Akses Dokter Gigi Masih Minim, Indonesia Bidik Peluang Wisata Kesehatan

Akses dokter gigi masih minim di Indonesia. IDEC 2027 dorong teknologi dan peluang wisata kesehatan.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 22 Oktober 2026, 17:43 WIB
Akses layanan dokter gigi masih menjadi tantangan di Indonesia. Melalui IDEC 2027, para profesional mendorong peningkatan teknologi, kualitas pelayanan, dan pengembangan wisata kesehatan dalam negeri. (Foto: Rachel Aulia/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kesenjangan akses layanan kesehatan gigi masih menjadi tantangan di Indonesia. Di tengah tingginya kebutuhan masyarakat, jumlah warga yang memanfaatkan layanan dokter gigi belum sebanding. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan tenaga kesehatan, sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan wisata kesehatan (health tourism) agar masyarakat tidak perlu berobat ke luar negeri.

Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), drg. Usman Sumantri, mengatakan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan gigi masih jauh lebih besar dibandingkan akses yang tersedia.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 57,6 persen masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan gigi, tetapi hanya 10,2 persen yang mengaksesnya. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat kebutuhan layanan kesehatan gigi mencapai 57,9 persen, sedangkan aksesnya baru 11,6 persen.

“Artinya, antara survei 2018 dan 2023, hanya sedikit ada peningkatan. Beban kerja dokter gigi sebenarnya besar sekali, cuma masyarakat tidak punya akses yang sama,” ujar Usman dalam penyelenggaraan Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) 2027 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Usman juga menyebut sekitar 82 persen masyarakat Indonesia mengalami karies, dengan 74,1 persen kasus terjadi pada gigi tetap.

Menurutnya, keterbatasan akses berkaitan dengan distribusi dokter gigi yang belum merata. Data PDGI mencatat Indonesia memiliki 58.154 dokter gigi, terdiri atas 51.970 dokter gigi umum dan 6.184 dokter gigi spesialis.

Saat ini, Indonesia memiliki 47 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Penambahan jumlah fakultas diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan tenaga dokter gigi dalam lima hingga enam tahun mendatang. Namun, pemerataan distribusi dan pengaturan beban kerja juga perlu menjadi perhatian.

“Yang perlu diperbaiki adalah beban kerja, distribusi dokter, dan jumlahnya,” kata Usman.

Tingkatkan Kualitas Layanan dan Teknologi

Selain memperluas akses, peningkatan kualitas pelayanan menjadi langkah penting untuk memperkuat kepercayaan masyarakat. Usman menekankan bahwa penerapan teknologi kedokteran gigi harus tetap mengutamakan keselamatan pasien, kualitas layanan, dan etika profesi.

“Patient-centered care. Jadi, perubahan ini tidak hanya menggunakan teknologi canggih, tetapi bagaimana keselamatan pasien dengan teknologi baru itu bisa kita adopsi dan punya kualitas yang baik,” ujarnya.

Penguatan layanan kesehatan dalam negeri juga berkaitan dengan peluang wisata kesehatan. Direktur Utama InJourney Hospitality, Christine Hutabarat, menyampaikan bahwa berdasarkan data statistik 2021, sekitar dua juta warga Indonesia pergi ke luar negeri untuk mencari pengobatan.

Menurut Christine, keputusan pasien dipengaruhi kepercayaan terhadap dokter, proses pelayanan, serta reputasi fasilitas medis yang dibangun melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Kedokteran gigi juga termasuk lima besar kategori layanan kesehatan yang dicari masyarakat Indonesia saat berobat ke luar negeri.

“Kalau orang Indonesia ke luar negeri, itu adalah devisa yang sangat tinggi untuk Indonesia sendiri, di mana kita kehilangan momentum untuk menangkap pengeluaran itu di dalam negeri,” ujar Christine.

IDEC Dorong Wisata Kesehatan Indonesia

Salah satu upaya mengembangkan layanan kesehatan dalam negeri adalah pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan The Sanur di Bali. Kawasan seluas sekitar 42 hektare ini menghadirkan Bali International Hospital, klinik internasional, hotel berbintang lima, serta fasilitas hunian bagi warga lanjut usia.

Ketua Steering Committee IDEC dari PDGI, drg. Himawan Halim, mengatakan IDEC menjadi wadah bagi tenaga profesional untuk mengenal teknologi, bahan, dan teknik klinis terbaru. Acara ini juga menghadirkan sesi ilmiah selama tiga hari dengan pembicara internasional.

Sementara itu, Managing Director sekaligus Regional President Asia-Pacific Koelnmesse Pte Ltd, Mathias Kuepper, menilai Indonesia memiliki potensi mengembangkan wisata kesehatan. Namun, potensi tersebut perlu didukung investasi, pembaruan teknologi, dan peningkatan pelayanan pasien.

IDEC 2027 dijadwalkan berlangsung pada 19–21 November 2027 di Jakarta International Convention Center (JICC). Diselenggarakan oleh PDGI bersama PT Nine Koeln Indonesia, acara ini menargetkan 250 merek dari lebih dari 10 negara dan wilayah, area pameran sekitar 5.000 meter persegi, serta 7.000 pengunjung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya