Kala Orangtua Ingin Menikmati Hidup, tetapi Lupa Bahwa Anak Bukan Aksesori

Psikolog ingatkan bila sudah bersama si Kecil, keamanan dan kenyamanan anak yang utama.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 18 Oktober 2026, 16:10 WIB
Balita laki-laki menangis sendirian di dalam tenda di kawasan Gunung Prau, Jawa Tengah, lantaran ditinggalkan orang tuanya selama sekitar 1,5 jam mendaki ke puncak. (Foto: Tangkapan Layar Sosmed)

Liputan6.com, Jakarta - Keinginan orangtua untuk tetap menikmati hobi dan menjalani aktivitas pribadi setelah memiliki anak bukanlah hal yang keliru. Namun, ketika keinginan itu membuat keselamatan dan kenyamanan anak terabaikan, orangtua perlu kembali melihat prioritasnya.

Belum lama ini, media sosial diramaikan oleh anak laki-laki di bawah tiga tahun yang menangis sendirian di dalam tenda di Gunung Prau. Ayah dan ibu sang anak ternyata melanjutkan perjalanan menuju puncak atau summit. Sang anak saat itu tidur lalu saat terbangun mendapati orangtua tidak sehingga membuatnya menangis sekitar 1,5 jam.

Beberapa hari sebelumnya, orangtua di Samarinda, Kalimantan Timur meninggalkan bayi dan balita tiga tahun tanpa orang dewasa di sebuah kamar di lantai 5 sebuah hotel. Anak yang berusia tiga tahun terjatuh dari balkon saat orangtua sedang sarapan di restoran hotel.

Lalu, apakah ini berarti orangtua muda zaman sekarang sebagai generasi yang ingin menikmati hidup dan lupa akan anak?

Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim tidak sepakat dengan hal itu. "Enggak bisa digeneralisasi sebagai generasi ya, ini individu. Bahwa ada orangtua yang punya tanggung jawab tapi luput," tutur sosok yang karib disapa Bunda Romi ini.

Romi menilai, ada orangtua merasa anak baik-baik saja karena sudah dititipkan bersama orang lain atau berada di tempat yang dianggap aman. Padahal, bagi anak usia balita, situasi tersebut belum tentu membuat mereka merasa aman dan nyaman. Apalagi jika berada di lingkungan asing atau baru.

"Mungkin orangtua itu berpikir, 'Ya cuma (sebentar), aman. Kan sudah dititipkan ke teman di tenda sebelah. Tapi tidak berpikir bahwa anak bisa punya masalah kalau tidak mengenal lingkungan. Lalu, anak tidak nyaman kalau tidak ada orang yang dia kenal," tutur Romi saat dihubungi via telepon pada Minggu (18/10/2026).

Faktor lain yang perlu orangtua ketahui adalah kemampuan berpikir balita masih konkret dan operasional. Balita meski sudah diberi tahu panjang dan lebar tapi belum bisa memahami situasi secara utuh.

"Mungkin sudah disampaikan oleh orangtua, 'Nanti ayah akan jalan dulu, kamu tidur saja di sini.' Nah, anak itu belum sampai (memahami) itu. Dia enggak bisa mengandaikan nanti itu kapan," jelas psikolog dengan expertise di bidang Psikologi Anak Usia Dini ini.

Psikolog: Orangtua Harus Punya Skala Prioritas

Saat seseorang sudah menyandang status sebagai orangtua maka harus tahu skala prioritas.

"Jadi, prioritas itu yang harus diutamakan. Dan prioritas itu apa sih? Kemampuan manusia untuk membagi apakah itu sesuatu yang urgent dan mendesak itu nomor satu. Paling nomor satu," tuturnya.

Prioritas orangtua adalah anak. Misalnya bila mengajak anak naik gunung, maka yang menjadi prioritas adalah kondisi anak. Contoh lain bila pergi belanja bersama anak maka prioritasnya bukan belanja tapi kondisi anak.

“Kalau kita mau naik gunung, sampai ke puncak sekalipun, kita mesti melihat kondisi anak dulu. Kalau anak tidak memungkinkan, tidak perlu melakukan kegiatan tersebut,” tegasnya.

Jika kondisi anak tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, orangtua sebaiknya mempertimbangkan pilihan lain. Termasuk bergantian mendaki sampai puncak gunung sehingga salah satu orangtua tetap mendampingi anak.

"Saat sudah menjadi orangtua itu kan bertanggung jawab terhadap anak. Nah tanggung jawab anaknya itu kan sangat tergantung pada tingkatan usia anak," jelasnya.

 

Dampak Balita Ditinggalkan Sendirian

Romi mengatakan pengalaman ditinggalkan dalam situasi asing dapat berdampak hingga ke masa depan. Anak bisa sulit percaya termasuk terhadap orangtua.

Lalu, anak juga bisa mengalami kecemasan. "Mungkin kecemasannya jadi tinggi. Takut ditinggal lagi, takut hal lain," katanya.

Meski dampaknya tidak selalu sama pada setiap anak, pengalaman tersebut tetap perlu menjadi pertimbangan orangtua sebelum mengambil keputusan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya