Kenapa Jakarta Terasa Lebih Panas Belakangan Ini? Ini Penjelasan BMKG

Warga Jakarta dan sekitarnya merasakan siang hari yang terasa lebih panas belakangan. Kombinasi faktor yang jadi penyebabnya.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 17 Oktober 2026, 13:15 WIB
Seseorang tengah berteduh di bawah pohon di saat panas terik Jakarta. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa minggu terakhir, warga Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan cuaca yang terasa semakin panas saat siang hari. Bahkan, baru pukul 10.00 pagi, terik Matahari sudah terasa menyengat.

Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKNG), Guswanto menjelaskan cuaca panas yang dirasakan masyarakat dapat dipengaruhi beberapa faktor yang bekerja secara bersamaan.

Pertama, musim kemarau dan minim awan. "Saat langit lebih cerah makan lebih banyak energi mataharin mencapai permukaan. Hal ini membuat tanah, aspal dan bangunan menyerap panas lebih banyak sehingga suhu siang hari lebih meningkat," jelasnya.

Kedua, hujan berkurang. Lantaran masih di musim kemarau membuat hujan jarang turun. Kondisi ini membuat proses pendinginan alami dari penguapan berkurang. Kondisi ini membuat permukaan tanah dan kota cenderung terus menyimpan panas.

Ketiga, faktor efek panas perkotaan atau urban heat island.

"Jakarta dan kota-kota besar dipenuhi beton, aspal, gedung, kendaraan, dan AC. Material tersebut menyerap panas pada siang hari lalu melepaskannya perlahan sampai malam. Akibatnya bukan cuma siang terasa panas, malam pun sering tidak terlalu sejuk," jelasnya dalam pesan tertulis. 

Faktor keempat, kelembapan tinggi. Terkadang suhu udara sebenarnya tidak ekstrem, tetapi kelembapan tinggi membuat tubuh sulit mendinginkan diri melalui keringat. "Akibatnya muncul sensasi 'gerah' yang lebih kuat," tuturnya.

"Jadi jika merasa 'tahun ini kok teriknya beda', kemungkinan yang paling terasa adalah gabungan langit cerah,  kemarau, kota yang menyimpan panas, kelembapan tinggi," tuturnya. 

Meski disampaikan asap kebakaran hutan dan lahan sudah sampai atmosfer Jakarta, Gusyanto mengatakan asap karhutla justru cenderung mengurangi intensitas sinar matahari langsung jika konsentrasinya cukup tebal.

 

Jakarta terasa panas (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Bukan Cuma Jakarta yang Mengalami Cuaca Terik

Cuaca panas saat periode kering tidak hanya dirasakan warga Jakarta dan sekitarnya. Guswanto mengatakan sejumlah wilayah lain, termasuk Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Sumatra, Nusa Tenggara, dan beberapa bagian Kalimantan, juga berpotensi mengalami suhu siang yang tinggi.

Meski demikian, tingkat panas yang dirasakan setiap daerah bisa berbeda. Selain suhu maksimum, kelembapan, tutupan awan, kondisi lingkungan, dan ketersediaan ruang hijau turut memengaruhi kenyamanan termal masyarakat.

Guswanto mengatakan yang membuat Jakarta terasa lebih menyiksa sering kali bukan suhu maksimum saja. Melainkan kombinasi panas, kelembapan tinggi, polusi udara, minim ruang hijau, dan efek urban heat island.

"Contohnya kota di pedalaman Jawa bisa saja memiliki suhu udara siang yang sama atau bahkan lebih tinggi daripada Jakarta, tetapi karena kelembapan lebih rendah atau lingkungan lebih hijau, sensasi gerahnya tidak selalu seberat Jakarta," tutur Guswanto.

 

Sampai Kapan Panas Terik?

Kondisi panas terik berkurang ketika frekuensi hujan meningkat, tutupan awan bertambah, pola angin dan musim mulai bergeser menuju musim hujan.

Mengenai kapan hal kondisi panas berkurang, hal itu tergantung perkembangan atmosfer dari minggu ke minggu. "Yang pasti, selama periode kemarau masih dominan dan hujan belum rutin, siang hari masih berpotensi terasa sangat terik," jelasnya.

Untuk mengetahui kapan cuaca panas di Jabodetabek mulai mereda, masyarakat perlu mengikuti prakiraan cuaca dan informasi perkembangan musim dari BMKG.

Selama cuaca terasa panas terik sebaiknya hindari melakukan aktivitas fisik berat di bawah terik Matahari.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan pelindung seperti topi atau payung, cukupi kebutuhan cairan, dan cari tempat teduh secara berkala.

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya