Liputan6.com, Jakarta - Tumbuh kembang anak sekolah dasar (SD) tidak hanya dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan prestasi akademik, tetapi juga kesehatan jiwa. Kondisi mental yang baik berperan penting dalam mendukung perkembangan kognitif, termasuk kemampuan anak membayangkan masa depan dan mengembangkan cita-cita.
Namun, masalah kesehatan mental pada anak tidak selalu mudah dikenali. Anak mungkin terlihat lebih pendiam, menarik diri dari pergaulan, atau jarang bermain dengan teman sebaya. Perubahan perilaku ini perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Advertisement
Survei pengabdian masyarakat yang dilakukan Indonesia Health Development Center (IHDC) terhadap 1.007 siswa SD dari empat sekolah di Jakarta menyoroti persoalan tersebut.
Dokter Levina Chandra menjelaskan, hasil survei menunjukkan sekitar 30 persen anak terindikasi mengalami kecemasan atau ansietas tingkat berat. Sementara itu, sekitar 30 persen lainnya berisiko mengalami depresi.
“Sebelum membahas yang berkaitan dengan fungsi kognitif harian, kita bisa melihat bahwa sekitar 30 persen ini sudah terindikasi kemungkinan berat alami ansietas. Jadi ada dua aspek yang kita nilai, ansietas dengan depresi,” ujar Levina dalam pemaparan hasil penelitian IHDC di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Temuan tersebut juga menunjukkan adanya hubungan antara masalah kesehatan jiwa dan gangguan fungsi kognitif sehari-hari. Levina menjelaskan, anak yang mengalami kecemasan memiliki persentase gangguan fungsi kognitif sebesar 36 persen. Sementara itu, anak yang berisiko mengalami depresi juga menunjukkan keterkaitan dengan gangguan fungsi kognitif harian.
Kecemasan dan Depresi Berkaitan dengan Daya Imajinasi Masa Depan
Selain fungsi kognitif, tim IHDC meneliti hubungan antara kesehatan jiwa dan kemampuan anak membayangkan masa depan. Kemampuan ini penting karena berkaitan dengan cara anak memikirkan cita-cita, melihat berbagai kemungkinan, dan mengembangkan gagasan tentang masa depan.
Levina menjelaskan, anak yang mengalami kecemasan maupun berisiko mengalami depresi cenderung memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk memperoleh skor rendah dalam daya imajinasi masa depan.
“Kami juga menghubungkan antara kesehatan jiwa dengan daya imajinasi masa depan. Tentu ini juga sangat penting. Kalau mereka sendiri tidak berpikir, tidak punya imajinasi yang baik tentang masa depan, bagaimana mereka nantinya jadi generasi penerus bangsa,” tutur Levina.
Ia menambahkan, anak yang mengalami kecemasan memiliki risiko 1,5 kali lebih tinggi untuk memperoleh skor daya imajinasi masa depan yang rendah. Pada anak yang berisiko mengalami depresi, risikonya mencapai 1,78 kali.
“Jadi anak-anak yang cemas ini, satu setengah kali berisiko memiliki daya imajinasi masa depan yang rendah. Dan kalau dilihat dari aspek depresi, 1,78 kali berisiko pada mereka yang mengalami depresi [...] untuk memiliki daya imajinasi masa depan yang rendah,” tambahnya.
Meski demikian, temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara kondisi kesehatan jiwa dan daya imajinasi masa depan, bukan berarti kecemasan atau depresi secara otomatis menyebabkan kemampuan tersebut menurun pada setiap anak.
Orang Tua dan Guru Perlu Peka terhadap Perubahan Perilaku Anak
Lingkungan perkotaan dengan berbagai tekanan sehari-hari menjadi salah satu aspek yang disoroti dalam kajian IHDC. Masalah kesehatan jiwa pada anak juga tidak selalu ditandai dengan perilaku ekstrem. Karena itu, orang tua dan guru perlu peka terhadap perubahan perilaku, seperti anak yang mulai menarik diri dari pergaulan atau kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasanya disukai.
Selain kesehatan jiwa, penelitian ini menyoroti gangguan penglihatan atau kelainan refraksi yang belum dikoreksi sebagai faktor lain yang berkaitan dengan hambatan fungsi kognitif sehari-hari.
Temuan tersebut menegaskan pentingnya memantau tumbuh kembang anak secara menyeluruh, baik dari sisi kesehatan fisik maupun psikologis.
Deteksi dini tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua. Sekolah juga dapat berperan dengan memantau kondisi siswa serta melakukan skrining kesehatan fisik dan mental secara berkala. Pelaksanaannya perlu melibatkan tenaga profesional dan mengikuti prosedur yang tepat agar anak yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya.