Liputan6.com, Jakarta - Penglihatan yang buram saat melihat benda dekat maupun jauh dapat menjadi salah satu tanda astigmatisme atau yang sering dikenal sebagai mata silinder. Kondisi ini merupakan gangguan refraksi yang membuat cahaya tidak terfokus secara merata pada mata sehingga objek terlihat kurang jelas.
Astigmatisme terjadi ketika kornea atau lensa mata memiliki bentuk yang lebih melengkung atau tidak beraturan. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata dibiaskan secara tidak merata dan tidak terfokus pada satu titik sebagaimana mestinya, dikutip Cleveland Clinic, Jumat (23/10/2026).
Advertisement
Mata normal umumnya memiliki bentuk yang menyerupai bola. Sementara itu, pada astigmatisme, bentuk kornea atau lensa dapat menyerupai bola rugby atau bagian belakang sendok. Perbedaan bentuk tersebut memengaruhi cara mata memfokuskan cahaya.
Penglihatan Buram hingga Sakit Kepala
Gejala astigmatisme yang paling umum adalah penglihatan buram. Pemilik mata silinder dapat mengalami kesulitan melihat detail objek, baik pada jarak dekat maupun jauh.
Bahkan, sebagian orang dapat mengalami penglihatan ganda atau melihat bayangan objek yang tampak bertumpuk.
Selain itu, ada beberapa gejala lain yang dapat menyertai astigmatisme, antara lain:
- Penglihatan lebih kabur atau berbayang.
- Menyipitkan mata untuk melihat objek dengan lebih jelas.
- Sakit kepala.
- Mata lelah atau tegang.
Gejala tersebut dapat terasa lebih mengganggu pada malam hari, ketika hujan, atau saat melihat lampu. Karena itu, seseorang yang merasa penglihatannya semakin buram atau mengalami perubahan penglihatan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter mata.
Pada anak-anak, astigmatisme terkadang lebih sulit dikenali karena mereka belum tentu menyadari bahwa penglihatannya bermasalah. Oleh karena itu, orang tua dapat memperhatikan tanda seperti anak sering menyipitkan mata, menggosok mata, atau mengalami sakit kepala berulang.
Penyebab Mata Silinder
Penyebab astigmatisme yang paling umum adalah bentuk kornea yang tidak beraturan, yang disebut astigmatisme kornea. Namun, gangguan refraksi tersebut juga dapat terjadi ketika bentuk lensa mata tidak beraturan, yang dikenal sebagai astigmatisme lentikular.
Sejumlah kondisi lain juga dapat berkaitan dengan astigmatisme, meskipun lebih jarang terjadi.
- Tekanan berlebih pada mata.
- Cedera mata.
- Kondisi mata seperti keratoconus atau lenticonus.
- Komplikasi setelah operasi mata.
- Bintitan.
Penanganan Mata Silinder
Sebagian besar kasus astigmatisme dapat ditangani menggunakan alat bantu penglihatan. Dokter mata dapat merekomendasikan kacamata atau lensa kontak sesuai kebutuhan pasien.
Pada kasus ringan yang tidak mengganggu penglihatan, seseorang mungkin belum memerlukan alat bantu koreksi. Meski demikian, pemeriksaan berkala tetap penting karena kondisi refraksi dapat berubah seiring waktu.
Pilihan lainnya adalah operasi koreksi penglihatan, seperti LASIK atau PRK (Photorefractive Keratectomy), yang bertujuan mengubah bentuk kornea agar cahaya dapat difokuskan dengan lebih tepat. Namun, prosedur ini tidak cocok untuk semua orang sehingga perlu didiskusikan dengan dokter mata.
Pada umumnya, astigmatisme dapat dikelola dengan penanganan yang sesuai. Kondisi ini tidak dengan sendirinya merusak mata atau meningkatkan risiko komplikasi. Dengan adanya pemeriksaan mata secara berkala, dapat membantu memantau perubahan penglihatan dan menentukan koreksi yang diperlukan.