Anak Saksikan Ibu Meninggal di Atas Motor, Bagaimana Melindungi Mentalnya?

Ibu meninggal di atas motor di Ponorogo, kenali dampak psikologis kehilangan ibu dan cara melindungi mental anak.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 21 Oktober 2026, 12:17 WIB
Lu'luatun Nikmah (38), ibu tunggal di Ponorogo, meninggal dunia di atas motor saat hendak membawa anak bungsunya berobat. Kehilangan mendadak dapat berdampak pada psikologis anak dan perlu pendampingan keluarga. (Foto: Twitter @TanyarlBase)

Liputan6.com, Jakarta - Peristiwa ibu meninggal di atas motor saat hendak membawa anaknya berobat di Ponorogo, Jawa Timur, menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Di balik tragedi tersebut, dampak psikologis yang mungkin dialami anak setelah kehilangan orang tua secara mendadak perlu menjadi perhatian, termasuk bagaimana melindungi kesehatan mentalnya.

Lu'luatun Nikmah (38), seorang ibu tunggal di Ponorogo, meninggal dunia di atas sepeda motor pada Sabtu (17/10/2026). Saat itu, ia hendak membawa anak bungsunya yang berusia 3 tahun berobat.

Lu'luatun sempat menepikan sepeda motornya di depan Puskesmas Slahung sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehilangan orang tua secara mendadak dapat membawa dampak emosional bagi anak, terutama ketika mereka masih membutuhkan kehadiran dan pendampingan orang tua.

Mengutip rangkuman di akun Instagram @hccc.indonesia, Ketua HCC Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, Ph.D, FRSPH, mengatakan, ada sejumlah respons psikologis yang mungkin dialami anak setelah menghadapi kejadian traumatis atau kehilangan orang terdekat.

Dampak Psikologis Anak Setelah Kehilangan Ibu

1. Anak Bisa Mengalami Syok dan Kebingungan

Anak mungkin terdiam, menangis, terlihat bingung, atau justru tidak menunjukkan emosi secara jelas. Respons tersebut dapat muncul ketika anak menghadapi situasi yang sangat menegangkan.

Anak yang terlihat tenang bukan berarti tidak merasa kehilangan atau tidak menyayangi ibunya. Karena itu, orang dewasa perlu memberikan ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan tanpa paksaan.

2. Anak Bisa Merasa Terus Berada dalam Bahaya

Kejadian yang sangat menegangkan dapat mengaktifkan sistem respons stres tubuh. Anak mungkin mengalami jantung berdebar, sulit tidur, mudah terkejut, atau takut berpisah dari pengasuhnya.

Untuk membantu anak merasa aman kembali, keluarga perlu menghadirkan lingkungan yang tenang, memberikan perhatian, dan menjaga rutinitas sehari-hari.

3. Anak Mungkin Kesulitan Memahami Arti Kematian

Pada usia dini, pemahaman anak tentang kematian belum sama dengan orang dewasa. Anak bisa terus bertanya kapan ibunya pulang atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang terjadi.

Orang dewasa perlu menjelaskan kematian dengan bahasa sederhana, jujur, dan sesuai usia anak. Hindari penjelasan yang membingungkan atau membuat anak merasa bersalah.

4. Video Viral Dapat Menambah Beban Psikologis

Penyebaran rekaman tragedi di media sosial juga perlu menjadi perhatian. Video yang terus beredar berpotensi mengganggu privasi anak dan membuatnya kembali terpapar pengalaman menyakitkan, termasuk ketika tumbuh lebih besar.

Masyarakat sebaiknya tidak menyebarluaskan rekaman yang memperlihatkan anak dalam situasi rentan. Menghormati privasi merupakan salah satu cara melindungi anak dari dampak lanjutan peristiwa tersebut.

5. Kehilangan Dapat Memicu Duka Berat, tetapi Trauma Tidak Selalu Terjadi

Setiap anak memiliki respons berbeda terhadap kehilangan. Sebagian dapat pulih dengan dukungan keluarga, sedangkan sebagian lainnya mungkin mengalami mimpi buruk, menarik diri, kesulitan mengikuti kegiatan sekolah, atau kesedihan yang menetap.

Cara Melindungi Kesehatan Mental Anak

Tim edukasi HCC mengingatkan bahwa kehilangan mendadak dapat menimbulkan duka berat, tetapi tidak berarti setiap anak pasti mengalami trauma berkepanjangan.

Keluarga dapat membantu anak melewati masa berduka dengan memberikan rasa aman, menjaga rutinitas, serta mendengarkan perasaan dan pertanyaan anak tanpa menghakimi. Anak juga tidak perlu dipaksa segera ceria atau berhenti bersedih karena proses berduka membutuhkan waktu.

Jika perubahan perilaku berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, keluarga dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental profesional.

 

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by KOLABORASI SEHAT (@hcc.indonesia)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya