Liputan6.com, Singapura - Ketertarikan anak terhadap produk perawatan kulit atau skincare kini menjadi perhatian. Tidak sedikit anak perempuan yang mulai menggunakan produk kecantikan sejak usia dini, bahkan mengikuti rutinitas perawatan kulit orang dewasa meski belum membutuhkannya.
Kondisi ini perlu diwaspadai ketika ketertarikan tersebut berkembang menjadi obsesi untuk mendapatkan kulit sempurna. Fenomena ini dikenal sebagai kosmetikoreksia (cosmeticorexia), yakni perilaku obsesif terhadap kosmetik dan perawatan kecantikan yang dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
Advertisement
Dokter kulit dari Children & Adult Skin Hair Laser Clinic di Mount Elizabeth Novena Hospital, Dr. Lynn Chiam, menjelaskan, kosmetikoreksia merupakan obsesi tidak sehat untuk mendapatkan kulit tanpa cela. Kondisi ini mendorong seseorang menggunakan produk kosmetik secara berlebihan, kompulsif, atau tidak sesuai dengan usianya.
"Bagi mereka, penampilan menjadi bagian utama dari harga diri," kata Chiam, menggambarkan anak-anak yang terpaku pada noda kecil di kulit dan menghabiskan banyak waktu serta uang untuk menghilangkannya, dikutip Channel News Asia pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Obsesi Skincare pada Anak Dipengaruhi Media Sosial
Fenomena kosmetikoreksia terlihat pada anak-anak yang mulai menggunakan produk perawatan kulit untuk orang dewasa, meskipun tidak memiliki masalah kulit yang berarti. Sebagian bahkan mengikuti tren kecantikan viral, seperti glass skin, demi mendapatkan kulit yang mulus dan tampak bercahaya.
Psikolog klinis dari Annabelle Psychology, Dr. Annabelle Chow, mengatakan anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan sehingga kemampuan mereka mengambil keputusan belum sepenuhnya matang.
"Anak-anak cenderung lebih impulsif, ingin mengikuti teman-temannya, dan berusaha mendapatkan pengakuan dari orang lain," ujar Chow.
Media sosial turut memperkuat tekanan tersebut. Konten kecantikan di Instagram dan TikTok membuat anak lebih mudah terpapar standar penampilan yang tidak realistis. Algoritma platform juga dapat terus menampilkan konten serupa ketika pengguna sering berinteraksi dengan video perawatan kulit atau riasan.
Kepala sekaligus psikolog senior di Layanan Psikologi KK Women's and Children's Hospital, Cheong Xinyi, mengatakan paparan konten kecantikan setiap hari dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
"Platform ini dapat mengaburkan pemahaman anak tentang seperti apa kulit yang sehat dan alami, hingga akhirnya memicu obsesi tidak sehat terhadap kosmetik," ujarnya.
Produk Skincare Dewasa Bisa Merusak Kulit Anak
Selain berdampak pada kesehatan mental, penggunaan produk perawatan kulit yang tidak sesuai usia juga berisiko merusak kulit anak.
Kepala sekaligus konsultan senior dermatologi di KK Women's and Children's Hospital, Associate Professor Mark Koh, mengatakan anak-anak sebenarnya tidak membutuhkan rutinitas skincare yang rumit.
Jika diperlukan, perawatan dasar cukup meliputi pembersih wajah yang lembut, pelembap untuk kulit kering atau iritasi, serta tabir surya dengan SPF 30 atau lebih saat beraktivitas di luar ruangan.
Produk yang mengandung retinoid, bahan eksfoliasi kimia kuat seperti AHA dan BHA, serta serum antipenuaan sebaiknya dihindari tanpa rekomendasi tenaga medis. Bahan-bahan tersebut dapat mengganggu lapisan pelindung kulit dan memicu iritasi maupun reaksi alergi.
Peran Orang Tua Mencegah Kosmetikoreksia
Untuk mencegah kosmetikoreksia, orang tua perlu mendampingi anak memahami penggunaan produk kecantikan, bukan sekadar melarang atau menghukum mereka.
Cheong Xinyi menyarankan orang tua mendengarkan anak tanpa menghakimi, menetapkan batasan produk yang sesuai usia, serta membantu mereka memahami bagaimana iklan dan filter media sosial membentuk standar kecantikan yang tidak realistis.
Hal terpenting adalah membangun kepercayaan diri anak tanpa mengaitkannya semata-mata dengan penampilan.