Sahabat Naga Ada Band Meninggal akibat Kanker Usus, Sempat Dikira GERD

Sahabat Naga Ada Band meninggal akibat kanker usus yang sempat dikira GERD. Kenali pentingnya deteksi dini.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 21 Oktober 2026, 16:36 WIB
Vokalis Ada Band, Naga, menceritakan pengalaman kehilangan sahabat akibat kanker usus yang sempat dikira GERD. Kisah ini menjadi pengingat pentingnya mengenali gejala dan melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Sakit perut kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa, seperti asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Namun, vokalis Ada Band, Indra Sinaga atau Naga, punya pengalaman berbeda. Ia kehilangan seorang sahabat dekat akibat kanker usus yang terlambat terdiagnosis.

Awalnya, sahabat Naga mengeluhkan sakit perut dan mengira kondisinya disebabkan oleh GERD. Ia pun berulang kali mengonsumsi obat untuk mengatasi gangguan asam lambung tersebut.

Namun, ketika rasa sakit semakin parah, ia akhirnya memeriksakan diri ke dokter. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa keluhan tersebut ternyata disebabkan oleh kanker usus.

"Jadi seorang sahabat dekat kami waktu itu dia mengeluh sakit perut, dia selalu berpikir GERD nih, akhirnya selalu minum obat anti GERD, tidak pernah berpikir ke hal yang lain. Sampai mungkin karena dia sudah merasa terlalu sakit akhirnya dia konsultasi ke dokter, diperiksa lebih jauh dan ternyata mengidap kanker usus," ujar Naga.

Naga menambahkan bahwa kondisi sahabatnya memburuk dengan cepat setelah diagnosis ditegakkan. Saat itu, kanker usus yang dideritanya sudah memasuki stadium 4.

Pentingnya Deteksi Dini dan Edukasi Masyarakat

Pengalaman kehilangan sahabat mendorong Naga bersama Ada Band untuk terlibat dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang kanker. Bersama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan organisasi Palapa, mereka turut menyuarakan pentingnya edukasi dan deteksi dini.

Pasalnya, beberapa jenis kanker tidak selalu menunjukkan gejala khas pada tahap awal. Akibatnya, penyakit tersebut berisiko baru terdeteksi ketika sudah berkembang ke stadium lanjut.

Menurut Naga, pengalaman tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan keluhan kesehatan dan melakukan pemeriksaan medis sesuai kebutuhan.

"Paling tidak, mungkin kalau bicara awareness kesadaran tadi mungkin untuk (lakukan) check-up kesehatan ya. Seandainya, amit-amit, terdeteksi positif, proses penanganannya bisa (dikatakan) lebih ringan atau mudah," ujarnya.

Ia berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan. Dengan mengetahui kondisi tubuh lebih awal, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter dan merencanakan penanganan yang sesuai.

Karena itu, edukasi kanker tidak hanya penting bagi orang yang sedang sakit, tetapi juga bagi masyarakat luas sebagai bagian dari upaya pencegahan dan deteksi dini.

Kolaborasi Lewat Konser Musik Kemanusiaan

Kepedulian terhadap persoalan kanker juga mendorong Naga dan rekan-rekannya untuk terlibat dalam kegiatan penggalangan dana sekaligus edukasi. Menurutnya, musisi dapat membantu menyampaikan pesan kesehatan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Naga menilai musik memiliki kekuatan untuk menyentuh perasaan pendengarnya. Meski setiap orang memiliki selera musik yang berbeda, lagu dan pertunjukan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan yang lebih mudah diingat.

"Lewat lagu atau sebuah pertunjukan, kita mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan tentang deteksi dan action ini, dengan lebih santai, lebih smooth, lebih relax, sehingga bisa tersampaikan dan lebih diingat," kata Naga.

Pelantun lagu "Yang Terbaik Bagimu" itu berharap kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengumpulan dana untuk membantu para pejuang kanker. Kolaborasi berbagai pihak juga diharapkan dapat memperluas edukasi, meningkatkan kesadaran tentang deteksi dini, serta memberikan dukungan moral bagi pasien dan keluarganya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya