7 Tanda Kekerasan Emosional dalam Hubungan yang Perlu Diwaspadai

Kenali 7 tanda kekerasan emosional dalam hubungan, mulai dari sikap mengontrol hingga manipulasi pasangan.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 27 Oktober 2026, 20:00 WIB
Kekerasan emosional dalam hubungan tidak selalu terlihat jelas. Sikap mengontrol, merendahkan, hingga melakukan manipulasi dapat merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental pasangan secara perlahan. (Foto: unsplash.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kekerasan dalam hubungan tidak selalu meninggalkan luka fisik. Seseorang juga bisa mengalami kekerasan emosional melalui perkataan, sikap, dan perilaku pasangan yang perlahan merusak kepercayaan diri serta kesehatan mentalnya.

Kekerasan emosional terkadang sulit dikenali karena dapat berkembang secara bertahap. Psikolog dan pakar kesehatan mental Sherry Benton mengatakan, “Hubungan yang penuh kekerasan emosional cenderung lebih terselubung,” seperti dikutip dari Brides, Selasa (27/10/2026).

Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya agar seseorang dapat memahami kondisi hubungan yang dijalani dan mencari bantuan jika diperlukan.

Kenali 7 Tanda Kekerasan Emosional dalam Hubungan

1. Mengontrol Kehidupan Pasangan

Pasangan yang melakukan kekerasan emosional cenderung ingin mengendalikan kehidupan orang lain. Mereka mungkin membatasi aktivitas, pergaulan, hingga keputusan yang diambil pasangan.

Dalam beberapa kasus, perilaku ini juga membuat seseorang menjauh dari keluarga dan teman-temannya. Akibatnya, korban bisa kehilangan dukungan sosial dan semakin bergantung pada pasangan.

2. Sering Membentak

Meninggikan suara dan membentak pasangan secara berulang dapat menjadi tanda kekerasan emosional. Perilaku ini bisa membuat seseorang merasa takut, tertekan, atau enggan menyampaikan pendapat karena khawatir memicu kemarahan.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam hubungan. Namun, melampiaskan kemarahan dengan cara yang mengintimidasi bukanlah bentuk komunikasi yang sehat.

3. Merendahkan Pasangan

Pasangan yang kerap menghina, mengejek, atau meremehkan kemampuan orang lain dapat merusak kepercayaan diri secara perlahan.

Ucapan yang merendahkan, terlebih jika dilakukan berulang kali, bisa membuat seseorang merasa tidak berharga dan mulai meragukan kemampuannya sendiri.

4. Bersikap Defensif dan Menghindari Komunikasi

Dalam hubungan yang tidak sehat, pasangan mungkin selalu bersikap defensif ketika diajak membicarakan masalah. Mereka juga bisa menolak berkomunikasi atau mendiamkan pasangan untuk menghukum dan mengendalikan situasi.

Perlu dibedakan antara mengambil jeda untuk menenangkan diri dan melakukan silent treatment. Mengambil waktu untuk meredakan emosi dapat membantu menyelesaikan konflik, sedangkan mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman bisa menjadi cara untuk memanipulasi hubungan.

5. Mengancam Pasangan

Ancaman juga termasuk tanda kekerasan emosional. Bentuknya dapat berupa intimidasi, pemerasan emosional, atau ancaman melakukan kekerasan fisik.

Ancaman tersebut bisa membuat seseorang merasa takut dan terpaksa mengikuti keinginan pasangan demi menghindari konflik atau konsekuensi yang mengancam keselamatannya.

6. Melakukan Gaslighting

Gaslighting merupakan bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan ingatan, penilaian, atau persepsinya sendiri.

Pakar kesehatan mental Wale Okerayi menjelaskan bahwa perilaku ini dapat membuat pengalaman dan perasaan seseorang seolah-olah tidak berarti. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa menurunkan kepercayaan diri serta memicu kecemasan dan rasa tidak aman.

7. Menunjukkan Perilaku yang Tidak Konsisten

Pasangan yang melakukan kekerasan emosional mungkin bergantian menunjukkan sikap kasar dan penuh kasih sayang. Setelah marah atau menyakiti pasangan, mereka bisa kembali bersikap manis, memberikan hadiah, atau menunjukkan perhatian.

Perubahan sikap tersebut dapat membuat seseorang bingung dalam menilai hubungannya. Meski naik turun emosi merupakan hal yang wajar, perhatian atau kebaikan setelah perlakuan buruk tidak menghapus dampak kekerasan yang terjadi berulang kali.

Apa yang Bisa Dilakukan Jika Mengalami Kekerasan Emosional?

Menurut Sherry Benton, perbedaan pendapat merupakan bagian normal dari hubungan yang sehat. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kedua pihak menghadapi dan menyelesaikan konflik tersebut.

Hubungan yang sehat tetap menjaga rasa hormat, bahkan ketika pasangan tidak sependapat. Sebaliknya, pola perilaku yang membuat seseorang merasa takut, tidak berharga, kehilangan kebebasan, atau tidak lagi menjadi dirinya sendiri perlu mendapat perhatian serius.

Jika mengalami kondisi tersebut, cobalah berbicara dengan keluarga atau teman tepercaya. Bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan untuk memahami situasi dan menentukan langkah selanjutnya.

Jika mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan, utamakan keselamatan dan susun rencana sesuai kondisi yang dihadapi. Hal ini terutama penting jika pasangan pernah mengancam atau berpotensi melakukan kekerasan fisik.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya