Menata Hati Lewat Meditasi, Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri

Menata hati lewat meditasi membantu mengenali emosi, melepas pikiran negatif, dan menemukan ketenangan diri.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 21 Oktober 2026, 16:24 WIB
Meditasi menjadi salah satu cara untuk mengenali emosi, melakukan refleksi diri, dan menata hati. Melalui praktik ini, seseorang diajak belajar melepaskan perasaan negatif dan menemukan kedamaian batin. | unsplash.com/Jared Rice

Liputan6.com, Jakarta - Kedamaian hidup tidak selalu ditentukan oleh pencapaian pekerjaan, materi, atau lingkungan yang nyaman. Mengenali diri sendiri, mengelola emosi, dan menata hati juga menjadi bagian penting untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang.

Pendiri Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK), Bunda Arsaningsih, menjelaskan bahwa melalui konsep Tata Hati, seseorang diajak mengenali kondisi batin dan memperbaiki diri. Menurutnya, banyak orang ingin merasakan kedamaian, bersyukur, dan menjalani hidup dengan ikhlas, tetapi belum mengetahui cara memulainya.

Mengenali Emosi dan Menata Hati

Dalam konsep Tata Hati, seseorang diajak mengenali berbagai emosi negatif, seperti kemarahan, iri hati, kecemburuan sosial, dan kesombongan. Emosi tersebut perlu disadari agar seseorang dapat mengevaluasi diri serta memperbaiki sikap dan perilakunya.

Salah satu metode yang digunakan adalah meditasi SOUL (Spirit of Universal Life) Reflection. Melalui praktik ini, peserta diajak mengenali perasaan negatif, belajar melepaskannya, lalu menggantinya dengan afirmasi positif.

Bunda Arsaningsih juga menekankan pentingnya kasih sayang, toleransi, dan kedamaian. Dalam pendekatan spiritual yang dikembangkannya, nilai-nilai tersebut dikaitkan dengan cakra jantung.

Menurutnya, menata hati tidak hanya berkaitan dengan hubungan seseorang dengan Tuhan, tetapi juga dengan diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan. Kepedulian terhadap hewan dan tumbuhan pun menjadi bagian dari sikap yang perlu dibangun.

Dalam filosofi Jawa, pendekatan ini sejalan dengan ungkapan ngelerem ati atau menenangkan hati dan ngoreksi batin atau mengevaluasi diri. Nilai eling, nerimo, dan waspodo juga menjadi pengingat untuk tetap sadar, menerima keadaan dengan lapang dada, dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Menemukan Kedamaian dari Dalam Diri

Bunda Arsaningsih berpandangan bahwa ketenangan tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada keadaan di luar diri. Ketika lingkungan tidak memberikan kenyamanan, seseorang tetap dapat belajar menemukan ketenangan melalui proses mengenali dan memperbaiki diri.

Dalam pandangannya, hubungan spiritual dengan Tuhan dan upaya menjaga kebersihan batin menjadi bagian dari proses tersebut. Ia mengajak setiap orang untuk mengurangi pikiran negatif, belajar bersyukur, dan membuka diri terhadap perubahan.

Meditasi Bukan Pengganti Bantuan Profesional

Bunda Arsaningsih mengajak masyarakat mengenali emosi dan menata hati melalui meditasi Tata Hati. Praktik ini mendorong refleksi diri, melepaskan perasaan negatif, dan belajar menemukan kedamaian hidup. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Meditasi dapat menjadi salah satu cara untuk meluangkan waktu, mengenali emosi, dan melakukan refleksi diri. Namun, praktik ini bukan pengganti bantuan profesional ketika masalah kesehatan mental mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jika membutuhkan dukungan, masyarakat dapat mencari bantuan dari psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental yang tersedia. Di Indonesia, masyarakat juga dapat mengakses layanan dukungan psikologis melalui Healing119.id.

 

5.204 Orang Ikuti Meditasi Tata Hati di Yogyakarta

Bunda Arsaningsih mengajak masyarakat mengenali emosi dan menata hati melalui meditasi Tata Hati. Praktik ini mendorong refleksi diri, melepaskan perasaan negatif, dan belajar menemukan kedamaian hidup. (Dokumentasi Pribadi)

Sebanyak 5.204 orang mengikuti kegiatan Tata Hati Indonesia yang digelar Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Peserta terdiri dari 3.105 orang yang hadir langsung dan 2.099 orang yang mengikuti secara daring. Mereka berasal dari 34 provinsi di Indonesia dan 13 negara.

Kegiatan ini meliputi pemaparan materi dan meditasi, serta dialog bersama Bunda Arsaningsih dan dr. Rastho Mahotama. Acara dibuka dengan prosesi penanaman gunungan wayang berbentuk kayon sebagai simbol kepedulian terhadap kesejahteraan Nusantara.

Kegiatan ini menjadi penyelenggaraan Tata Hati Indonesia ke-11 sejak pertama kali digelar di Denpasar pada Februari 2025. Peserta dapat mengikuti acara tanpa biaya pendaftaran, dengan donasi sukarela.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya