Tumbuh di Keluarga yang Sama, Mengapa Kepribadian Anak Berbeda?

Mengapa kepribadian anak berbeda meski tumbuh di keluarga yang sama? Kenali faktor genetik dan lingkungan.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 22 Oktober 2026, 16:46 WIB
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang sama belum tentu memiliki kepribadian serupa. Faktor genetik, pola asuh, pertemanan, dan pengalaman hidup dapat membentuk karakter setiap anak secara berbeda. (dok. unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang sama belum tentu memiliki kepribadian serupa. Salah satunya mungkin tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mudah bergaul, sementara saudaranya cenderung pendiam dan lebih menyukai aktivitas yang dilakukan sendiri.

Meski dibesarkan oleh orang tua yang sama dan tinggal di rumah yang sama, kakak dan adik dapat berkembang menjadi individu dengan karakter berbeda. Fenomena ini wajar karena setiap anak memiliki kombinasi genetik, pengalaman, dan lingkungan yang tidak sepenuhnya sama.

Memiliki Kombinasi Genetik yang Berbeda

Dilansir dari Times of India, Kamis (22/10/2026), salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan kepribadian saudara kandung adalah genetika. Meski memiliki orang tua biologis yang sama, saudara kandung tidak mewarisi kombinasi gen yang identik.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa saudara kandung dari orang tua biologis yang sama rata-rata memiliki sekitar 50 persen kesamaan genetik. Perbedaan kombinasi gen ini dapat berkontribusi terhadap temperamen, tingkat sensitivitas, energi, dan karakter lainnya.

Sebagai contoh, sang kakak mungkin cenderung berhati-hati saat menghadapi situasi baru, sedangkan adiknya lebih spontan dan mudah bersosialisasi.

Meski demikian, genetika bukan satu-satunya faktor penentu kepribadian. Lingkungan dan pengalaman hidup juga berperan dalam membentuk karakter setiap anak.

Pola Pengasuhan dan Pengalaman yang Berbeda

Tinggal di rumah yang sama tidak berarti setiap anak mendapatkan pengalaman yang sepenuhnya serupa. Perhatian orang tua, kedekatan dengan ayah atau ibu, serta pengalaman di sekolah dan lingkungan sosial dapat berbeda pada setiap anak.

Para psikolog mengenal konsep nonshared environment, yaitu pengalaman lingkungan yang tidak sepenuhnya sama di antara saudara kandung, meskipun mereka tumbuh dalam keluarga yang sama.

Misalnya, seorang anak mungkin mendapat lebih banyak perhatian ketika menghadapi kesulitan di sekolah. Sementara itu, saudaranya justru lebih dekat dengan kakek atau nenek daripada dengan orang tuanya.

Perbedaan pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara setiap anak memandang diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain.

Interaksi antara kakak dan adik juga turut membentuk kepribadian. Persaingan, perbandingan, dan pembagian peran dalam keluarga dapat membuat setiap anak mengembangkan identitas yang berbeda.

Ketika salah satu anak dikenal sebagai sosok yang bertanggung jawab, misalnya, saudaranya mungkin lebih menonjol karena sifat humoris atau mandiri.

Hal ini tidak selalu menunjukkan adanya masalah dalam keluarga. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi bagian dari proses setiap anak menemukan identitasnya sendiri.

Pertemanan dan Urutan Kelahiran Turut Berpengaruh

Pengalaman di luar rumah, seperti pertemanan, hubungan dengan guru, kegiatan olahraga, dan lingkungan sosial, juga dapat memperkuat perbedaan karakter.

Anak yang bergaul dengan teman-teman yang percaya diri, misalnya, dapat memperoleh pengalaman sosial yang berbeda dari saudaranya. Pengalaman tersebut kemudian dapat memengaruhi cara mereka berkomunikasi dan menghadapi situasi baru.

Selain itu, urutan kelahiran dapat memengaruhi cara anak memandang perannya dalam keluarga.

Anak sulung mungkin lebih sering diharapkan untuk membantu atau memimpin. Sementara itu, adiknya dapat memiliki pengalaman dan kebebasan yang berbeda, termasuk dalam menentukan sikap atau menghadapi ekspektasi keluarga.

Namun, urutan kelahiran bukanlah aturan mutlak yang menentukan kepribadian seseorang. Karakter anak tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi.

Pengalaman tak terduga juga dapat meninggalkan pengaruh, mulai dari pertemuan dengan orang tertentu hingga pencapaian pribadi atau pengalaman memalukan. Berbagai pengalaman tersebut turut membentuk cara anak memahami dirinya sendiri dan merespons lingkungan di sekitarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya