Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah peristiwa melibatkan balita (bayi di bawah lima tahun) belakangan ini menimbulkan pertanyaan di sebagian masyarakat tentang keputusan orangtua dalam mengasuh anak.
Pertengahan pekan lalu masyarakat dikejutkan peristiwa anak berusia tiga terjatuh dari balkon hotel lantai lima di Samarinda, Kalimantan Timur, saat orangtuanya tengah sarapan. Terbaru, anak di bawah tiga tahun (batita) laki-laki ditemukan menangis sendirian di dalam tenda saat orangtua summit Gunung Prau, Jawa Tengah.
Advertisement
Banyak warganet di akun Threads pun mengutarakan isi hati atas tindakan orangtua yang meninggalkan anak balita sendirian itu. "Anak ditinggal sendiran gitu aja sudah aneh ortunya," tulis pemilik akun miftadharma.
"In my unpopular opinion, jadi orang tua udah pasti bikin keinginan dan ambisi pribadi lo jadi no sekian, karena anak yang pertama," tulis pemilik akun ubii__cilembu.
Sementara yang lain mengingatkan pentingnya kesiapan suami istri sebelum menjadi orangtua. "Lain kali jangan punya anak dulu kalau belum siap.
Psikolog anak, remaja dan keluarga, Hesty Novitasary mengungkapkan salah satu faktor yang membuat ada orangtua meninggalkan balita sendirian karena terlalu mengecilkan risiko.
Terlalu mengecilkan risiko yang dimaksud Hesty adalah orangtua tersebut mungkin berpikir, 'Oh anak aman kok di kamar di ruangan tertutup seperti kamar hotal atau tenda, dia enggak akan kemana-mana.'
Namun, Hesty mengatakan bahwa anak yang ditinggalkan tanpa pengawasan orang dewasa berisiko mengalami hal-hal yang tidak terduga. Misalnya saat anak ditinggal sedang tidur lalu saat terbangun tidak menemukan orang di dekatnya maka respons anak bisa berbeda-beda. Ada yang menangis atau mencari cara lain tak terduga agar merasa aman.
"Dalam situasi tersebut, anak bisa merasa takut dan tidak aman, sehingga berusaha mencari cara untuk mendapatkan rasa aman kembali," tutur Hesty dalam sambungan telepon pada Minggu (18/10/2026).
Karakter anak usia adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar dan ingin mencoba berbagai hal. Mereka belum memahami risiko dari tindakan yang dilakukan. Misalnya, ketika melihat jendela, mereka mungkin mencoba membukanya tanpa mengetahui bahaya yang bisa terjadi.
"Nah hal-hal ini sepertinya yang memang dari sudut pandang orangtua tidak berpikir sejauh itu," tutur psikolog yang praktik di Ruang Tumbuh ini.
Psikolog: Pertimbangkan Kebutuhan Utama Anak
Dari dua peristiwa itu Hesty mengingatkan agar orangtua mempertimbangkan kebutuhan utama anak sebelum mengambil keputusan.
“Kebutuhan utama anak adalah rasa kasih sayang dan aman. Dua hal itu yang benar-benar perlu menjadi pertimbangan orangtua dalam mengambil keputusan,” pesannya.
Sebelum memutuskan melakukan sesuatu, orangtua juga perlu meninjau kembali tujuan dan urgensi kegiatan tersebut. Misalnya, apakah kegiatan sarapan harus dilakukan saat itu juga atau bisa menunggu hingga anak siap diajak, serta apakah ada alternatif lain yang tidak mengharuskan anak ditinggalkan sendirian.
“Hal-hal yang menurut kita sederhana sebenarnya bisa memiliki risiko besar bagi anak, terutama anak balita karena kemampuan berpikir logis dan kemandirian mereka masih terbatas,” katanya
Orangtua juga perlu memberikan pemahaman kepada anak yang sudah bisa diajak berkomunikasi mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Termasuk apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat. Meski demikian, penjelasan tersebut tidak menggantikan kebutuhan akan pengawasan orang dewasa.
Ayah dan ibu juga perlu memahami berbagai risiko yang mungkin terjadi, terutama karena anak balita belum mampu berpikir logis secara matang dan mengambil keputusan secara mandiri.
“Risiko yang berkaitan dengan keselamatan fisik juga harus menjadi pertimbangan orangtua. Karena kembali lagi, anak-anak itu bergantung pada kita, pada orang dewasa untuk menjaga mereka,” jelasnya.