Bahaya Skinny Fat, Risikonya Bisa Lebih Tinggi dari Obesitas

Ada orang yang terlihat punya berat badan normal padahal setelah dicek komposisi tubuhnya memiliki otot tubuh rendah tapi lemak tinggi. Kondisi ini juga bahaya.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 08 Mei 2026, 15:00 WIB
Dokter spesialis gizi klinik, Putri Sakti (tengah) soal skinny fat dan obesitas, Jakarta (7/5/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Obesitas bukan sekadar masalah bentuk tubuh karena orang dengan berat badan normal juga bisa mengalami skinny fat. Menurut dokter spesialis gizi klinik, Putri Sakti, skinny fat atau normal weight obesity terjadi ketika otot tubuh rendah tapi lemak tinggi.

“Ada kondisi namanya skinny fat atau normal weight obesity dan ini berkaitan dengan komposisi tubuh. Jadi berat badan normal pun kalau ototnya rendah, lemaknya tinggi, dia juga punya risiko penyakit yang ternyata secara penelitian dua kali lipat lebih besar dibanding orang obesitas,” kata Putri dalam diskusi di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Sebelumnya, ia menerangkan bahwa mengenali obesitas dapat dimulai dengan mengetahui indeks massa tubuh. Ini adalah berat badan dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat. Bisa juga dilihat dari ukuran celana, perempuan dengan ukuran celana di atas 80 cm dan laki-laki di atas 90 cm itu tergolong obesitas.

“Itu obesitas sentral yang risiko penyakitnya sebetulnya sama dengan obesitas secara umum,” jelas Putri.

Dia menambahkan, obesitas adalah penyakit metabolik kronis dan bukan sekadar masalah bentuk tubuh. Maka dari itu, pengukuran obesitas secara mandiri saja tidak cukup, perlu periksa lebih dalam dengan bantuan tenaga medis. Mengingat, ada pula kondisi skinny fat yang perlu diwaspadai dan sulit dideteksi secara mandiri.

Obesitas Tingkatkan Risiko Serangan Jantung

Dalam kesempatan yang sama, dokter sekaligus pemengaruh Gia Pratama juga menerangkan pentingnya mencegah obesitas. Pasalnya, obesitas adalah salah satu faktor risiko dari serangan jantung dan stroke.

Data menunjukkan, usia rata-rata kejadian serangan jantung kian mundur dari 50-an menjadi 40-an.

"Di Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2013 angka perdana rata-rata kena serangan jantung di 50-an. Di 2023, maju 10 tahun, angkanya lebih muda yakni 41 tahun. Apa yang terjadi di 10 tahun yang akan datang kalau terus obesitas,” kata Gia.

Belajar dari Pengalaman

Gia juga bercerita bahwa dirinya sempat mengalami obesitas. Berat badannya bahkan pernah mencapai 100 kg.

“Iya, saya pikir dulu nurunin berat badan cuma 50 persen jaga makanan, 50 persen olahraga. Ternyata salah, jaga makanan cuma 20 persen, olahraga cuma 20 persen, 60 persennya niat dan keikhlasan menjalankan si 40 persen itu,” ujarnya.

Dengan berat badan berlebih, ia disadarkan bahwa proses menggemuk tidak terjadi dalam satu hari, begitu pula menurunkannya. Dia berkisah, satu peristiwa yang membuatnya mantap untuk menurunkan berat badan dan hidup lebih sehat adalah ketika ia dihadapkan dengan pasien jantung.

“Saya dihadapkan di depan wajah sendiri, pasien masalah jantung, pasiennya seumuran saya, tanggal lahirnya sama, 31 Agustus,” ucapnya.

Pasien itu juga obesitas sehingga membuat Gia sadar bahwa dirinya harus berubah demi menjaga kesehatan. Ia pun mulai melakukan olahraga disertai defisit kalori.

“Olahraga yang terbaik adalah olahraga yang dilakukan, bukan yang diangan-angan, bukan yang direncanakan, balik lagi ke niatnya,” katanya.

Meski begitu, sebagian orang kerap mengeluh tak punya waktu untuk olahraga karena kesibukan kerja sehari-hari. Menurut Gia, justru olahraga rutin dapat meningkatkan performa kerja.

“Justru kalau mau lebih produktif, kalau mau lebih bagus kinerjanya, ya harus olahraga, itu akan meningkatkan produktivitas. Olahraga yang cukup, nutrisi yang cukup, dan olahraga yang cukup, pasti lebih bagus kok performa kerjanya,” ujarnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya