Waspada Vitamin Palsu, Pastikan Cek Keaslian Produk Sebelum Beli

Jika mengonsumsi vitamin diduga palsu segera hentikan penggunaan dan konsultasi ke dokter.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 21 Oktober 2026, 09:00 WIB
Ilustrasi vitamin palsu. Credits: unsplash.com by Towfiqu barbhuiya

Liputan6.com, Jakarta - Awal Oktober 2026, Bareskrim Polri mengungkap sarana produksi ilegal vitamin sirup di Lampung. Vitamin anak palsu yang beredar secara online dengan kisaran Rp 50.000.

Jika telanjur mengonsumsi vitamin yang diduga palsu, masyarakat disarankan segera menghentikan konsumsi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, meski belum merasakan keluhan apa pun.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Sulpiana, MBiomed, mengingatkan kemudahan berbelanja secara online perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap keaslian produk kesehatan. Produk kesehatan palsu dapat mengandung bahan aktif yang tidak sesuai, tidak mengandung bahan aktif sama sekali, atau bahkan mengandung zat berbahaya.

Sulpiana mengingatkan, konsumsi vitamin palsu tidak selalu langsung menimbulkan gejala. Konsumen tidak boleh menganggap produk tersebut aman hanya karena tubuh tidak menunjukkan reaksi tertentu.

“Tidak munculnya keluhan bukan berarti produk tersebut aman,” tegasnya.

Dampak yang mungkin timbul bergantung pada kandungan produk, jumlah dan frekuensi konsumsi, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.

Jika telanjur sudah mengonsumsi produk vitamin yang diduga palsu maka segera hentikan konsumsi.

“Jangan mencoba menghabiskan produk hanya karena masih tersisa atau karena sudah mengeluarkan biaya untuk membelinya,” kata Sulpiana mengutip laman IPB. 

Kedua, simpan kemasan produk, nomor bets, dan bukti pembelian. Informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan maupun pihak berwenang menelusuri produk yang dikonsumsi.

Ketiga, catat waktu dan jumlah konsumsi, termasuk gejala yang muncul setelahnya. Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain mual, muntah, diare, ruam, gatal, pusing, dan tubuh lemas.

Jika muncul gejala berat seperti sesak napas, pembengkakan lidah atau tenggorokan, kejang, penurunan kesadaran, atau nyeri perut hebat, segera cari pertolongan medis.

“Jangan menunggu sampai gejala memburuk untuk mencari pertolongan,” tegasnya.

Keempat, konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan. Dokter akan menilai apakah konsumen memerlukan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut berdasarkan kondisi masing-masing.

Sulpiana juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan muntah atau melakukan detoksifikasi tanpa petunjuk tenaga kesehatan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya