Liputan6.com, Jakarta - Osteoporosis kerap dianggap sebagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan proses penuaan. Padahal, kondisi ini dapat ditangani dengan pengobatan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi dengan subkeahlian cedera olahraga, Rizky Priambodo Wisnubaroto, mengatakan bahwa pilihan pengobatan osteoporosis bergantung pada tingkat keparahan penyakit, kondisi tulang, serta ada atau tidaknya patah tulang.
Advertisement
“Kalau osteoporosis itu bisa diobati, bisa ya jawabannya. Obat-obatannya pilihannya banyak banget ya, jadi ada beberapa kelas obat-obatan yang bisa dikasih untuk pasien osteoporosis, tergantung kondisi pasiennya,” ujar Rizky dalam wawancara daring dalam rangka Hari Osteoporosis Sedunia di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Dokter yang berpraktik di RSPI Pondok Indah dan Puri Indah ini menjelaskan, pasien osteoporosis yang mengalami patah tulang mungkin memerlukan tindakan operasi. Sementara itu, pasien yang tidak mengalami patah tulang dapat ditangani dengan obat-obatan sesuai kebutuhan medisnya.
Menurut Rizky, pengobatan osteoporosis memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan massa tulang atau menghambat aktivitas sel yang merusak jaringan tulang.
“Obat-obatannya itu tujuannya dua, jadi kita mau meningkatkan massa tulangnya, atau obat-obatannya kita gunakan supaya sel-sel tulang yang ada di dalam tulangnya nggak terlalu aktif menggerogoti tulangnya,” katanya.
Ia menambahkan, terdapat beberapa golongan obat untuk osteoporosis. Karena itu, pemilihan jenis obat dan cara pemberiannya harus mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien.
Pengobatan Osteoporosis Perlu Disertai Pemantauan Rutin
Meski dapat membantu menangani osteoporosis, penggunaan obat-obatan tertentu berisiko menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, pasien perlu menjalani pemantauan medis secara berkala selama pengobatan.
Menurut Rizky, pemeriksaan dapat mencakup kadar kalsium dan vitamin D serta fungsi ginjal. Dokter juga perlu mengevaluasi terapi dalam jangka panjang untuk menentukan apakah pengobatan perlu dilanjutkan, disesuaikan, atau dihentikan sementara.
“Kalau sudah harus minum obat kayak gini, efek sampingnya cukup banyak. Jadi ada monitoring rutin yang harus dilakukan, kadar kalsium, vitamin D, fungsi ginjalnya, itu harus dicek terus,” ungkap Rizky.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan obat osteoporosis harus berada di bawah pengawasan tenaga medis untuk memastikan pengobatan berjalan sesuai kebutuhan pasien.
Osteoporosis Tak Hanya Mengancam Lansia
Osteoporosis memang sering dikaitkan dengan proses penuaan. Namun, kondisi ini juga dapat dialami orang yang lebih muda, terutama mereka yang memiliki faktor risiko tertentu.
Rizky menyebutkan sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis, antara lain diabetes tipe 1, gangguan hormon tertentu, penyakit ginjal, penyakit paru-paru, penyakit autoimun, serta konsumsi alkohol kronis.
Pada laki-laki, kebiasaan merokok juga menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diperhatikan. Selain itu, tubuh yang terlalu kurus dan asupan gizi yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko osteoporosis karena kebutuhan nutrisi untuk menjaga kesehatan tulang tidak terpenuhi dengan baik.
Tantangan lainnya, osteoporosis umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, seseorang bisa baru mengetahui kondisi tulangnya setelah mengalami patah tulang.
Karena itu, Rizky menekankan pentingnya mengenali faktor risiko dan melakukan pencegahan sejak dini. Menjaga asupan nutrisi, menerapkan gaya hidup sehat, serta berkonsultasi dengan tenaga medis jika memiliki faktor risiko merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan tulang.