Liputan6.com, Jakarta - Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan berisiko patah. Kondisi ini dapat dialami siapa saja, tetapi perempuan memiliki risiko lebih tinggi, terutama setelah memasuki masa menopause.
Dokter Rizky Priambodo Wisnubaroto, Sp. OT, CF-Sports Injury, AIFO-K, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi risiko osteoporosis pada perempuan adalah hormon estrogen. Hormon ini berperan menjaga keseimbangan antara proses pembentukan dan penghancuran jaringan tulang.
Advertisement
Dalam exclusive media interview dalam rangka Hari Osteoporosis Sedunia bersama RS Pondok Indah (RSPI) - Pondok Indah, Rizky menjelaskan bahwa penurunan kadar estrogen, terutama setelah menopause, dapat meningkatkan aktivitas sel yang menguraikan tulang. Akibatnya, kepadatan tulang berkurang dan tulang menjadi lebih rentan mengalami pengeroposan.
“Kalau misalnya kadar estrogennya kita turun, sel-sel di dalam tulang itu jadi lebih cepat untuk menyerap tulang kalsium yang ada di dalam tulang. Jadi dia lebih aktif. Karena dia lebih banyak menyerap, sehingga tulang kita jadi lebih keropos,” jelas Rizky melalui wawancara daring di Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.
Perubahan hormon tersebut membuat risiko osteoporosis pada perempuan perlu mendapat perhatian seiring bertambahnya usia.
Rizky menyebut pemeriksaan osteoporosis secara rutin umumnya mulai direkomendasikan pada perempuan usia 65 tahun dan laki-laki usia 70 tahun. Namun, orang dengan faktor risiko tertentu dapat memerlukan pemeriksaan lebih awal sesuai penilaian tenaga medis.
Kalsium dan Vitamin D Penting untuk Menjaga Kepadatan Tulang
Untuk menjaga kesehatan tulang, Rizky menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D. Kalsium merupakan mineral utama penyusun tulang, sedangkan vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium secara optimal.
Kebutuhan kalsium dapat dipenuhi melalui berbagai sumber makanan, seperti susu, keju, dan makanan lain yang mengandung mineral tersebut. Asupan ini sebaiknya menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.
Menurut Rizky, susu dapat menjadi pilihan praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi. Namun, konsumsi susu saja tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan gizi tubuh.
“Konsumsi susu saja itu sebenarnya kurang ideal. Karena sebenarnya susu itu kelasnya kan suplemen ya. Sebenarnya nggak ada yang mengalahkan sama makanan asli atau real food,” ujarnya.
Ia menambahkan, susu dan produk turunannya dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian, terutama ketika asupan dari makanan belum mencukupi. Meski begitu, makanan utuh tetap perlu menjadi bagian utama dari pola makan sehari-hari.
Aktivitas Fisik dan Vitamin D untuk Mencegah Osteoporosis
Selain kalsium, vitamin D dibutuhkan untuk membantu penyerapan kalsium dan menjaga kesehatan tulang. Tubuh dapat memproduksi vitamin D dengan bantuan paparan sinar matahari. Namun, berjemur saja tidak selalu menjamin kebutuhan vitamin D terpenuhi.
Rizky menyebut kecukupan vitamin D perlu menjadi perhatian, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tropis. Jika diperlukan, suplementasi dapat dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan individu dan saran tenaga kesehatan.
Selain menjaga asupan nutrisi, aktivitas fisik secara teratur juga penting untuk mempertahankan kesehatan tulang.
Karena itu, upaya mencegah osteoporosis sebaiknya dimulai sejak dini, bukan hanya ketika memasuki usia lanjut. Memenuhi kebutuhan nutrisi, rutin beraktivitas fisik, dan mengenali faktor risiko dapat membantu menjaga kesehatan tulang dalam jangka panjang.