak lanjut melalui puskesmas sesuai kebutuhannya," kata Andi.

Andi juga mengingatkan kepada anak-anak untuk selalu menjaga kesehatan gigi dengan membersihkan gigi setiap hari di waktu yang tepat, mengurangi makanan dan minuman yang terlalu manis, dan terbuka pada orang tua, guru, atau tenaga kesehatan apabila gigi sakit atau berlubang.

"Jangan takut pergi ke dokter gigi, jadikan sikat gigi bukan hanya karena disuruh, tetapi karena kita ingin menjaga senyum kita sendiri yang lebih percaya diri," katanya.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya