PDGI Ungkap Prosedur Pengendalian Infeksi saat Perawatan Gigi Usai Ramai Isu HIV

Di media sosial ramai warganet khawatir tertular HIV saat melakukan perawatan di dokter gigi.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 22 Oktober 2026, 20:00 WIB
Dokter Gigi Usman Sumantri tegaskan keselamatan pasien telah menjadi fokus utama dalam pelayanan kesehatan melalui pendekatan patient centered care.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), dokter gigi Usman Sumantri menegaskan bahwa keselamatan pasien menjadi fokus utama dalam pelayanan kesehatan. Sehingga ia meminta masyarakat untuk tidak ragu untuk memeriksakan atau merawat kondisi kesehatan gigi ke dokter gigi. 

Hal itu Usman sampaikan usai viral warganet takut terinfeksi penyakit menular seperti HIV saat scaling atau melakukan tindakan lain ke dokter gigi.

Ia menyatakan bahwa saat ini keselamatan pasien telah menjadi fokus utama dalam pelayanan kesehatan melalui pendekatan patient centered care.

"Sekarang itu kan keselamatan pasien menjadi fokus utama dalam pelayanan kesehatan, siapa pun dia. Dari sisi penyedia fasilitas, penyedia pelayanan, sarana prasarana, lingkungan, termasuk bahan habis pakai, termasuk limbah cair, limbah infeksius. Hampir semua fasilitas pelayanan itu dilakukan akreditasi," ujar Usman usai acara peluncuran Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) 2027 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Usman menjelaskan bahwa risiko penularan HIV atau penyakit menular lain ditekan melalui prosedur pencegahan dan pengenalian infeksi yang ketat.

"Kalau dulu kan dokter koboi ya. Sekarang mah perawat, semua harus cuci tangan, cuci tangan ada caranya, langkah-langkahnya. Dia harus pakai handscoon, pakai masker, pakai APD lengkap. Itu diperhatikan banget, jauhlah. Jadi jangan ragu," tegasnya.

Ia menambahkan, pasien pun dapat melihat langsung saat tindakan apakah dokter menjalankan proses preventif tersebut. Jika tenaga medis telah melindungi dirinya sendiri dengan benar, maka keselamatan pasien lain pun otomatis terjamin. Selain itu, jika tenaga medis bekerja di bawah standar maka pasien memiliki hak untuk bersuara.

Tren Alat Sekali Pakai (Single Use) dan Sterilisasi

Mengenai isu keberlanjutan (sustainability) dan pengelolaan limbah, saat ini pelayanan kedokteran gigi semakin banyak menggunakan peralatan sekali pakai (single use only). Bahkan, peralatan seperti kaca mulut kini sudah mulai banyak yang berbahan sekali pakai lalu dibuang karena dinilai lebih murah dan efisien.

Di negara lain seperti Jepang, alat pengukur kedalaman saku gusi (joket gusi) sudah diterapkan sekali pakai lalu dibuang. Sementara di Indonesia, peralatan sejenis umumnya masih menggunakan metode sterilisasi bertahap karena harga alat sekali pakai yang relatif mahal, kecuali untuk kebutuhan riset lapangan ke masyarakat.

Meski demikian, sistem sterilisasi di fasilitas kesehatan saat ini dipastikan tetap aman karena melewati tahapan yang disiplin.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya