Liputan6.com, Bandung - Osteoporosis kerap tidak disadari karena berkembang tanpa gejala klinis yang tak terdeteksi (silent disease). Seringkali baru terdeteksi ketika penderita mengalami patah tulang mendadak.
"Osteoporosis dikenal sebagai silent disease atau penyakit yang kerap tidak disadari karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Penderitanya mungkin baru mengetahui kondisi tersebut ketika mengalami patah tulang," kata dokter spesialis ortopedi Lusiana S Yulianti dalam konferensi pers Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 di Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (24/10/2026).
Advertisement
Lusiana mengungkapkan wanita memiliki potensi bahaya lebih besar mengalami osteoporosis. Satu dari lima perempuan berusia 50 tahun ke atas dan satu dari tujuh laki-laki berisiko tinggi mengalami osteoporosis. Perempuan lebih rentan usai menopause karena penurunan hormon estrogen.
"Sehingga sejatinya pencukupan nutrisi kalsium dan aktivitas fisik pembentukan tulang wajib dipupuk sejak usia muda," kata Lusiana mengutip Antara.
Ketua Umum DPP Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) Anita A Hutagalung pada kesempatan yang sama mengungkapkan pencegahan dini merupakan kunci utama agar masyarakat dapat mempertahankan kemandirian fisik hingga usia senja.
"Dari keropos tulang ini tentunya yang kita takutkan adalah patah tulang akibat osteoporosis, itu yang selalu kita gaungkan, jaga tulang, jaga ototmu, kuatkan ototmu ya untuk kita dapat bahagia di hari tua dan dapat mandiri di hari tua," ujar Anita.
Untuk menangkal ancaman keropos tulang secara terstruktur, Anita mengungkapkan Perwatusi memperluas program edukasi yang dirancang khusus untuk anak-anak, remaja, ibu muda, hingga lansia melalui latihan fisik terukur seperti chair exercise (senam kursi).
Perwatusi juga melancarkan gerakan sosialisasi digital melalui senam virtual yang telah menembus 925 episode dengan jangkauan peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, seperti Malaysia dan Virginia, Amerika Serikat.
Selain itu, Perwatusi menargetkan pencetakan 500 instruktur terkompetensi setiap tahunnya untuk memperkuat penetrasi informasi di daerah, dengan Jawa Barat sebagai salah satu fokus konsentrasi pengembangan program sepanjang tahun 2026.