Anak Susah Makan Sayur? Ini 3 Cara Mengatasinya Tanpa Paksaan

Anak susah makan sayur? Kenali penyebab dan 3 cara membantu anak menyukai makanan sehat tanpa paksaan.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 15 Oktober 2026, 15:48 WIB
Anak yang pilih-pilih makanan atau fussy eating kerap menolak sayuran dan lebih menyukai makanan manis. Orang tua dapat membantu anak mengenal makanan sehat secara bertahap tanpa paksaan dan iming-iming hadiah. (Foto: unsplash - Vitolda Klein_)

Liputan6.com, Jakarta - Anak menolak makan sayur, tetapi langsung bersemangat ketika disuguhi makanan manis? Situasi ini kerap membuat orang tua khawatir. Namun, memaksa anak menghabiskan sayuran dengan iming-iming makanan manis justru dapat membentuk persepsi negatif terhadap makanan sehat.

Profesor Psikologi dan Kesehatan Masyarakat di Loughborough University, Inggris, Emma Haycraft, menjelaskan bahwa perilaku pilih-pilih makanan atau fussy eating merupakan bagian umum dari perkembangan anak, melansir BBC, Kamis (15/10/2026).

Perilaku ini biasanya mencapai puncak sekitar usia dua tahun, ketika anak mulai memiliki kemandirian lebih besar, termasuk dalam menentukan makanan yang ingin dikonsumsi.

Menurut Haycraft, kebiasaan tersebut merupakan salah satu cara anak menghindari makanan yang dianggap asing atau berpotensi berbahaya. Karena itu, anak yang menolak makanan tertentu belum tentu sengaja mempersulit orang tua.

Mengapa Anak Menolak Makanan Tertentu?

Anak cenderung lebih menyukai rasa manis, seperti pada buah-buahan, dibandingkan sayuran yang memiliki rasa pahit. Mereka juga sering memilih makanan dengan rasa dan tekstur yang konsisten, seperti pasta, nasi, roti, atau kentang goreng.

Sebaliknya, makanan yang terlihat sama bisa memiliki rasa atau tekstur berbeda setiap kali disajikan.

Stroberi yang lebih matang, misalnya, bisa terasa lebih manis atau lebih lembek dibandingkan buah yang sebelumnya dimakan anak. Perubahan tersebut dapat membuat anak ragu untuk mencobanya kembali.

Penolakan terhadap satu makanan juga bisa meluas ke makanan lain yang terlihat serupa. Anak yang menolak tomat, misalnya, mungkin juga menghindari paprika merah.

Pada anak dengan kondisi neurodivergent, preferensi terhadap makanan tertentu bahkan bisa lebih kuat, termasuk ketertarikan pada kelompok makanan atau merek tertentu.

Cara Membantu Anak Lebih Terbuka terhadap Makanan

1. Berikan Pilihan kepada Anak

Haycraft menyarankan orang tua memberikan pilihan sederhana agar anak merasa memiliki kendali atas makanan yang dikonsumsi.

Alih-alih bertanya apakah anak mau makan sayur, orang tua bisa menawarkan dua pilihan, seperti wortel atau brokoli. Anak juga dapat diajak menentukan bentuk penyajiannya, misalnya wortel yang dipotong memanjang atau diparut.

Orang tua sebaiknya tidak langsung menyerah ketika anak menolak makanan baru. Menurut Haycraft, anak mungkin membutuhkan sekitar 15–20 kali kesempatan berinteraksi dengan suatu makanan sebelum bersedia menerimanya.

Proses ini tidak harus selalu melibatkan kegiatan makan. Anak bisa diajak menyentuh, mencium, atau menjilat makanan tanpa dipaksa menelannya.

2. Berikan Contoh melalui Kebiasaan Makan

Anak cenderung lebih tertarik mencoba makanan ketika melihat orang tua atau teman sebaya menikmatinya.

Karena itu, orang tua dapat menyajikan sayuran untuk seluruh keluarga dan menunjukkan bahwa makanan tersebut juga menjadi bagian dari kebiasaan makan mereka.

Lakukan secara alami tanpa berlebihan atau memaksa anak untuk ikut makan. Dengan melihat contoh secara berulang, anak berkesempatan mengenal makanan tersebut secara bertahap.

3. Hindari Menjadikan Makanan Manis sebagai Hadiah

Haycraft mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan makanan manis sebagai hadiah setelah anak menghabiskan makanan sehat, seperti sayuran.

Cara tersebut berisiko membuat anak memandang sayuran sebagai sesuatu yang harus dihabiskan demi mendapatkan makanan yang lebih disukai.

Sebagai alternatif, orang tua dapat memberikan apresiasi melalui pujian atau menawarkan kegiatan menyenangkan, seperti bermain di taman, tanpa menjadikan makanan manis sebagai imbalan.

Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?

Untuk memahami pola makan anak, orang tua sebaiknya mengamati asupan makanan secara keseluruhan selama seminggu, bukan hanya menilai dari satu kali makan.

Perhatikan pula variasi kelompok makanan yang dikonsumsi dan apakah berat badan anak tetap terjaga.

Haycraft menjelaskan bahwa jika anak mempertahankan berat badan yang sehat, biasanya tidak ada alasan untuk terlalu khawatir.

Namun, jika orang tua terus merasa khawatir, terutama ketika anak mengalami penurunan berat badan atau asupan makanannya sangat terbatas, sebaiknya konsultasikan kondisinya dengan tenaga kesehatan, seperti dokter umum atau dokter spesialis anak.

Menghadapi anak yang pilih-pilih makanan memang membutuhkan kesabaran. Orang tua dapat membantu anak membangun hubungan positif dengan makanan melalui pengenalan secara bertahap, pemberian pilihan, dan contoh kebiasaan makan yang baik.

Yang terpenting, hindari tekanan berlebihan agar anak dapat mengenal dan menerima makanan sehat dengan lebih nyaman.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya