Ingin Kembali Jalankan Hobi Setelah Punya Anak, Perhatikan Hal Ini

Setelah menjadi ayah dan ibu, kehidupan bakal disibukkan dengan mengurus buah hati. Lalu, kapan bisa menjalankan hobi kembali?

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 19 Oktober 2026, 11:02 WIB
ilustrasi ibu dan anak/Photo by César Abner Martínez Aguilar on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Setelah menjadi orangtua, ayah dan ibu akan sibuk mengurus anak. Apalagi pada bulan-bulan pertama kehidupannya, anak sangat membutuhkan kehadiran dan pendampingan orangtua. Meski anak menjadi tanggung jawab utama, ayah dan ibu tetap bisa menjalankan hobi di tengah kesibukan mengasuh dan bekerja.

Psikolog klinis Indah Sulistyorini memahami bahwa kehamilan, persalinan, hingga mengasuh anak bukanlah hal yang mudah terutama untuk ibu. Orangtua perlu menjalani rutinitas yang berulang, mulai dari memenuhi kebutuhan anak hingga menyesuaikan waktu istirahat dengan pola tidur bayi. Rutinitas tersebut dapat menimbulkan kelelahan dan kejenuhan.

“Pasti melakukan sampai menjenuhkan, karena melakukan hal yang sama, harus konsisten, melakukan rutinitas yang sama,” kata Indah.

Maka orangtua juga perlu memiliki waktu untuk merawat diri atau self-care termasuk menjalankan hobi. Kebutuhan ini bukan hanya berlaku bagi ibu, tetapi juga ayah yang sama-sama menjalani tanggung jawab pengasuhan.

Ia menambahkan, orangtua perlu memiliki strategi untuk mengatur waktu agar tetap mempunyai ruang untuk memulihkan diri. Maka pengansuhan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada ibu atau ayah seorang diri. Dukungan pasangan dan orang-orang di sekitarnya turut diperlukan agar orangtua memiliki kesempatan beristirahat dan melakukan aktivitas yang disukai.

“Bukan berarti kemudian beban ini dibebankan pada si ibu atau si orangtua saja, karena pasti butuh support, memang dukungan, supaya dia juga punya ruang untuk bisa memulihkan kelelahan ataupun kejenuhannya dari rutinitas,” ujarnya.

Sesuaikan Hobi dengan Kebutuhan Anak

Keinginan untuk kembali menjalani hobi setelah memiliki anak bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, orangtua perlu menyesuaikan aktivitas dengan usia, kebutuhan, dan kondisi anak.

Indah mencontohkan, orangtua yang sebelumnya terbiasa mendaki gunung mungkin harus menunda keinginan mencapai puncak ketika anak masih terlalu kecil untuk ditinggalkan atau diajak melakukan aktivitas tersebut.

Bukan berarti orangtua tidak boleh kembali mendaki gunung atau melakukan hobi lainnya. Orangtua baru dapat mencari alternatif kegiatan yang lebih sesuai dengan kondisi keluarga saat ini.

"Nanti akan ada waktunya kok bisa kembali melakukan hobi seperti summit (naik ke puncak gunung) ketika anak sudah lebih besar dan mandiri," kata wanita yang aktif di Yayasan Pulih ini. 

Sembari menunggu anak besar dan mandiri ayah dan ibu bisa beraktivitas yang dekat dengan anak. Orangtua dapat mencoba aktivitas untuk menjaga keseimbangan diri, misalnya menulis jurnal (journaling), melakukan kegiatan yang membuat diri nyaman, atau mencari cara untuk mengelola emosi tanpa harus meninggalkan anak dalam situasi yang tidak aman.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya