Liputan6.com, Jakarta - Menjalani dua pekerjaan atau double job menjadi pilihan bagi sebagian orang untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi. Namun, di balik penghasilan tambahan yang diharapkan, ada kesehatan tubuh yang tidak boleh diabaikan, terutama kesehatan jantung.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FICA, mengatakan, stres merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung yang perlu diwaspadai.
Advertisement
Tekanan pekerjaan yang menumpuk, jam kerja panjang, dan kurangnya waktu istirahat dapat memperberat kondisi fisik maupun mental seseorang. "Waktu istirahat tidak bisa dikorbankan untuk menambah pekerjaan, seharusnya demikian," kata Vito kepada Kesehatan Liputan6.com, Selasa, 20 Oktober 2026.
Double Job dan Risiko Penyakit Jantung
Menurut Vito, stres tidak hanya dialami orang yang bekerja terlalu banyak. Seseorang yang kekurangan pekerjaan hingga kehilangan pemasukan juga dapat mengalami tekanan psikologis.
Persoalannya, ketika stres berkepanjangan diatasi dengan mengambil pekerjaan tambahan, beban yang dihadapi justru bisa semakin besar. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan kembali, terutama jika membuat seseorang kehilangan waktu tidur dan kesempatan memulihkan tubuh.
Kebiasaan tidur larut malam, kurang tidur, serta terus bekerja tanpa pemulihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Situasi ini juga berpotensi memengaruhi pola makan dan aktivitas fisik.
Orang yang menjalani double job mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk berolahraga. Pola makan pun berisiko menjadi tidak teratur karena harus memilih makanan yang praktis dan mudah dijangkau. Konsumsi minuman manis juga dapat menjadi pilihan ketika tubuh membutuhkan dorongan energi.
Vito menjelaskan bahwa stres, pola makan yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik dapat saling berkaitan dengan risiko gangguan metabolik dan obesitas. Keduanya juga dapat saling memengaruhi dan berhubungan dengan peradangan pada pembuluh darah.
Ketika seseorang mengalami stres, respons tubuh dapat memengaruhi penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan denyut jantung. Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan oksigen jantung. Jika disertai pola hidup yang tidak sehat, risiko kerusakan pembuluh darah dan penyumbatan perlu diwaspadai.
Kenali Tanda Gangguan Jantung Sejak Dini
Pekerja yang menjalani double job perlu memperhatikan sinyal tubuh, terutama ketika mengalami keluhan yang tidak biasa. Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain jantung berdebar tanpa sebab jelas, nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, sesak napas saat melakukan aktivitas ringan, dan keringat dingin.
Sesak napas ketika berjalan atau menaiki tangga, misalnya, tidak seharusnya langsung dianggap sebagai kelelahan biasa, terutama jika keluhan tersebut berulang.
Vito juga mengingatkan bahwa tekanan darah tinggi kerap tidak menimbulkan gejala. Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menunggu munculnya keluhan berat untuk memeriksakan kesehatan.
Pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, profil lemak, serta evaluasi jantung dapat menjadi bagian dari upaya mengenali faktor risiko. Jenis pemeriksaan yang diperlukan sebaiknya ditentukan bersama tenaga medis.
Istirahat Bukan Berarti Berhenti Produktif
Di tengah kebutuhan untuk terus bekerja, Vito mengingatkan pentingnya mengatur waktu dan memberikan ruang bagi tubuh untuk beristirahat. Menurut dia, menjaga kesehatan merupakan bagian dari upaya mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.
"Jangan merasa bersalah dengan perlu istirahat. Istirahat adalah hal yang perlu kita lakukan dan itu adalah bagian dari cara kita untuk tetap produktif," ujarnya.
Bagi pekerja yang harus menjalani double job, menjaga kesehatan jantung bukan berarti mengabaikan kebutuhan ekonomi. Sebaliknya, tubuh yang sehat diperlukan agar seseorang dapat terus bekerja dan mencapai tujuan hidupnya.